Jakarta, CNBC Indonesia - Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz. Bahkan negeri itu kini mengancam semua kapal yang nekad lewat akan ditembak.
Hal ini menjadi eskalasi terbaru sejak serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke negara itu, Sabtu. Serangan yang dinamakan Trump Operasi Epic Furry itu sendiri menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei.
Akibatnya Iran membalas dendam dengan menembakkan rudal ke Israel dan negara Teluk yang menjadi basis pangkalan militer tentara Amerika, seperti Qatar, Bahrain, Kuwait, UEA dan Arab Saudi. Hizbullah, kelompok militer faksi Iran di Lebanon, juga mengatakan akan membela Iran dan membalas kematian Khamenei.
Mengutip Reuters dan Al Jazeera, pernyataan diberikan melalui laman Iran, Senin waktu setempat. Penutupan Selat Hormuz dan ancaman tembakan dikatakan seorang komandan di Korps Garda Revolusi Iran (IRGC)
"Selat itu ditutup. Jika ada yang mencoba melewatinya, para pahlawan Garda Revolusi dan angkatan laut reguler akan membakar kapal-kapal itu," kata Ebrahim Jabari, penasihat senior untuk panglima tertinggi IRGC, dimuat Selasa (3/3/2026).
Ia juga mengancam akan menyerang jalur pipa minyak. Bahkan membuat harga minyak melambung tinggi hingga US$ 200 per barel, dari harga saat ini.
"Kami juga akan menyerang jalur pipa minyak dan tidak akan membiarkan setetes pun minyak keluar dari wilayah ini. Harga minyak akan mencapai US$200 dalam beberapa hari mendatang," kata Jabbari.
"Amerika Serikat, dengan utang miliaran dolar, bergantung pada minyak di kawasan ini, tetapi mereka harus tahu bahwa bahkan setetes minyak pun tidak akan sampai kepada mereka," tambahnya dimuat kantor berita semi-resmi Tasnim.
Pernyataan Jabbari bukan gertakan kosong. Ini menjadi tantangan langsung bagi energi yang menopang pasar global.
Selat Hormuz, terletak di antara Iran dan Oman, adalah salah satu jalur transit minyak terpenting di dunia. Sekitar 20% pasokan minyak global melewatinya.
Mengutip Administrasi Informasi Energi AS, Selat Hormuz membawa 21 juta barel per hari minyak. Gangguan apa pun di sana akan semakin mendorong harga minyak mentah melonjak dan meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi regional.
Sejak perang dimulai, harga energi sudah naik tajam pada Senin pagi karena gangguan lalu lintas kapal tanker melalui selat tersebut. Kerusakan pada fasilitas produksi juga meningkatkan ketidakpastian tentang bagaimana serangan AS-Israel terhadap Iran akan memengaruhi pasokan ke ekonomi dunia.
Iran sebenarnya sempat mengancam menutup Selat Hormuz di 2019 karena ketegangan yang sama dengan Amerika. Namun hal itu tak dilakukan sepenuhnya.
Kemarin, minyak mentah Brent ditutup di harga US$ 80 per barel. JPMorgan memperkirakan pekan lalu bahwa gangguan Hormuz yang berkepanjangan dapat dengan mudah mendorong harga di atas US$120, dengan US$150 mungkin terjadi jika kapasitas Saudi terkena dampak langsung.
(sef/sef)
Addsource on Google

5 hours ago
2
















































