- Pasar keuangan Indonesia akhirnya kompak menguat, IHSG dan rupiah sama-sama ada di zona hijau
- Wall Street ambruk berjamaah karena jatuhnya saham teknologi
- Data ekonomi dalam negeri serta kebijakan pemerintah serta perkembangan di luar negeri akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri kompak menguat pada Selasa (3/2/2026). Bursa saham dan rupiah akhirnya sama-sama bisa berakhir di zona hijau di hari yang sama.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan bisa melanjutkan penguatan hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses berbalik menguat tajam setelah sempat tertekan di awal perdagangan. Indeks ditutup melonjak 2,52% ke level 8.122,6, usai sempat jatuh hingga 2,07% ke level terendah intraday 7.758,46 sebelum bangkit dan kembali ke zona hijau.
Penguatan ditopang mayoritas sektor saham, dengan bahan baku memimpin lonjakan 5,8%, disusul properti 4,86%, serta energi dan industri yang masing-masing menguat di atas 2,8%.
DCI Indonesia (DCII) menjadi motor utamaIHSG dengan kontribusi 23,12 indeks poin, diikuti saham-saham besar seperti ASII (PT Astra International Tbk), AMMN (PT Amman Mineral Internasional Tbk), BUMI (PT Bumi Resources Tbk), dan TPIA (PT Chandra Asri Pacific Tbk).
Sementara tekanan datang dari FILM (PT MD Pictures Tbk) dan MORA (PT Mora Telematika Indonesia Tbk) yang menyentuh auto reject bawah.
Sebanyak 654 saham menguat, 108 melemah dan 56 stagnan. Investor asing mencatat net sell sebesar Rp 834,07 miliar pada perdagangan kemarin, setelah sempat mencatat net buy pada Senin.
Beralih ke pasar valas nilai tukar rupiah bergerak positif pada perdagangan Selasa (3/2/2026), dengan ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Merujuk data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan dengan apresiasi 0,18% ke posisi Rp16.755/US$. Kinerja ini berbalik arah dibanding penutupan perdagangan sebelumnya, ketika rupiah melemah tipis 0,03% di level Rp16.785/US$.
Penguatan rupiah hari ini sejalan dengan pelemahan dolar AS di pasar global. Dolar kembali turun setelah sempat pulih dalam beberapa hari terakhir usai pencalonan Kevin Warsh sebagai kandidat ketua Federal Reserve memunculkan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat.
Namun, pelaku pasar menilai kondisi fundamental yang mendorong tren pelemahan dolar belum berubah, sementara ketidakpastian kebijakan AS tetap tinggi. Tekanan juga datang dari isu fiskal, setelah otoritas tenaga kerja AS menyatakan rilis data ketenagakerjaan nonfarm payrolls yang dijadwalkan Jumat berpotensi tertunda akibat partial government shutdown.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik tipis ke 6,34% pada perdagangan kemarin, dari 6,33% pada perdagangan sebelumnya.

3 hours ago
6















































