Ukuran Font
Kecil Besar
14px
JAKARTA (Waspada.id): Lonjakan harga plastik dalam beberapa waktu terakhir mulai menekan kinerja sektor industri. Kenaikan ini menjadi sinyal kuat adanya gangguan pada rantai pasok global bahan baku, sekaligus mempertegas bahwa plastik kini bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga tantangan ekonomi yang serius.
Melansir investor.id, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyatakan, kenaikan harga plastik dipicu oleh terganggunya pasokan bahan baku, yang berdampak langsung pada ketersediaan dan distribusi di pasar. Kondisi tersebut mulai dirasakan pelaku usaha karena berpotensi menggerus margin dan meningkatkan biaya produksi.
Tekanan ini dinilai meluas ke berbagai sektor. Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyebut plastik sebagai komoditas antara yang menopang banyak industri.
“Ketika pasokan terganggu, dampaknya tidak hanya di tingkat produsen, tetapi juga bisa menjalar ke konsumen melalui kenaikan harga dan tekanan daya beli,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).
Bagi konsumen, kondisi ini berpotensi memicu kenaikan harga produk sehari-hari, khususnya yang menggunakan kemasan plastik. Kenaikan biaya produksi di tingkat industri umumnya akan diteruskan ke harga jual, sehingga mendorong masyarakat menjadi lebih selektif dalam berbelanja.
Pelaku usaha, termasuk sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), juga mulai merasakan dampaknya. Kenaikan harga bahan baku kemasan berisiko menggerus margin usaha jika tidak diimbangi penyesuaian harga jual.
Situasi ini mendorong pelaku industri untuk meninjau ulang ketergantungan terhadap plastik baru sebagai bagian dari strategi bisnis. Pendekatan berbasis produksi sekali pakai (single-use) dinilai semakin rentan terhadap dinamika global, sehingga memicu pergeseran menuju model yang lebih efisien seperti penggunaan ulang (reuse) dan isi ulang (refill).
Perubahan tersebut mulai terlihat di sejumlah sektor, termasuk industri air minum. PT Biru Semesta Abadi melalui layanan Air Minum Biru menjadi salah satu pelaku usaha yang lebih dulu mengadopsi sistem distribusi berbasis isi ulang dengan galon milik pelanggan.
Direktur perusahaan, Yantje Wongso, mengatakan bahwa model bisnis tersebut membuat perusahaan lebih adaptif terhadap fluktuasi harga dan pasokan plastik.
“Dalam kondisi seperti sekarang, ketahanan sistem menjadi semakin penting. Kami sejak awal meminimalkan ketergantungan pada plastik baru,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan reuse dan refill tidak hanya berdampak positif bagi lingkungan, tetapi juga menciptakan sistem operasional yang lebih stabil di tengah ketidakpastian pasokan bahan baku.
Dengan tekanan global yang masih berlangsung, pelaku industri diperkirakan akan semakin terdorong membangun sistem yang lebih resilien. Selain menjaga efisiensi biaya, langkah ini juga penting untuk memastikan keberlanjutan usaha di tengah dinamika rantai pasok global yang kian kompleks. (invid)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.


















































