Alarm Bahaya! Ekspor RI Kian Merosot di 2026

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Kinerja ekspor Indonesia berpotensi mengalami tekanan pada 2026, mendorong kian susutnya surplus neraca perdagangan yang telah terjaga selama 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Chief Economist Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan, kondisi ini akan lebih dipicu oleh mulai normalnya permintaan barang dari negara-negara mitra dagang utama Indonesia, terutama Amerika Serikat, setelah importir dari negara itu memupuk banyak barang dari RI pasca pengumuman tarif resiprokal oleh Presiden Donald Trump pada 2025.

"Karena ada front running dari importir AS yang mempercepat impornya. Tadinya mereka khawatir tarifnya segera diterapkan, tapi dalam tanda kutip kita dikibulin terus sama Trump terakhir November (pelaksanaan tarif resiprokal) tapi enggak jadi juga," tegas David saat ditemui di kantornya, Jakarta, Senin (12/1/2026).

"Jadi mereka sebenarnya di sana (AS) barang lumayan menumpuk. Jadi saya pikir di kuartal I enggak akan digenjot lagi oleh mereka untuk persediaan barang di sana. Jadi mungkin bisa lebih lambat apalagi harga komoditas belum bergerak," tegasnya.

Pada November 2025 saja total ekspor Indonesia telah minus 6,60% secara tahunan menjadi hanya senilai US$ 22,52 miliar dari sebelumnya pada November 2024 masih mampu mencatatkan nilai ekspor sebesar US$ 24,11 miliar.

Seluruh komoditas ekspor Indonesia mengalami penurunan kinerja. Terbesar dari sektor migas yang minus 32,88% sedangkan non migas minus 5,09%. Dari sektor non migas, penurunan terdalam dari ekspor pertambangan yang minus 22,28%, diikuti pertanian 6,09%, dan industri minus 1,46%.

Di sisi lain, China sebagai negara tujuan utama ekspor Indonesia, pertumbuhan ekonominya juga tak kunjung pulih. Prospeknya pun kata tim ekonom BCA masih akan mengalami tekanan pada 2026, hingga berpotensi menekan permintaan komoditas andalan ekspor Indonesia ke negara itu, seperti produk nikel, hingga batu bara.

"Konsensus banyak institusi internasional kan juga untuk China masih melambat tahun depan, jadi meskipun suku bunga turun, likuiditas global membaik, tapi makanya kita bilang recovery commodity price terbatas karena faktor China," ucap Head of Banking Research and Analytics Economy BCA Victor George Petrus Matindas.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso sebelumnya juga mengungkapkan, target pertumbuhan ekspor RI pada 2026 hanya akan mencapai 7,09%. Angka ini sedikit di bawah target pertumbuhan ekspor pada 2025 yang dipatok sebesar 7,1%.

Mendag Budi pun membeberkan alasan di balik turunnya target pertumbuhan ekspor 2026. Menurutnya, meski lebih rendah, target itu dipastikan tetap tetap sejalan dengan rencana besar mendorong ekonomi nasional tumbuh 8%.

"Kan target ekspor kita tahun depan 7,09% ya. Kita sudah membuat mapping sampai 2029, tahun depan itu 7,09%, tahun ini 7,1%. 7,1% itu mudah-mudahan tercapai ya, karena sekarang kan 6,96%. November sih mudah-mudahan naik, jadi ketutup ya," kata Budi kepada wartawan di kantornya, Jakarta, Jumat (12/12/2025).

Ia menegaskan, penurunan tipis target tersebut bukan karena pelemahan, melainkan karena lonjakan basis pertumbuhan ekspor pada tahun-tahun sebelumnya.

"Nah tahun depan kan 7,09% sementara tahun ini 7,1% kenapa turun? Karena kita startnya kan sudah tinggi. Tahun lalu kan 2,7% ekspor tumbuhnya ya, realisasi ekspor tahun 2024 dari tahun 2023 itu 2,7%, setelah itu terus 2024 ke 2025 ini targetnya kan 7,1%. Artinya kan startnya lompat ya, makanya tahun depan itu 7,09%," jelasnya.

Meski target ekspor 2026 sedikit lebih rendah 0,1%, Kemendag tetap optimistis. Salah satu pendorongnya adalah sederet perjanjian dagang yang mulai berlaku penuh tahun depan.

"Kita optimis, kenapa? karena banyak perjanjian dagang juga sudah selesai. Tahun depan kan banyak yang sudah implementasi," kata Budi.

(arj/haa)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |