Hormuz: “Hantu Kawasan” yang Mencabik Dunia

6 hours ago 5
Editorial

30 Maret 202630 Maret 2026

 “Hantu Kawasan” yang Mencabik Dunia

Ukuran Font

Kecil Besar

14px

“Jika semudah itu, Anda [Trump] takkan meminta kami membersihkan kekacauan yang Anda buat.” | François Heisbourg.

SELAT HORMUZ— Hormuz Strait, kini bukan jalur perkapalan biasa. Ia telah menjelma menjadi monster geopolitik yang  mengguncang fondasi ekonomi global. Seperti hantu merayap dalam mimpi buruk, ia menakut-takuti dunia dengan kekuatan mengerikan: kemampuannya untuk menghentikan denyut nadi energi dalam sekejap.

Bayangkan ini: setiap hari, 20,3 juta barel minyak—setara seperempat perdagangan minyak laut global—mengalir melalui celah sempit hanya 50 kilometer lebar ini. Lebih dari 80 persen dari “emas hitam” itu menuju Asia, menyuplai 93 persen kebutuhan minyak Jepang dan 68 persen Korea Selatan. Qatar mengirim 96 persen ekspor LNG-nya melalui jalur ini.  Satu sentakan, dan ekonomi dunia terjungkal.

Leon Panetta, mantan Direktur CIA dan Menteri Pertahanan AS, tak menahan diri. “Dia berada dalam posisi yang sangat sulit saat ini, tapi tidak ada orang lain yang bertanggung jawab atas kondisi ini selain Donald Trump,” ujarnya kepada The Guardian, menuding kekanak-kanakan seorang presiden yang bertindak “layaknya bocah”—berharap realitas berubah hanya karena ia mengatakannya berulang kali.

Naivitas itu kini berbuah pahit. Serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari tak kunjung meraih kemenangan telak. Pembunuhan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei justru memperkuat rezim teokratis, bukan menggulingkannya. Tiga belas prajurit AS tewas, kapal induk terbesar ditarik mundur, dan Trump kini terjebak dalam labirin tanpa jalan keluar.

Yang lebih mengerikan, Selat Hormuz kini menjadi kill zone—zona pembunuhan. Iran menguasai 1.000 mil garis pantai dengan lebih dari 1.000 kapal serang cepat, 2.000 ranjau laut, dan rudal anti-kapal berjangkauan 700 kilometer. Mereka tak perlu mencari target; cukup menunggu dalam bayang-bayang lembah dan pulau-pulau kecil. “Di perairan terbuka, kapal bisa mengubah rute; di selat sempit, opsi itu mustahil,” kata Kevin Rowlands dari Royal United Services Institute. Peringatan serangan? Hanya hitungan detik.

Analisis terbaru menunjukkan lalu lintas kapal anjlok dari 129 transit per hari menjadi cuma 4 transit pada 7 Maret 2026. Harga minyak melambung tinggi, ancaman resesi global mengintai. Trump memanggil NATO “pengecut” dan “macan kertas”, meminta bantuan untuk “manuver sederhana” membuka selat. François Heisbourg dari Foundation for Strategic Research menanggapi sinis: “Jika semudah itu, Anda takkan meminta kami membersihkan kekacauan yang Anda buat.”

Ironi pahit: Trump yang kerap mengancam keluar dari NATO dan mengolok-olok sekutu kini harus memohon pertolongan mereka. “Karma akan segera datang,” ujar Panetta terkekeh. Aliansi yang dihinanya kini menjadi tali penyelamat yang rapuh.

Militernya pun bimbang. Operasi membuka selat membutuhkan dua fase: pertama, menghancurkan kemampuan Iran menyerang—radar, komando, gudang senjata, dan ribuan drone yang bisa disembunyikan di mana saja. Kedua, kampanye jaminan keamanan dengan pesawat patroli, kapal perusak, dan—jika ranjau terdeteksi—operasi penyapuan yang memakan waktu berbulan-bulan. “Ranjau punya dua kepala: ledakan dan psikologis. Ancamannya saja cukup membuat kapal takut melintas,” kata pakar ranjau.

Solusi alternatif hampir mustahil. Pipa Saudi Aramco ke Laut Merah hanya mampu 5,5 juta barel per hari—sudah beroperasi maksimal. Pelabuhan Fujairah di UEA juga jadi sasaran serangan. Tidak ada jalan lain untuk memindahkan 20 juta barel per hari.

Panetta menawarkan solusi menyeramkan: AS harus menetralisir pertahanan Iran di pantai dan mengawal tanker, meski berisiko memperluas perang dan menelan korban jiwa. “Ini ujian apakah AS mampu mengatasi situasi. Jika tidak, kerusakan ekonomi akan berujung resesi global,” tegasnya. Satu-satunya jalan keluar: gencatan senjata, tapi Iran takkan berhenti mengancam dengan Hormuz sebagai senjata pamungkas.

Hantu itu terus merayap. Ia bukan lagi sekadar selat—ia adalah cermin dari ambisi tergelap dan perhitungan terburuk. Dan dunia hanya bisa menunggu, dengan napas tertahan, siapa yang berani menantang monster itu lebih dulu setelah AS dan ekonomi dunia “berdarah-darah” dicabik “hantu Kawasan” bernama: Hormuz Strait. Ini benar-benar menakutkan dunia!

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |