Cerita Jenderal TNI Dipanggil ke Istana, Diminta Gantikan Presiden RI

5 hours ago 3
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa lalu lewat relevansinya di masa kini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Seorang jenderal TNI pernah dipanggil mendadak ke Istana Negara untuk menjalankan misi yang tak pernah dibayangkannya. Di hadapan Presiden RI Soekarno, dia diminta bersiap menggantikan kepala negara apabila suatu saat sang presiden tak lagi bisa memimpin Indonesia. Keputusan itu bukan lahir dari pembahasan politik, melainkan dari sebuah wangsit yang diakui diterima Soekarno saat tidur siang.

Tokoh yang dimaksud adalah Jenderal Ahmad Yani. Ia merupakan salah satu perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang sangat dipercaya Presiden Soekarno pada masa Demokrasi Terpimpin.

Cerita mengenai mimpi tersebut disampaikan Ahmad Yani kepada Menteri Pengairan Dasar Kanisius Haryasudirja Sasraningrat. Kisah itu kemudian dicatat dalam buku Haryasudirja: Tokoh Pejuang Kemerdekaan, Pembangunan dan Pendidikan (2005).

Dalam penuturannya, Ahmad Yani mengungkapkan bahwa Soekarno pernah memanggilnya setelah mengalami tidur siang. Saat itu, Soekarno menyampaikan bahwa dirinya menerima wangsit dari Yang Maha Kuasa.

"Yani, saya baru tidur siang dan dalam tidur saya menerima wangsit dari Yang Maha Kuasa, yaitu kalau ada apa-apa dengan saya, sehingga saya tidak dapat menjalankan tugas kepresidenan, ataupun saya mati, maka kau harus menggantikan saya menjadi Presiden Republik Indonesia," kata Soekarno seperti dituturkan Yani kepada Menteri Pengairan Dasar Kanisius Haryasudirja Sasraningrat, dikutip dari buku Haryasudirja: Tokoh Pejuang Kemerdekaan, Pembangunan dan Pendidikan (2005).

Mendengar hal tersebut, Ahmad Yani disebut terkejut. Ia tidak langsung menerima begitu saja ucapan sang presiden.

Menurut Yani, masih banyak tokoh lain yang lebih senior dan memiliki posisi politik lebih kuat untuk menjadi penerus Soekarno. Bahkan jika harus berasal dari kalangan militer, Yani menilai masih ada sosok yang lebih senior, yakni Jenderal A.H. Nasution.

Namun, Bung Karno tetap bersikukuh. Menurutnya, petunjuk yang diterimanya sangat jelas. Ahmad Yani adalah sosok yang harus menggantikannya apabila sesuatu terjadi pada dirinya.

Pilihan Soekarno terhadap Ahmad Yani bukan tanpa alasan. Saat itu, Ahmad Yani memang dikenal sebagai salah satu perwira yang paling dipercaya oleh presiden pertama RI tersebut.

Hubungan keduanya semakin erat setelah Ahmad Yani dipercaya memimpin Angkatan Darat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada 1962. Menurut Harold Crouch dalam buku Militer dan Politik di Indonesia (1999), Soekarno menyukai karakter Yani yang lebih fleksibel dibandingkan sejumlah jenderal lainnya.

Ahmad Yani juga memiliki perjalanan panjang sebelum menduduki posisi tersebut. Ia terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan pernah memimpin berbagai operasi militer. Namanya semakin dikenal setelah keberhasilannya dalam operasi penumpasan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatra pada akhir 1950-an.

Kedekatan Soekarno dan Ahmad Yani juga diungkap oleh ajudan presiden, Maulwi Saelan, dalam buku Maulwi Saelan: Penjaga Terakhir Soekarno (2015). Dalam buku tersebut, Saelan menyebut Ahmad Yani sebagai salah satu jenderal yang paling disayangi oleh Soekarno.

Atas dasar kedekatan tersebut, Bung Karno disebut sangat terpukul ketika mendengar kabar bahwa Ahmad Yani menjadi salah satu korban dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S).

"Presiden sedih sekali atas nasib para jenderal yang diculik, khususnya Jenderal Ahmad Yani, jenderal yang paling disayanginya," tulis Maulwi Saelan.

Akibat peristiwa tersebut, harapan Soekarno tidak pernah terwujud. Ahmad Yani yang disebut pernah diminta menggantikannya sebagai Presiden RI justru gugur dalam salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah Indonesia.

Setelah pergolakan politik pasca-G30S, arah kekuasaan Indonesia berubah. Soekarno perlahan kehilangan kekuasaan, sementara Soeharto kemudian tampil sebagai pemimpin baru dan menjadi Presiden RI kedua.

(mfa/wur)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |