Jakarta, CNBC Indonesia - Perbankan Rusia kini menghadapi ancaman krisis serius akibat ketiadaan cadangan likuiditas rubel untuk membeli obligasi pemerintah. Kondisi mentoknya likuiditas ini memicu keraguan besar terhadap kemampuan Moskow dalam menutupi lonjakan pengeluaran perang melalui pinjaman domestik, di tengah melebarnya defisit anggaran negara kaya minyak tersebut.
Peringatan krisis ini muncul ketika Kementerian Keuangan Rusia dihadapkan pada kekurangan anggaran yang makin melebar dan berpotensi membutuhkan tambahan pinjaman hingga triliunan rubel pada tahun ini. Mengingat perbankan yang makin kekurangan likuiditas dan lelang obligasi pemerintah yang ditangguhkan, Bank Sentral Rusia kini menghadapi tekanan besar untuk menyuntikkan dana segar demi menjaga aliran pembelian utang negara.
Vice President dan Chief Financial Officer Sberbank, Taras Skvortsov, mengungkapkan bahwa penarikan uang tunai dari sistem perbankan telah mencapai sekitar 2 triliun rubel (Rp378 triliun) sejak awal tahun. Tingginya angka penarikan ini menciptakan guncangan dan kondisi kekurangan likuiditas yang parah di sektor perbankan.
"Saat ini, perbankan hanya memiliki dana yang cukup untuk disalurkan kepada pelanggan-itu adalah bisnis inti mereka. Anda dapat membeli obligasi OFZ, terutama tanpa premi yang signifikan, ketika Anda memiliki likuiditas cadangan dan yakin bahwa likuiditas itu akan tetap tersedia. Namun saat ini, situasinya justru sebaliknya," ujar Skvortsov dikutip The Moscow Times, Senin (3/8/2026).
OFZ sendiri merupakan obligasi pemerintah berdenominasi rubel yang diterbitkan secara resmi oleh Kementerian Keuangan untuk membiayai pengeluaran dan operasional negara.
Anggaran federal Rusia tercatat mengalami defisit yang membengkak hingga 5,7 triliun rubel (Rp 1.077 triliun) pada paruh pertama tahun 2026. Angka ini melonjak tajam di tengah pengeluaran pertahanan dan militer yang jauh lebih tinggi dari rencana awal anggaran.
Laporan Bloomberg, sebagaimana dikutip dari The Moscow Times, pada bulan Juni yang bersumber dari pihak internal, pengeluaran Rusia yang berkaitan dengan perang berpotensi melampaui jumlah yang dianggarkan tahun ini dengan selisih 4 triliun hingga 5 triliun rubel (Rp756 triliun hingga Rp945 triliun). Pembengkakan biaya operasional militer ini akan memaksa Kementerian Keuangan Rusia untuk segera mencari tambahan dana darurat sebesar 2 triliun hingga 3 triliun rubel (Rp378 triliun hingga Rp567 triliun).
(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]

5 hours ago
3















































