Heboh Sesar Kendeng Bisa Picu Gempa M7 di Jawa, Ini Rute-Penjelasannya

6 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi Sesar Kendeng sebagai salah satu zona patahan aktif di Pulau Jawa yang memiliki risiko kebencanaan tinggi. Sesar Kendeng sendiri adalah zona sesar aktif yang membentang dari barat ke timur sepanjang kurang lebih 300 kilometer di utara Pulau Jawa.

Struktur geologi tersebut menjadi perhatian pemerintah setempat lantaran jalurnya membentang melintasi wilayah perkotaan dengan kepadatan penduduk yang sangat tinggi di sepanjang Jawa Tengah hingga Jawa Timur.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang Ricko Kardoso menegaskan bahwa kewaspadaan terhadap sesar ini sangat diperlukan guna memitigasi dampak guncangan di daratan. Ia menyebutkan struktur patahan tersebut memiliki bentangan yang sangat luas dan membelah banyak kabupaten dan kota.

"Sesar Kendeng adalah salah satu zona sesar atau patahan aktif yang sangat diwaspadai di Pulau Jawa karena jalurnya yang padat penduduk," ujarnya dilansir Detik Jatim, dikutip Sabtu (20/6/2026).

Patahan tersebut terbagi ke dalam enam segmen utama yang meliputi Segmen Demak, Purwodadi, Cepu, Blumbang yang melintasi Lamongan, hingga Segmen Surabaya yang membelah jantung kota, serta Segmen Waru di Sidoarjo. Secara administratif, rute ancaman ini mencakup wilayah Salatiga, Grobogan, Blora, Madiun, Nganjuk, Jombang, Bojonegoro, hingga Kota Surabaya.

"Zona Sesar Kendeng melintang sepanjang kurang lebih 300 kilometer di bagian Utara Pulau Jawa, membentang dari selatan Semarang, Jawa Tengah hingga ke wilayah Jawa Timur," kata Ricko.

Bisa Picu Gempa M7

Berdasarkan pemutakhiran data dalam Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) 2024, Sesar Kendeng saat ini telah digabung penamaannya dengan Sesar Baribis dan Sesar Semarang menjadi sistem Java Back-arc Thrust. Pemetaan tersebut menunjukkan bahwa skenario terburuk dari aktivitas seismik di setiap segmennya berpotensi memicu gempa bumi dengan kekuatan yang merusak.

"Magnitudo tertarget dalam Pusgen 2024 yang dimungkinkan terjadi sebagai skenario terburuk dari tiap segmen sesar aktif di segmen tersebut bervariasi Magnitudo enam sampai tujuh," papar Ricko.

Struktur geologi itu sebenarnya memiliki pergerakan yang tergolong lambat, yakni sekitar 5 milimeter per tahun, yang berakibat pada periode ulang gempa besar yang cukup panjang. Meski aktivitas destruktif terakhirnya tercatat secara parah pada tahun 1915, rekam jejak sejarah mencatat sesar ini pernah memicu gempa dahsyat dengan estimasi kekuatan Magnitudo 6 hingga 7 pada tahun 1836 dan 1837 di wilayah Mojokerto dan Jombang.

"Sesar Kendeng adalah sesar dengan pergerakan lambat, sekitar 5 milimeter per tahun dan memiliki periode ulang gempa yang cukup panjang. Karena itu, gempa besar merusak atau destructive earthquake akibat sesar ini sebagian besar tercatat dalam sejarah masa lalu," tuturnya.

Selain itu, gempa kuat lainnya juga pernah melanda wilayah Madiun pada tahun 1862 dan 1915, serta merusak infrastruktur di wilayah Surabaya pada tahun 1867 silam. BMKG mencatat dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi aktivitas seismik berupa gempa-gempa dangkal berskala kecil hingga menengah dengan kekuatan Magnitudo 4 sampai 5 di sepanjang rute tersebut.

Berhubungan dengan Gempa Palu?

Pembahasan mengenai Sesar Kendeng sempat viral di media sosial setelah beberapa unggahan mengaitkan potensi aktivitasnya dengan peristiwa gempa Palu yang dikhawatirkan dapat merembet ke wilayah Bojonegoro.

Pakar Geologi ITS sekaligus peneliti senior Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) ITS Amien Widodo menjelaskan perbandingan posisi antara lokasi gempa di Sulawesi dengan Pulau Jawa. Ia memberikan klarifikasi ilmiah mengenai arah pergerakan sesar agar masyarakat tidak terjebak dalam kekhawatiran yang tidak perlu.

"(Palu) posisinya itu jauh sekali kan, di atas Jawa itu kan Kalimantan, terus Sulawesi sana ya. Nah, Sulawesi itu baru di atas Madura lah kiranya begitu. Nah, terus pergeseran sesarnya, pergeseran patahannya itu ke arah barat laut, jadi ke arah atas begitu, jadi miring terhadap Jawa itu miring. Jadi, enggak lurus langsung," ujar Amien.

Menurut hasil penelitian, aktivitas seismik di Palu berada pada kawasan Sesar Palu-Koro yang arah gerakannya menjauhi daratan Jawa. Dengan demikian, guncangan yang terjadi di wilayah tersebut secara teknis tidak akan merambat langsung atau memicu aktivitas pada sesar-sesar aktif yang ada di Pulau Jawa.

"Jadi, dia ada di tengah Palu, ada di daerah sesar Palu-Koro, di sebelah utaranya lagi malah gitu. Nah, itu bergeraknya itu menuju ke arah barat laut. Jadi, kalau utara barat itu namanya barat laut, kan menjauh dari Jawa tadi," jelas Amien.

Amien menambahkan, jika meninjau aktivitas Sesar Kendeng, faktor pemicu utamanya justru lebih mungkin berasal dari dorongan lempeng samudra di sisi lain. Aktivitas geologi di selatan Pulau Jawa dipandang memiliki kaitan yang lebih erat terhadap pergerakan patahan di daratan Jawa dibandingkan dengan aktivitas sesar di wilayah Sulawesi.

"Kalau di Jawa itu memang ada sesar-sesar juga tadi, Sesar Kendeng misalnya tadi. Nah, Sesar Kendeng itu kemungkinan yang mempengaruhi adalah megathrust yang ada di Selatan Jawa kemungkinan. Karena dia didorong dari Selatan begitu," pungkasnya.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |