Indonesia Kurangi Ketergantungan Dolar, Transaksi Mata Uang Lokal Melonjak

3 hours ago 3
Ekonomi

12 April 202612 April 2026

Indonesia Kurangi Ketergantungan Dolar, Transaksi Mata Uang Lokal Melonjak

Ukuran Font

Kecil Besar

14px

JAKARTA (Waspada.id): Pemerintah Indonesia terus menggenjot penggunaan mata uang lokal melalui skema Local Currency Transaction (LCT) sebagai upaya strategis mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Hasilnya, nilai transaksi LCT melonjak tajam hingga 163% secara tahunan (year on year/yoy) pada awal 2026.

Berdasarkan data periode Januari–Februari 2026, nilai transaksi LCT mencapai US$ 8,45 miliar, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar US$ 3,21 miliar. Tak hanya dari sisi nilai, jumlah pengguna juga mengalami lonjakan pesat.

Pada Februari 2026, jumlah pengguna LCT tercatat sebanyak 14.621 dengan rata-rata bulanan mencapai 16.030 pengguna. Angka ini jauh melampaui rata-rata bulanan sepanjang 2025 yang hanya 9.720 pengguna.

Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ferry Irawan, menyebutkan bahwa pemanfaatan LCT kini semakin luas dan telah menjangkau berbagai sektor strategis sejak diluncurkan pada 2018.

“Pemanfaatan LCT telah meluas pada berbagai sektor utama, termasuk manufaktur, listrik dan gas, transportasi, perdagangan, dan jasa. Hal itu menunjukkan peran LCT sebagai instrumen nyata untuk memperkuat rupiah dan mendukung kegiatan sektor riil,” ungkap Ferry dalam keterangan resminya, dikutip Minggu (12/4/2026).

Pada 2025, Indonesia telah menjalin kerja sama dengan enam negara mitra utama dalam implementasi LCT, yakni Malaysia, Thailand, Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Kolaborasi bilateral ini ditujukan untuk memperdalam integrasi keuangan regional sekaligus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas negara.

Optimisme pemerintah semakin menguat seiring kinerja perdagangan nasional yang mencatat surplus sebesar US$ 1,27 miliar pada Februari 2026. Dengan mayoritas mitra dagang berasal dari negara dengan ekonomi non-dolar, peluang optimalisasi LCT melalui ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, minyak sawit, serta besi dan baja semakin terbuka lebar.

Untuk mempercepat adopsi LCT, pemerintah juga telah membentuk Gugus Tugas LCT Nasional yang melibatkan 10 kementerian dan lembaga. Langkah ini diharapkan mampu menyederhanakan proses bagi pelaku usaha sekaligus memberikan berbagai insentif guna mendorong penggunaan mata uang lokal.

“Melalui LCT juga, Pemerintah berkomitmen menyediakan fasilitas, insentif, dan proses yang disederhanakan bagi pelaku bisnis, guna meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya transaksi, dan memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional,” pungkas Ferry.

Pemerintah menilai, penguatan LCT menjadi langkah penting dalam meningkatkan efisiensi ekonomi, mengurangi risiko eksternal, serta memperkuat kerja sama keuangan global. Sinergi antara pemerintah, lembaga keuangan, dan pelaku usaha diharapkan mampu membangun ekosistem ekonomi yang lebih tangguh, terintegrasi, dan berkelanjutan. (invid)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |