Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melanjutkan tren penurunan.
Merujuk Refiniv, harga batu bara pada perdagangan Selasa (7/7/2026) ditutup di posisi US$ 127,95 per ton. Harganya 0,23%.
Pelemahan ini memperpanjang derita batu bara yang sudah turun 1,2% dalam lima hari beruntun.
Dikutip dari Bigmint, sejumlah sentimen kini menghantui harga batu bara.
Pasar batu bara termal Asia memasuki fase koreksi yang cukup tajam seiring melemahnya permintaan dari China. Negara tersebut selama ini menjadi penopang utama harga batu bara di kawasan.
Pelemahan yang awalnya hanya terjadi di pasar domestik China kini telah menyebar ke pasar batu bara laut (seaborne), sehingga menyeret turun harga batu bara acuan Newcastle Australia, harga FOB Indonesia, hingga harga batu bara impor di India.
Kondisi pasar kini berbalik dibandingkan Mei hingga awal Juni, ketika kekhawatiran terhadap pasokan, ketidakpastian ekspor Indonesia, dan permintaan musiman sempat menopang harga.
Kini, stok batu bara pembangkit listrik di Asia berada pada level yang nyaman, aktivitas industri melemah, pasokan batu bara domestik di China dan India melimpah, serta datangnya musim hujan di India membuat aktivitas pembelian semakin berkurang.
China Buat Harga Batu Bara Makin Ambruk
Pasar batu bara domestik China melemah cepat dalam dua pekan terakhir, menghilangkan salah satu faktor utama yang menopang harga batu bara Asia.
Kekhawatiran mengenai inspeksi tambang, gangguan pasokan, serta keterbatasan ekspor Indonesia mulai mereda. Sebaliknya, pasar kini dihadapkan pada kondisi persediaan yang meningkat dan konsumsi yang melambat.
Pembangkit listrik di China memiliki stok yang mencukupi. Persediaan di pelabuhan-pelabuhan utara terus bertambah, terminal di China Selatan hampir penuh, sementara kapal pengangkut batu bara impor mulai mengalami keterlambatan bongkar muat.
Curah hujan yang tinggi meningkatkan produksi listrik tenaga air sehingga mengurangi konsumsi batu bara. Di sisi lain, konsumen industri seperti pabrik semen dan produsen bahan kimia hanya membeli batu bara sesuai kebutuhan jangka pendek.
Harga batu bara di mulut tambang turun sekitar 5-20 yuan per ton di sejumlah wilayah produksi karena pembeli mulai lebih berhati-hati.
Tarif angkutan batu bara domestik juga turun tajam. Tarif pengiriman dari Qinhuangdao ke Shanghai merosot dari US$7,09 per ton pada pertengahan Juni menjadi hanya US$3,12 per ton pada awal Juli, mencerminkan perlambatan distribusi batu bara di pesisir China.
Harga Batu Bara Ekspor Australia Turun
Harga batu bara Newcastle Australia turun dari kisaran US$150-an per ton sekitar tiga pekan lalu menjadi sekitar US$130 per ton pada pekan lalu. Kondisi ini terjadi karena pembelian dari China hampir menghilang, sementara utilitas di negara-negara Asia lainnya masih memiliki stok yang cukup.
Hilangnya permintaan spot dari China membuat pasar semakin lemah. Pembeli hanya memenuhi kebutuhan jangka pendek sedangkan penjual mulai lebih bersedia menurunkan harga.
Kontrak berjangka di SGX juga mengindikasikan harga masih berpotensi melemah pada paruh kedua tahun ini karena persediaan diperkirakan tetap tinggi hingga kuartal III.
Pasar Batu Bara Indonesia Ikut Melemah
Kewajiban Domestic Market Obligation (DMO) dan peningkatan pasokan ke PT Perusahaan Listrk Negara (PLN) masih menyerap sebagian produksi batu bara kalori menengah Indonesia ke pasar domestik.
Sejumlah produsen melaporkan sebagian besar produksi batu bara GAR 5.000 kini dialokasikan untuk kebutuhan dalam negeri setelah terjadinya gangguan pasokan listrik.
Namun, keterbatasan pasokan tersebut tidak lagi mampu menahan pelemahan harga.
Pembeli dari China terus menawar dengan agresif.
Batu bara yang sebelumnya dibeli trader pada harga tinggi kini mulai dijual dengan diskon. Selain itu, ekspektasi pemerintah akan menyetujui tambahan kuota produksi RKAB pada paruh kedua tahun ini juga menekan sentimen pasar.
Akibatnya, harga batu bara FOB Indonesia terus turun pada hampir seluruh spesifikasi kalori.
Impor batu Bara India Tetap Lemah
Musim hujan di India dan melimpahnya pasokan batu bara domestik membuat permintaan impor semakin rendah.
Coal India terus menawarkan volume lelang yang besar, sementara stok di area tambang masih tinggi sehingga pembangkit listrik lebih mengandalkan batu bara domestik.
Impor kini hanya dilakukan untuk kebutuhan pencampuran (blending) atau pembangkit yang memang dirancang menggunakan batu bara impor.
Harga batu bara Indonesia maupun Afrika Selatan di pelabuhan India terus melemah karena pembeli menunda pembelian dengan harapan harga akan turun lebih lanjut.
Produsen baja berbasis sponge iron juga berhati-hati akibat lemahnya permintaan baja. Sementara itu, produsen semen mulai beralih menggunakan petroleum coke (petcoke) setelah harga petcoke internasional turun lebih dari US$20 per ton dibandingkan puncaknya pada Mei.
Dengan kondisi tersebut, India kini lebih bersifat sebagai importir yang sensitif terhadap harga daripada menjadi motor utama permintaan batu bara Asia.
Tarif Angkutan Kapal Ikut Turun
Tarif pengiriman batu bara dari Kalimantan Timur ke India bagian barat terus melemah karena berkurangnya permintaan ekspor Indonesia.
Rute dari Richards Bay, Afrika Selatan, juga mengalami pelemahan akibat semakin sedikitnya kontrak pengiriman.
Sementara itu, tarif pengiriman dari Australia relatif stabil, terutama karena terbatasnya ketersediaan kapal, bukan karena meningkatnya permintaan batu bara.
Penurunan harga bahan bakar kapal memang membuat biaya angkut lebih murah, tetapi belum mampu mendorong peningkatan pembelian batu bara.
Bagaimana Prospek Harga Batu Bara ke Depan?
China kini berubah dari penopang harga batu bara Asia menjadi faktor utama yang mendorong koreksi harga.
Dampaknya menyebar ke Australia, Indonesia, dan India melalui penurunan aktivitas pembelian, melemahnya tarif angkutan, serta turunnya harga batu bara di pasar internasional.
Selama permintaan listrik di Asia Utara tidak meningkat tajam akibat gelombang panas musim panas atau tidak terjadi gangguan pasokan baru, kombinasi stok yang tinggi, lemahnya aktivitas industri, potensi kenaikan ekspor Indonesia, serta rendahnya impor India diperkirakan akan terus menekan harga batu bara termal Asia sepanjang Juli dan kemungkinan berlanjut hingga sebagian besar kuartal III.
(mae/mae)
Addsource on Google

4 hours ago
2

















































