3 Pola Pikir soal Uang yang Bikin Susah Kaya

2 hours ago 4
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Menjadi kaya bukan hanya soal berapa besar penghasilan yang dimiliki seseorang. Menurut jutawan yang merintis kekayaannya sendiri, Ramit Sethi, cara pandang terhadap uang justru sering menjadi penghalang terbesar dalam membangun kekayaan.

Sethi, yang juga merupakan pembawa acara serial Netflix How To Get Rich, mengungkap ada tiga pola pikir beracun atau toxic money beliefs yang kerap membuat seseorang sulit mencapai kebebasan finansial.

Ia mengatakan, membangun kekayaan membutuhkan waktu dan konsistensi. Kisah orang yang mendadak menjadi kaya dalam semalam memang sering terdengar, namun banyak yang tidak mengetahui sebagian dari mereka juga kehilangan uang tersebut dalam waktu singkat.

"Pembentukan kekayaan yang sesungguhnya membutuhkan waktu. Prosesnya membosankan, sistematis, dan dilakukan secara konsisten," kata Sethi dikutip dari CNBC Make It.

Berikut tiga pola pikir soal uang yang sebaiknya dihindari:

1. Menganggap Uang sebagai Topik Tabu

Sethi bilang, banyak orang tumbuh di lingkungan yang jarang membicarakan uang. Padahal, kebiasaan ini justru dapat menghambat seseorang dalam mengelola keuangan dengan baik.

Ia menilai keluarga yang sehat secara finansial umumnya menjadikan uang sebagai topik diskusi sehari-hari, sama seperti keluarga yang membicarakan pola makan sehat.

"Membicarakan uang adalah hal positif. Misalnya berdiskusi soal tabungan, pengeluaran, atau tujuan keuangan bersama pasangan maupun keluarga," ujarnya.

2. Terjebak Pola Pikir yang Ditanamkan Sejak Kecil

Pola pikir kedua yang dianggap berbahaya adalah menerima begitu saja keyakinan tentang uang yang ditanamkan sejak masa kecil tanpa pernah mempertanyakannya.

Dalam podcast miliknya, Sethi sering menanyakan kepada pasangan tentang kalimat yang paling sering mereka dengar terkait uang saat tumbuh dewasa. Salah satu jawaban yang paling umum adalah, "Kita tidak mampu membelinya."

Menurutnya, ketika seseorang mendengar kalimat tersebut berulang kali selama bertahun-tahun, keyakinan itu dapat terbawa hingga dewasa.

Akibatnya, meski sudah memiliki pekerjaan yang baik atau mulai berinvestasi, seseorang tetap merasa bersalah saat mengeluarkan uang untuk kebutuhan sederhana, seperti membeli secangkir kopi.

"Banyak orang tidak menyadari hubungan antara keyakinan masa kecil dan kebiasaan finansial mereka saat ini," kata Sethi.

Ia menyarankan agar seseorang mengidentifikasi keyakinan-kepercayaan tersebut, menuliskannya, lalu mengevaluasi apakah masih relevan untuk kehidupan saat ini.

3. Mengira Investasi Hanya untuk Orang Kaya

Kesalahan berikutnya yang sering ditemukan adalah anggapan bahwa investasi hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah kaya. Sethi mengatakan, justru investasi merupakan salah satu cara utama untuk membangun kekayaan.

"Anda menjadi kaya dengan berinvestasi. Bahkan jika hanya bisa menyisihkan US$20 per bulan, itulah cara untuk memulai," ujarnya.

Ia menambahkan, kebiasaan berinvestasi secara otomatis dan rutin dapat mengubah kondisi ekonomi seseorang dan keluarganya dalam jangka panjang.

Sethi mengakui proses membangun kekayaan tidak memberikan hasil instan. Namun, ia menilai prinsipnya tidak berbeda dengan membangun kebugaran tubuh atau mempelajari bahasa baru, yakni membutuhkan latihan yang konsisten dari waktu ke waktu.

"Sedikit demi sedikit menjadi lebih baik setiap hari. Itulah inti dari membangun kekayaan," kata ia.

(hsy/hsy)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |