Ciri-Ciri Orang yang Rentan Jadi Korban Penipuan Online, Ada Kamu?

17 hours ago 3
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Kasus kejahatan siber di Indonesia terus meningkat seiring aktivitas digital masyarakat kian masif. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat kerugian finansial akibat tindak penipuan dan kejahatan siber menembus Rp476 miliar dalam periode November 2024 hingga Januari 2025.

Selain kerugian material, lonjakan laporan juga terjadi di sistem pengaduan publik pemerintah. Hingga pertengahan 2025, terdapat 1,2 juta laporan terkait penipuan digital.

Ada sejumlah indikator umum yang membuat seseorang lebih mudah menjadi korban, terutama ketika berinteraksi di ruang digital tanpa verifikasi yang memadai. Berikut selengkapnya.

1. Mudah Percaya

Salah satu celah terbesar yang dimanfaatkan pelaku kejahatan siber adalah sifat mudah percaya. Pelaku kerap menyamar sebagai pihak resmi, seperti layanan pelanggan, instansi pemerintah, atau perusahaan finansial, dengan gaya komunikasi yang meyakinkan.

Tak jarang, korban langsung mengikuti instruksi tanpa melakukan verifikasi lebih lanjut. Padahal, pelaku biasanya memanfaatkan tekanan psikologis, seperti ancaman akun diblokir atau iming-iming hadiah, agar korban segera merespons tanpa berpikir panjang.

2. Kurangnya Literasi Digital

Rendahnya pemahaman terhadap cara kerja teknologi digital juga membuat seseorang lebih rentan menjadi korban penipuan. Banyak pengguna belum terbiasa membedakan tautan resmi dengan link palsu, atau mengenali ciri-ciri pesan phishing.

Selain itu, masih ada pengguna yang belum memahami pentingnya menjaga data pribadi, seperti kode OTP, PIN, atau informasi rekening. Ketidaktahuan ini sering dimanfaatkan pelaku untuk mengambil alih akun atau menguras saldo korban.

3. Terburu-buru

Penipu sering memanfaatkan situasi mendesak untuk menekan korban agar segera mengambil keputusan. Pesan dengan narasi waktu terbatas, seperti "segera konfirmasi" sering kali membuat korban panik.

Dalam kondisi terburu-buru, seseorang cenderung mengabaikan logika dan langkah pengecekan. Akibatnya, korban lebih mudah mengklik tautan berbahaya, mengunduh file mencurigakan, atau mentransfer dana tanpa memastikan kebenarannya.

4. Tidak Cek Detail Nomor Telepon

Banyak kasus penipuan bermula dari nomor telepon atau akun media sosial yang tampak meyakinkan. Padahal, pelaku sering menggunakan nomor acak, akun palsu, atau identitas tiruan yang sekilas terlihat resmi.

Tanpa melakukan pengecekan detail nomor atau akun tersebut, korban berisiko berinteraksi dengan pelaku penipuan. Kebiasaan tidak memverifikasi identitas inilah yang membuat modus penipuan terus berulang dan memakan korban baru.

(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |