5 Penyebab Nilai Rupiah Tembus Rp 17.000/US$, Ada Ulah Donald Trump

4 hours ago 6

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah ambruk di hadapan dolar Amerika Serikat pagi ini. Mata uang garuda bahkan telah tersudut hingga melampaui level Rp17.000 per dolar AS per pukul 09.31 WIB, berdasarkan data Refinitiv.

Global Markets Economist at Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menjelaskan ada lima sentimen yang menekan rupiah pada hari ini.

Pertama, ia menilai pelemahan rupiah disebabkan oleh investor global yang cenderung menghindari risiko di tengah situasi gejolak global akibat perang di Timur Tengah pasca serangan Presiden AS Donald Trump bersama Israel ke Iran.

Sikap investor tersebut berdampak kepada pasar emerging market yang dipandang kurang menarik bagi investor. Sehingga menghambat aliran masuk modal serta menarik uang.

"Untuk penggerakan nilai tukar rupiah, saya rasa ini masih erat hubungannya dengan perkembangan dari sisi perilaku investor global yang masih melakukan aksi risk averse untuk investasi di emerging market seperti Indonesia sehingga kalau kita lihat mereka banyak yang terus melakukan aksi jual atau profit taking," kata Myrdal kepada CNBC Indonesia pada Rabu (1/4/2026).

Myrdal mengatakan sikap investor menghindari risiko karena harga minyak mentah dunia yang masih berada di level tinggi. Walaupun ada intensi Amerika Serikat untuk mengakhiri perang.

Sentimen kedua adalah juga ada faktor dari permintaan valas domestik yang juga meningkat terutama untuk kebutuhan pemenuhan impor.

"Jadi impor untuk BBM kelihatannya meningkat selama harga minyak tinggi jadi ini membuat kenapa kalau kita lihat ada pergerakan nilai tukar rupiah yang relatif fluktuatif," imbuh Myrdal.

Ketiga menurut Myrdal pelemahan rupiah terkait dengan dampak dari belanja rutin biasanya periode akhir bulan ataupun juga awal bulan terutama untuk belanja barang-barang impor, tidak hanya impor BBM tapi impor berbagai produk.

Faktor keempat adalah terkait dengan menjelang musim dividen yang berpengaruh terhadap permintaan dolar domestik yang lebih tinggi.

"Ini faktor musiman, jadi periode bulan April sampai Juli ini kan ada permintaan valas yang cukup tinggi karena untuk kebutuhan dividen ke investor asing," tutur Myrdal.

Faktor kelima menurut Myrdal adalah pembayaran utang luar negeri yang bergeser karena adanya periode libur Lebaran.

"Pembayaran utang luar negeri, ini juga agak geser waktunya karena biasanya kalau tidak ada periode libur lebaran biasanya ini disetel akhir bulan tapi ya kita sih menduga agak bergeser juga nih jadi ke periode awal bulan terutama setelah lebaran," ucapnya.

(ras/mij)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |