Achmad Aris, CNBC Indonesia
20 January 2026 15:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Allianz Risk Barometer 2026 mengungkap ancaman siber khususnya serangan ransomware, menempati peringkat risiko nomor 1 untuk kelima kalinya berturut-turut bagi perusahaan dari semua ukuran.
Sementara itu, risiko kecerdasan buatan (AI) menjadi ancaman serius baru bagi dunia usaha di hampir semua sektor industri. Peringkatnya merangsek naik dari peringkat 10 ke peringkat 1.
Laporan tahunan Allianz Risk Barometer 2026, merupakan hasil survei yang dilakukan terhadap lebih dari 3.300 profesional manajemen risiko dari 97 negara dan wilayah tentang ancaman terbesar yang dihadapi perusahaan di tahun ini.
Temuan utama menunjukkan bahwa risiko dunia serangan siber (cyber incidents) masih menjadi ancaman paling signifikan bagi bisnis secara global, sedangkan kecerdasan buatan (AI) mencatat lonjakan terbesar dalam peringkat sehingga menempati urutan kedua sebagai risiko utama.
Serangan siber kembali menjadi kekhawatiran utama para pemimpin bisnis di seluruh dunia-untuk tahun kelima berturut-turut-dengan 42% responden mencantumkannya sebagai risiko yang paling mereka khawatirkan. Angka ini merupakan skor tertinggi dalam sejarah laporan ini, menunjukkan bahwa ancaman digital semakin berkembang dan meluas.
Peningkatan ketergantungan pada teknologi digital, ekosistem cloud, serta konektivitas yang semakin kompleks membuat perusahaan dari semua ukuran menjadi target empuk.
Serangan seperti ransomware, pelanggaran data, gangguan operasi, dan eksploitasi sistem kritikal menjadi kekhawatiran utama. Selain itu, risiko siber kini tidak hanya dipandang sebagai masalah IT semata, tetapi juga risiko strategis yang dapat memicu gangguan operasional, kerugian finansial, dan reputasi tercemar.
Risiko AI
Kecerdasan buatan (AI) mencatat lonjakan paling signifikan dalam peringkat risiko tahun ini, naik dari posisi ke-10 pada 2025 menjadi posisi ke-2 di 2026. Tren ini mencerminkan bagaimana AI kini bukan hanya alat transformasi bisnis, melainkan juga sumber risiko yang kompleks.
Responden menyatakan bahwa risiko yang terkait dengan AI meliputi tantangan dalam tata kelola, tanggung jawab hukum, tantangan integrasi sistem, kualitas data, masalah bias dan diskriminasi, serta potensi kerugian reputasi bila terjadi kesalahan dalam keputusan otomatis.
Selain itu, adopsi AI yang masif seringkali berjalan lebih cepat ketimbang perkembangan regulasi dan kesiapan tenaga kerja untuk mengelola teknologi ini.
AI mengalami pergerakan besar di semua wilayah - peringkat #2 di Amerika, Asia Pasifik, dan Afrika serta Timur Tengah, dan #3 di Eropa - dan juga menjadi risiko yang semakin besar bagi perusahaan dari semua ukuran, bergerak ke tiga besar untuk perusahaan besar, menengah, dan kecil.
Seiring dengan percepatan adopsi AI dan semakin terintegrasinya AI dalam operasi bisnis inti, responden memperkirakan risiko terkait AI akan meningkat, terutama dalam hal masalah tanggung jawab hukum.
"Perusahaan semakin melihat AI bukan hanya sebagai peluang strategis yang kuat, tetapi juga sebagai sumber risiko operasional, hukum, dan reputasi yang kompleks," kata Ludovic Subran, Kepala Ekonom Allianz.
Meskipun risiko lainnya tidak menduduki dua peringkat teratas, mereka tetap menjadi perhatian penting. Misalnya, gangguan bisnis (Business Interruption): Meski turun satu peringkat ke posisi ketiga, risiko gangguan operasional masih menjadi momok penting karena keterkaitan eratnya dengan risiko lain seperti serangan siber dan konflik geopolitik.
Berikutnya, risiko perubahan Regulasi & Legislasi. Risiko ini mempertahankan posisinya di urutan keempat, dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak kebijakan perdagangan proteksionis dan tarif.
Lalu risiko bencana alam. Penurunan aktivitas badai yang lebih tenang sepanjang 2025 membuat risiko bencana alam turun ke urutan kelima, tetapi masih tetap dalam daftar 10 besar.
Sementara itu, risiko politik & kekerasan naik ke posisi ketujuh yang mencerminkan tekanan geopolitik yang terus meningkat di berbagai wilayah dunia.
Kompleksitas Risiko
Laporan Allianz menegaskan bahwa risiko yang dihadapi perusahaan saat ini bersifat saling terhubung dan multidimensi. Situasi seperti serangan siber dapat berbenturan dengan gangguan bisnis, ketidaksiapan aturan AI, dan perubahan geopolitik secara simultan - menuntut pendekatan holistik dalam strategi mitigasi risiko.
Thomas Lillelund, CEO Allianz Commercial, menyatakan bahwa ketidakpastian global yang terus berlangsung menuntut bisnis untuk tidak hanya memahami risiko secara individu, tetapi juga bagaimana risiko-risiko tersebut saling memperkuat satu sama lain dalam lingkungan yang cepat berubah.
"Selain menghadirkan peluang besar, potensi transformatifnya serta evolusi dan adopsinya yang cepat juga membentuk kembali lanskap risiko, menjadikannya perhatian utama bagi perusahaan dari semua ukuran di seluruh dunia, di samping ancaman lain yang lebih mapan," jelasnya dalam laporan dikutip, Rabu (21/1/2025).
Tantangan 2026
Laporan Allianz Risk Barometer 2026 menunjukkan bahwa perusahaan yang ingin tetap tangguh di tengah lanskap risiko global yang terus berubah perlu melakukan sejumlah upaya antara lain memperkuat strategi pertahanan siber dan kesiapan terhadap ancaman digital, mengelola adopsi teknologi baru seperti AI dengan tata kelola yang matang dan kepatuhan regulasi, merancang strategi kontinuitas bisnis yang memperhitungkan risiko terintegrasi, dan mengantisipasi dampak perubahan geopolitik terhadap rantai pasok dan operasi global.
Temuan ini mencerminkan kenyataan bahwa risiko modern bukan lagi sekadar potensi gangguan, tetapi merupakan bagian tak terpisahkan dari strategi bisnis yang harus diantisipasi secara proaktif.
(ach/ach)

2 hours ago
1

















































