MEDAN (Waspada.id): Melihat struktur dan personalia Pengurus DPD PG Sumut paska pergantian antarwaktu (PAW), Musda XI PG Sumut diperkirakan tidak terjadi sebelum Ramadhan ini.
Hal itu disampaikan politisi Partai Golkar Sumut, Riza Fakhrumi Thahir kepada Waspada.id, Selasa (6/1/2026).
Riza menyebut permainan bakal panjang. “Kalau paska Lebaran Musda dilaksanakan, itu sudah bagus. Jangan-jangan di bulan Juli atau Agustus baru dilaksanakan. Ini artinya, banyak kemungkinan yang akan terjadi jelang Musda XI PG Sumut,” cetusnya.
Riza menyebut, maunya Hendri Sitorus, pastilah Musda pada bulan ini juga, seperti pernyataan Plt Ketua Ahmad Doli Kurnia Tandjung. Makin cepat dilaksanakan Musda, hitung-hitungannya menguntungkan Hendri. Setidaknya cost politic tidak makin besar. Tapi, itu tidak bakal terjadi. Doli pasti dikeroyok oligarkinya, yang menghendaki “permainan” diperpanjang.
“Saya kenal dengan para oligarki Doli. Mereka adalah para “pemain” yang pasti punya agenda masing-masing. Oleh karenanya, Hendri tidak berdaya untuk cawe-cawe ikut menentukan jadwal Musda. Di sini, Hendri cuma “boneka” Doli,” ungkapnya.
Komposisi kepengurusan baru, adalah gambaran kekuatan Hendri sudah lumpuh, bulu sayapnya sudah mulai bengkok dan patah-patah. Personel yang direkrut ke struktur pengurus hasil PAW, adalah orang-orang Doli Tandjung.
Jika mengerucut, merekalah oligarki yang ikut menentukan arah kebijakan PGSU ke depan, termasuk pelaksanaan Musda XI. Sedangkan pengurus lama yang tetap dipertahankan adalah hasil rekrutmen H. Musa Rajekshah, ketua yang dikudeta Doli.
Riza menyebut ada yang “lari” dari barisan Ijeck, tapi jumlahnya sedikit. Doli faham, mereka adalah para pengkhianat yang juga bakal mengkhianatinya kelak. Mereka tidak bakal berperan apapun, kecuali hanya jadi tukang angkat mikrofon, jaga kantor dan mengangkat daftar absen di waktu rapat.
Awalnya mereka mendukung Hendri. Tapi akhirnya terpaksa menjadi penonton, tidak mampu berperan sebagai representasi Hendri. Cuma mencari nilai di depan Doli.
Kalau sekedar manuver kecil agar ada laporan ke Hendri, hanya seperti itu yang bisa dilakukan. Hendri mau menjabat sebagai ketua, tapi dia tidak punya kekuatan di dalam struktur.
“Bagaimana mau menjadi ketua, sedangkan dia tidak tahu siapa lawan dan siapa kawannya. Hendri pasti membayar mahal untuk ini. Dia diperlemah, dan tidak terpilih sebelum Musda,” cetusnya.
Sesungguhnya Doli tidak ingin Hendri jadi Ketua PGSU. Kalau dia ingin, maka sangat gampang membacanya. Doli pasti akan memberi jabatan Ketua Harian kepada Buyung Sitorus, ayah Hendri.
Biarkan Buyung Sitorus yang bekerja menjadikan Hendri sebagai ketua. Masalahnya, Doli malah memberi Ketua Harian kepada orang lain, Ahmad Yasir Ridho Lubis, orang yang tidak dikehendaki Buyung menjadi Ketua PGSU pada Musda X tahun 2020. Ini paradoks. Doli, pasti akan mengobati “luka politik” akibat kegagalannya menjadikan Ahmad Yasir Ridho sebagai Ketua PGSU di Musda X pada 2020.
Makanya, kata Riza, di warung-warung kopi muncul pertanyaan besar apakah Hendri bakal jadi Ketua PG Sumut ? Belum tentu, karena boleh jadi muncul figur lain yang akan menggeser posisi Hendri.
Sedangkan Doli, hingga hari ini tidak pernah menyatakan bahwa Ketum DPP menugaskannya hanya untuk menjadikan Hendri sebagai ketua. Itu pasti tidak dilakukannya. Entah sampai kapan. Paling – paling Doli mengatakan, “ada sejumlah kader yang menjadi bakal calon Ketua PGSU.”
Disebutlah beberapa nama, satu di antaranya Hendri. Secara politik, apa yang salah ? Itu membuat Hendri makin bingung. Dia pasti gelisah menghadapi ketidakpastian ini. Posisinya sebagai calon tunggal Ketua PGSU makin tidak jelas.
Akhirnya Hendri terperangkap, di antara mengikuti kehendak Doli dan oligarki atau mundur dari posisi bakal calon ketua. Terjadi tarik menarik, tarik ulur.
Hendri boleh menjabat ketua, tapi jabatan-jabatan strategis lainnya diatur oleh Doli. Hendri tidak boleh berperan menentukan ketua-ketua DPD PG Kab/Kota. Lagi-lagi, Hendri menjadi “boneka” yang tidak punya kewenangan strategis.
Atau, Hendri mundur dari posisi bakal calon ketua. Skenario Doli, memang akan membuat Hendri tertekan dan dilematis. Hingga akhirnya Hendri mundur.
Menjabat ketua dengan mengeluarkan biaya besar, tapi tidak punya kewenangan strategis. Untuk apa ? Maukah Hendri jika cuma jadi “boneka” Doli ? Hendri pasti sangat tertekan, dan akhirnya memilih mundur. Kalah sebelum masuk gelanggang.
Hendri bisa menjadi Ketua kalau dia mengevaluasi dan merevitalisasi kekuatannya di DPD PGSU, membangun koalisi baru. Dia harus mengonsolidasi kekuatan pendukungnya hingga DPP, membangun jaringan baru dan berkoalisi. Kalau tidak mencari koalisi baru, Hendri pasti tamat.
Jangan berharap pada orang-orang yang berkhianat pada Ijeck. Mereka pasti akan lari lagi dari barisan Hendri. Sekali berkhianat pasti seterusnya berkhianat. Ketimbang berharap pada pengkhianat Ijeck, lebih baguslah jika Hendri mengajak Ijeck menghadapi Doli.
Tapi, itupun terlambat karena Doli sudah terlalu jauh mengonsolidasi kekuatannya di DPD PGSU untuk menekan Hendri. Bagi Doli, Hendri itu tidak ada apa-apanya. Makanya, dengan gampang Doli menyingkirkan peran Hendri.
Ini belum lagi di 33 DPD kab/kota, yang makin tidak menentu sikapnya, floating. Bagi DPD Kab/Kota ini, situasi hari ini penuh ketidakpastian. Ingat, berbulan-bulan lamanya Hendri mendekati DPD Kab/Kota, tapi selalu gagal.
Dibanding Ijeck, tingkat penerimaan Hendri di DPD Kab/Kota sangat rendah, meskipun, katanya, mendapat dukungan DPP PG.
Tugas penting Doli hari ini membalikkan situasi, menghapus pengaruh Ijeck. Sikap DPD Kab/Kota harus dibalik, tidak lagi ke Ijeck.
Apakah target menghilangkan pengaruh Ijeck di DPD Kab/Kota, itu untuk kepentingan Hendri ? Belum tentu. Akan terjadi tarik ulur, dan permainan bakal panjang hingga Hendri tunduk seratus persen kepada Doli dan oligarkinya.
Satu-satunya cara memenangkan kompetisi di Musda XI PG Sumut adalah Hendri harus menghadap langsung ke Bobby Nasution (tanpa perantara), Gubernur Sumut.
Sekali lagi, Hendri meminta peran Bobby agar mertuanya, Joko Widodo, kembali menekan Ketum DPP PG, Bahlil Lahadalia, agar pilihan Doli hanya satu, menangkan Hendri Yanto Sitorus. Cuma itu jalan Hendri bisa duduk di kursi PGSU-1. Itu, pun pasti dengan catatan, demikian Riza Fakhrumi Thahir.(id96)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.




















































