Harga Batu Bara Jatuh ke Level Terendah 2 Bulan, Ada Apa?

3 hours ago 2

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

28 June 2026 07:15

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara mencatatkan penurunan di tengah bervariasinya sentimen yang memengaruhi pasar kawasan Asia.

Berdasarkan data perdagangan terakhir pada Jumat (26/6/2026), harga kontrak berjangka batu bara Newcastle ditutup pada level US$ 126 per ton. Posisi ini menunjukkan pelemahan sebesar 1,95% dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level US$ 128,5 per ton.

Dengan hasil tersebut, harga batu bara telah mengalami penurunan sebesar 2,36% dalam dua hari perdagangan berturut-turut. Harga penutupan ini juga merupakan titik terendah sejak 21 April 2026.

Penurunan harga batu bara ini terjadi di tengah dinamika permintaan dan pasokan energi di kawasan Asia. Impor batu bara termal melalui jalur laut di Asia tercatat meningkat. Hal ini didorong oleh Tiongkok yang menambah volume impor untuk mengompensasi penurunan produksi domestik, serta Jepang dan Korea Selatan yang berupaya menjaga ketahanan energi mereka.

Berdasarkan proyeksi dari perusahaan analisis komoditas Kpler, volume impor batu bara termal di kawasan Asia diperkirakan mencapai 77,37 juta metrik ton pada Juni 2026, yang merupakan angka tertinggi dalam enam bulan terakhir.

Volume ini meningkat dibandingkan 68,39 juta ton pada Mei 2026. Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya (63,24 juta ton), estimasi impor bulan Juni ini menunjukkan kenaikan sekitar 22,3%.

Peningkatan impor ini secara signifikan dipengaruhi oleh kebijakan energi Jepang dan Korea Selatan, dua negara yang memiliki fleksibilitas dalam mengalihkan sumber pembangkit listrik antara batu bara dan gas alam cair (LNG).

Dampak Harga LNG terhadap Permintaan Batu Bara

Harga LNG di pasar spot sebelumnya mengalami kenaikan sebagai dampak dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah pada akhir Februari 2026 yang memengaruhi jalur distribusi logistik energi global.

Walaupun harga LNG saat ini telah mengalami penyesuaian, posisinya masih berada pada tingkat yang relatif lebih tinggi dibandingkan kondisi sebelum terjadinya konflik.

Tingginya harga LNG tersebut menjadikan batu bara termal sebagai alternatif sumber energi yang lebih ekonomis. Meskipun harga batu bara juga sempat mengalami kenaikan, selisih biaya energi yang ada tetap mendorong sejumlah perusahaan utilitas listrik di Jepang dan Korea Selatan untuk memprioritaskan penggunaan batu bara.

Jepang, sebagai importir batu bara terbesar ketiga secara global, diperkirakan akan mendatangkan 7,82 juta ton batu bara termal pada Juni 2026. Estimasi ini merupakan peningkatan volume bulanan ketiga secara beruntun. Sementara itu, impor Korea Selatan diproyeksikan mencapai 7,30 juta ton, yang merupakan level tertinggi sejak awal tahun.

Peningkatan Impor Tiongkok dan Dinamika Domestik

Tiongkok, importir batu bara terbesar di dunia, turut mencatatkan peningkatan pembelian. Impor batu bara termal melalui jalur laut diestimasikan mencapai 27,65 juta ton pada Juni 2026, menjadikannya yang tertinggi dalam enam bulan terakhir.

Berbeda dengan Jepang dan Korea Selatan, peningkatan impor Tiongkok lebih didorong oleh kondisi pasar di dalam negeri. Permintaan listrik yang bersumber dari pembangkit termal mengalami peningkatan, sementara produksi batu bara domestik menunjukkan tren penurunan.

Pengetatan inspeksi keselamatan di berbagai area pertambangan menyusul insiden kecelakaan kerja berdampak pada berkurangnya hasil produksi dan naiknya harga batu bara domestik.

Pada tingkat harga domestik yang lebih tinggi, batu bara impor dengan kualitas menengah maupun rendah menjadi pilihan yang lebih kompetitif bagi perusahaan pembangkit listrik di Tiongkok, sehingga mendorong peningkatan impor.

Penurunan Pembelian oleh India

Berbeda dengan negara-negara di kawasan Asia Timur, India menunjukkan tren impor yang relatif stabil dengan kecenderungan menurun. Estimasi impor batu bara termal India melalui jalur laut diperkirakan sebesar 12,32 juta ton pada Juni 2026.

Tingkat harga batu bara global saat ini membuat sejumlah perusahaan pembangkit listrik di India menahan aktivitas pembelian yang berlebihan. Sebagai alternatif, India mengoptimalkan pemanfaatan persediaan batu bara yang ada dan secara progresif terus meningkatkan proporsi penggunaan energi terbarukan.

Tercatat, produksi listrik dari energi terbarukan di India mengalami pertumbuhan yang signifikan, menyumbang rekor baru terhadap total pembangkitan listrik nasional mereka.

(gls/gls)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |