Dibuat Tegang Kemarin, Hari Ini Investor Siaga Hadapi Gejolak dari AS

2 hours ago 2
  • Pasar keuangan domestik ditutup beragam, IHSG dan rupiah mengalami pelemahan sementara SBN menguat
  • Wall Street berpesta proa meski ada kabar mengejutkan dari The Fed
  • Rilis data Inflasi AS serta kondisi stabilitas politik Iran menjadi penggerak pasar pada kemarin

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia bergerak beragam pada perdagangan Senin. Pasar saham dan rupiah ambruk tetapi obligasi masih diburu investor.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan membaik pada kemarin. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil memangkas koreksi pada akhir perdagangan kemarin, Senin (12/1/2025). IHSG ditutup turun 52 poin atau terkoreksi 0,58% ke 8.884,72.

Sebelumnya pada perdagangan sesi kedua tepatnya pukul 14.20 WIB IHSG mendadak ambruk 2,47%, namun beberapa menit setelahnya mampu memangkas koreksi signifikan hingga kurang dari 1%.

Pada akhir perdagangan kemarin sebanyak 279 saham turun, 435 naik, dan 97 tidak bergerak. Nilai transaksi tergolong sangat ramai atau mencapai Rp 40,10 triliun, melibatkan 74,41 miliar saham dalam 5,07 juta kali transaksi.

Mayoritas sektor perdagangan berada di zona merah dengan pelemahan terbesar dicatatkan oleh sektor infrastruktur dan barang baku. Hanya sektor industri dan kesehatan yang menguat kemarin.

Saham konglomerat menjadi beban utama kinerja IHSG kemarin, dengan kontribusi terbesar dibukukan oleh dua emiten milik Prajogo Pangestu yakni BREN (PT Barito Renewables Energy Tbk) dan BRPT (PT Barito Pacific Tbk). Keduanya menyumbang total pelemahan 33 indeks poin.

Kemudian ada juga saham AMMN (PT Amman Mineral Internasional Tbk) dan BUMI  (PT Bumi Resources Tbk) yang ikut mengerek IHSG turun.

Sejumlah analis pun buka suara terkait ambruknya IHSG secara tiba-tiba. Head of Research Retail MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengungkapkan koreksi dalam kemarin terjadi karena adanya aksi profit taking di saham-saham energi.

"Kami mencermati koreksi dari IHSG ini dibebani oleh emiten-emiten energi yang tadi sempat terkoreksi kurang lebih 2%, dimana kami perkirakan adanya kemungkinan aksi ambil untung setelah beberapa emiten energi menguat signifikan. Dan saat ini nampak IHSG kembali rebound meskipun masih berada di teritori negatif," ungkap Herditya kepada CNBC Indonesia, dikutip Senin (12/1/2025).

Sementara itu, Ekonom sekaligus Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengaitkan koreksi dalam ini dengan gejolak geopolitik global.

"Hemat saya berkaitan dengan dinamika geopolitik. Terus, terdapat aksi profit taking saham energi turut merupakan indikasi sebagai salah satu penyebab terkoreksinya IHSG," terang Nafan.

Lanjut ke rupiah, nilai tukar rupiah mengalami tekanan dari dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan pertama pekan ini, Senin (12/1/2026).

Melansir data Refinitiv, kurs rupiah berada di level Rp16.825/US$ atau mengalami pelemahan sebesar 0,18% pada penutupan perdagangan kemarin. Level penutupan ini sekaligus menjadi level penutupan rupiah di atas level psikologis Rp16.800/US$ yang terakhir kali tercatat pada 28 April 2025.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) per pukul 15.00 WIB terpantau tengah mengalami pelemahan 0,31% di level 98,826.

Pergerakan rupiah kemarin sebetulnya mendapatkan dorongan dari pelemahan dolar AS di pasar global. DXY yang melemah menandakan adanya pelaku pasar keluar dari aset berdenominasi dolar dan bisa mendorong penguatan mata uang negara berkembang termasuk rupiah. Tapi sayangnya rupiah masih belum mampu memanfaatkkanya.

Pelemahan dolar AS di pasar global terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian kebijakan di Amerika Serikat, khususnya terkait eskalasi konflik antara Presiden AS Donald Trump dan bank sentral AS (The Federal Reserve).

Pasar bereaksi terhadap kabar bahwa pemerintahan Trump disebut mengancam akan menjerat Ketua The Fed Jerome Powell terkait kesaksian di Kongres mengenai proyek renovasi gedung The Fed. Powell menilai isu tersebut sebagai dalih untuk meningkatkan tekanan politik terhadap independensi bank sentral dan arah kebijakan moneter.

Sementara di pasar obligasi negara, yield SBN 10 tahun ditutup pada zona menguat dari level 6,15%  pada penutupan perdagangan pekan lalu ke level 6,13%  pada penutupan kemarin Senin (12/1/2026).

Penguatan yield ini menandai adanya kenaikan harga SBN karena diburu investor.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |