Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin
Ukuran Font
Kecil Besar
14px
GUNUNGSITOLI (Waspada.id): Tekanan inflasi yang sangat tinggi membebani masyarakat di wilayah Kepulauan Nias, khususnya Kota Gunungsitoli. Padahal, wilayah tersebut tidak terdampak langsung bencana banjir yang melanda sejumlah daerah di Sumatera Utara pada akhir November 2025 lalu.
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin menilai, kondisi inflasi di Gunungsitoli sudah berada pada level yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data terbaru, inflasi bulanan (month to month) Kota Gunungsitoli tercatat mencapai 6,94 persen, jauh di atas rata-rata inflasi bulanan Sumatera Utara yang hanya sebesar 1,66 persen.
“Angka inflasi Gunungsitoli ini bukan hanya paling tinggi di Sumatera Utara, tapi juga jauh melampaui inflasi kumulatif Sumut sepanjang 2025 yang berada di level 4,66 persen. Ini menunjukkan tekanan harga yang sangat ekstrem,” ujar Gunawan, Rabu (7/1/2025).
Menurutnya, lonjakan harga tersebut dipicu oleh terputusnya jalur distribusi barang dan jasa akibat bencana alam yang melanda wilayah Tapanuli, termasuk Kota Sibolga. Gangguan distribusi ini berdampak langsung terhadap pasokan kebutuhan pokok ke wilayah Nias yang selama ini sangat bergantung pada daerah lain.
“Kasus ini memperlihatkan bahwa secara fundamental, ketahanan pangan Nias masih sangat rapuh. Nias belum mampu mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangannya sendiri,” jelasnya.
Gunawan menegaskan, tingginya ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah membuat Nias sangat rentan ketika terjadi gangguan distribusi. Oleh karena itu, ia mendorong adanya terobosan kebijakan yang lebih radikal untuk membangun kemandirian pangan di wilayah kepulauan tersebut.
Ia menilai pemerintah daerah perlu bersinergi dengan masyarakat untuk menjadikan kemandirian pangan sebagai bagian dari mitigasi risiko bencana yang sulit diprediksi. Salah satu langkah strategis yang dapat ditempuh adalah membuka ruang investasi di sektor pangan.
“Pemerintah daerah harus mendorong investor untuk masuk dan mengembangkan industri pangan pokok seperti ayam, telur, daging sapi, serta kebutuhan pangan lainnya. Bahkan jika perlu, berikan insentif agar investor mau berproduksi di Nias,” katanya.
Selain itu, masyarakat juga perlu didorong untuk lebih aktif dalam produksi pangan skala rumah tangga. Gerakan menanam bahan pangan seperti cabai dan sayuran di pekarangan rumah dinilai dapat membantu menekan tekanan inflasi dari sisi konsumsi.
“Edukasi bercocok tanam dan pemanfaatan lahan harus diperkuat, disertai inovasi teknologi pertanian yang sesuai dengan karakteristik wilayah Nias,” tambah Gunawan.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya pengembangan industri pendukung pertanian, mulai dari penyediaan pupuk, pestisida, hingga sarana produksi pertanian lainnya. Hal ini dinilai krusial untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.
Gunawan juga mengingatkan bahwa bencana alam yang melanda Tapanuli, Kota Sibolga, Kabupaten Langkat, hingga wilayah Aceh dan Sumatera Barat telah membuktikan bahwa Nias menjadi daerah yang paling terdampak dari sisi tekanan harga.
“Daya beli masyarakat Nias saat ini mengalami tekanan yang sangat berat. Jika tidak ada pembenahan serius, inflasi tinggi ini bukan hanya menambah jumlah penduduk miskin, tapi juga berpotensi memicu ancaman kelaparan,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa pembenahan struktural pada sektor produksi pangan harus menjadi prioritas utama. “Jangan sampai masyarakat Nias terus mengalami penderitaan berulang hanya karena harga kebutuhan pokok yang terus melambung,” pungkas Gunawan. (id09)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.






















































