Jakarta, CNBC Indonesia - Penguatan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin membesar pada perdagangan awal pekan ini, Senin (15/6/2026).
Merujuk data Refinitiv, per pukul 09.52 WIB, rupiah menguat 1,04% ke level Rp17.680/US$. Posisi ini membuat mata uang Garuda berhasil menembus level psikologis Rp17.700/US$. Rupiah juga semakin jauh meninggalkan level Rp18.000/US$ yang sempat menjadi tekanan besar dalam beberapa waktu terakhir.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, memperkirakan penguatan rupiah masih akan berlanjut pada pekan depan seiring meningkatnya kepercayaan pasar terhadap langkah-langkah stabilisasi yang telah ditempuh pemerintah dan Bank Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.
Menurut Fakhrul, setelah mengalami tekanan yang cukup besar dalam beberapa bulan terakhir, pasar mulai melihat adanya perubahan arah kebijakan yang lebih jelas dan lebih konsisten dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
"Saya memperkirakan rupiah masih berpotensi menguat menuju kisaran Rp17.500 per dolar AS pada pekan depan. Pasar mulai melihat bahwa otoritas ekonomi Indonesia bersedia mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan memulihkan kepercayaan investor," ujar Fakhrul.
Ia menjelaskan bahwa selama beberapa bulan terakhir rupiah mengalami tekanan yang cukup besar akibat kombinasi faktor eksternal dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan domestik. Namun, sebagian besar faktor tersebut kini mulai menunjukkan perbaikan.
Menurut Fakhrul, terdapat tiga langkah penting yang saat ini menjadi fondasi penguatan rupiah.
Pertama, Bank Indonesia telah menunjukkan komitmen yang kuat terhadap stabilitas nilai tukar melalui kenaikan suku bunga kumulatif sebesar 75 basis poin. Langkah tersebut memberikan sinyal yang jelas kepada pasar bahwa stabilitas rupiah menjadi prioritas utama dan membantu meningkatkan daya tarik aset keuangan Indonesia.
Kedua, penyesuaian harga BBM khususnya Pertamax mulai memperbaiki persepsi pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia. Meskipun merupakan kebijakan yang tidak populer, langkah tersebut menunjukkan adanya keberanian pemerintah untuk melakukan penyesuaian yang diperlukan guna menjaga keberlanjutan APBN.
Ketiga, adanya efisiensi dan penyesuaian anggaran pada sejumlah program pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), mulai dibaca pasar sebagai sinyal bahwa disiplin fiskal kembali menjadi prioritas.
"Pasar selama beberapa bulan terakhir menunggu bukti bahwa Indonesia bersedia melakukan normalisasi fiskal. Kini sinyal tersebut mulai terlihat. BI sudah bergerak melalui kenaikan suku bunga, sementara pemerintah mulai melakukan penyesuaian fiskal. Kombinasi inilah yang menjadi fondasi penguatan rupiah," jelasnya.
Menurut Fakhrul, respons pasar terhadap perubahan kebijakan tersebut mulai terlihat cukup nyata. Pada pekan lalu, rupiah tercatat sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terbaik di kawasan Asia.
"Pada minggu lalu rupiah menjadi mata uang dengan penguatan terbesar kedua di Asia setelah Won Korea Selatan. Jika proses normalisasi fiskal terus berlanjut dan konsistensi kebijakan tetap terjaga, saya melihat peluang rupiah menjadi salah satu mata uang dengan penguatan terbaik di kawasan pada pekan ini cukup terbuka," katanya.
Selain faktor domestik, Fakhrul menilai perkembangan geopolitik global juga berpotensi memberikan tambahan momentum positif bagi rupiah.
Menurutnya, membaiknya hubungan Amerika Serikat dan Iran serta meningkatnya peluang tercapainya kesepakatan yang lebih permanen akan membantu menurunkan premi risiko global, memperbaiki sentimen pasar negara berkembang, serta mengurangi tekanan terhadap harga energi dunia.
"Apabila proses perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran terus bergerak ke arah yang positif, maka momentum penguatan rupiah dapat menjadi semakin kuat. Risiko geopolitik yang menurun biasanya akan mendorong investor kembali masuk ke aset-aset emerging markets, termasuk Indonesia," ujar Fakhrul.
Untuk pekan depan, ia memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp17.450 hingga Rp17.650 per dolar AS dengan kecenderungan menguat.
Menurutnya, penguatan rupiah saat ini bukan semata-mata didorong oleh sentimen jangka pendek, melainkan mulai ditopang oleh perbaikan ekspektasi terhadap kebijakan ekonomi Indonesia.
"Kita harus ingat bahwa selama beberapa bulan terakhir pasar mempertanyakan apakah Indonesia bersedia membayar biaya stabilisasi. Kini jawabannya mulai terlihat. BI sudah menaikkan suku bunga, pemerintah mulai melakukan penyesuaian fiskal, dan pasar merespons dengan penguatan rupiah. Bagi investor, seeing is believing," tutup Fakhrul.
(haa/haa)
Addsource on Google

5 hours ago
1

















































