Jakarta, CNBC Indonesia - Tren penimbunan cadangan emas oleh bank-bank sentral dunia terus berlanjut di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Tidak hanya membeli lebih banyak emas, sejumlah bank sentral kini juga mulai memindahkan penyimpanan logam mulia tersebut lebih dekat ke dalam negeri, mengurangi ketergantungan pada pusat penyimpanan tradisional di luar negeri seperti Inggris dan Amerika Serikat.
Temuan itu terungkap dalam survei tahunan cadangan emas bank sentral yang dirilis World Gold Council (WGC), sebagaimana dikutip CNBC International, Rabu (17/6/2026). Laporan tersebut menunjukkan bahwa emas masih dipandang sebagai aset strategis untuk melindungi nilai kekayaan negara dari inflasi, gejolak geopolitik, hingga risiko mata uang, meskipun harga emas sempat mengalami koreksi selama konflik Iran.
Menurut survei yang dilakukan antara Februari hingga Mei dan melibatkan 74 bank sentral dari berbagai negara tersebut, bahwa minat bank sentral terhadap emas masih sangat kuat. Dalam empat tahun terakhir, bank-bank sentral secara rata-rata membeli sekitar 1.000 ton emas per tahun, atau dua kali lipat dibandingkan rata-rata pembelian pada dekade sebelumnya.
Sebanyak hampir sembilan dari 10 bank sentral yang berpartisipasi dalam survei memperkirakan total cadangan emas bank sentral global akan terus meningkat dalam 12 bulan mendatang. Sementara itu, 45% responden memperkirakan cadangan emas yang mereka miliki sendiri juga akan bertambah.
Hanya sekitar 1% yang memperkirakan terjadi penurunan cadangan.
Selain menunjukkan tren pembelian emas yang tetap kuat, survei juga mengungkap perubahan strategi penyimpanan cadangan emas. Makin banyak bank sentral memilih menyimpan porsi yang lebih besar dari emas mereka di dalam negeri dibandingkan di lokasi penyimpanan internasional yang selama ini menjadi pilihan utama, seperti Bank of England atau Federal Reserve Bank of New York.
Sebanyak 9% responden menyatakan telah meningkatkan porsi penyimpanan emas di dalam negeri selama 12 bulan terakhir. Angka tersebut meningkat dibandingkan 5% pada survei tahun sebelumnya.
Pada saat yang sama, 10% responden menyatakan telah mendiversifikasi lokasi penyimpanan emas mereka di luar negeri. Angka itu melonjak dari hanya 2% pada survei sebelumnya.
Para analis menilai perubahan tersebut tidak terlepas dari memburuknya hubungan geopolitik global dalam beberapa tahun terakhir.
Invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 dan pembekuan sekitar US$300 miliar aset luar negeri Rusia oleh negara-negara Barat memicu kekhawatiran baru di kalangan bank sentral mengenai akses terhadap cadangan yang disimpan di luar negeri ketika terjadi ketegangan politik.
Analis komoditas UBS Giovanni Staunovo mengatakan kekhawatiran mengenai akses terhadap aset yang disimpan di luar negeri menjadi salah satu alasan utama meningkatnya tren pemulangan emas ke negara asal.
"Ketakutan bahwa aset tidak dapat diakses di luar negeri sejak 2022 mendorong sebagian bank sentral untuk memulangkan emas yang disimpan di luar negeri," kata Staunovo kepada CNBC.
Menurutnya, emas juga memiliki nilai simbolis sebagai aset nasional sehingga memberikan alasan tambahan bagi suatu negara untuk menyimpan cadangan tersebut di wilayahnya sendiri.
Staunovo mencontohkan langkah yang dilakukan bank sentral Prancis. Menurut dia, otoritas moneter negara itu belakangan mengurangi eksposur penyimpanan emas di Amerika Serikat dengan menjual kepemilikan emas di sana dan membeli jumlah yang setara di Eropa, tanpa harus memindahkan emas secara fisik.
Di tengah tren tersebut, UBS memperkirakan permintaan emas dari bank sentral masih akan tetap tinggi sepanjang tahun ini.
"Kami memperkirakan bank sentral akan membeli 750 hingga 1.000 ton emas tahun ini. Permintaan seperti itu mungkin tidak akan mendorong harga naik tajam dengan sendirinya, tetapi kami percaya hal itu akan memberikan fondasi yang stabil bagi pasar dan membantu mengimbangi permintaan perhiasan serta investasi yang lebih lemah," ujar Staunovo.
Hasil survei WGC juga menunjukkan tren diversifikasi lokasi penyimpanan emas diperkirakan akan berlanjut. Sebanyak 7% responden menyatakan berencana meningkatkan penyimpanan emas di dalam negeri dalam satu tahun ke depan.
Sementara itu, 9% responden mengatakan akan mendiversifikasi pengaturan penyimpanan emas mereka di luar negeri. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan hanya 2% pada survei sebelumnya.
Kepala Pasar AJ Bell Dan Coatsworth menilai temuan tersebut mencerminkan upaya yang lebih luas dari bank sentral untuk mengurangi konsentrasi risiko, baik dari sisi aset maupun lokasi penyimpanannya.
"Sama seperti investasi lainnya, menyebarkan risiko merupakan langkah yang bijaksana dan itu juga mencakup lokasi penyimpanan aset," kata Coatsworth.
(luc/luc)
Addsource on Google

7 hours ago
1

















































