Jakarta, CNBC Indonesia - Sampah plastik yang selama ini dianggap tidak bernilai ternyata bisa diubah menjadi bahan bakar berkualitas tinggi. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkenalkan teknologi yang mampu mengolah sampah plastik residu menjadi bahan bakar cair bernama Petasol melalui teknologi pirolisis Fastpol.
Inovasi tersebut diluncurkan di Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (9/6/2026), sebagai solusi pengelolaan sampah plastik low value yang selama ini sulit didaur ulang sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat.
Teknologi pirolisis Fastpol dikembangkan BRIN bersama sejumlah mitra untuk mengolah berbagai jenis sampah plastik residu, mulai dari kemasan multilayer, plastik campuran, hingga sampah plastik yang tidak memiliki nilai jual. Melalui proses tersebut, limbah plastik diubah menjadi bahan bakar cair yang dapat digunakan untuk mesin diesel.
Periset Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN Heru Susanto menjelaskan, teknologi tersebut bekerja melalui proses pirolisis atau dekomposisi termokimia material plastik pada suhu 250-350 derajat Celcius dengan sedikit atau tanpa oksigen. Menurut Heru, proses tersebut pada dasarnya mengembalikan plastik yang berasal dari minyak bumi menjadi bahan bakar.
"Dengan teknologi ini, sampah plastik yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat. Satu kilogram sampah plastik residu mampu menghasilkan sekitar 0,8 hingga 0,9 liter PETASOL," ujar Heru dalam keterangannya, dikutip Sabtu (27/6/2026).
Ia menjelaskan, proses pengolahan sampah menjadi bahan bakar membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga delapan jam. Setelah itu, bahan bakar masih harus melalui tahapan penjernihan dan penyaringan hingga siap digunakan.
Selain membantu mengurangi timbunan sampah, teknologi tersebut dinilai memiliki potensi ekonomi karena biaya produksinya relatif rendah dibandingkan nilai pemanfaatannya.
"Fokus kegiatan ini adalah penanganan dan pengurangan sampah plastik low value yang selama ini menjadi residu di TPST maupun bank bank sampah, adapun BBM Petasol merupakan bonus yang menjadikan pelaku daur ulang maupun pelaku lingkungan terteraik mengambil bagian karena peluang ekonominya sehingga bisa berkelanjutan," jelasnya.
Meski demikian, Heru menilai keberhasilan teknologi pengolahan sampah tidak hanya bergantung pada mesin. Pemilahan sampah sejak dari rumah tetap menjadi faktor penting karena biaya pemilahan yang tinggi masih menjadi tantangan utama.
Ia mengatakan kolaborasi antara teknologi dan sistem pengelolaan sampah yang baik menjadi kunci keberhasilan program tersebut.
"Teknologi Fastpol Petasol yang sudah tervalidasi bertemu dengan pegiat lingkungan seperti KSM Pilah Berkah yang memberi layanan paripurna, semua sampah terpilah diangkut. Hal ini didukung data base realtime menjadi kekuatan untuk manajemen sampah yang bertanggung jawab dan berkelanjutan," ucap Heru.
Dari sisi kualitas, BRIN mengklaim Petasol memiliki performa pembakaran yang bahkan melampaui standar solar pada umumnya.
Direktur Alih dan Sistem Audit Teknologi BRIN Edi Hilmawan menjelaskan, hasil pengujian menunjukkan Petasol memiliki angka setana (cetane number) sebesar 51. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan standar solar yang umumnya berada di kisaran 48.
"Angka setana menjadi indikator kualitas pembakaran pada bahan bakar diesel. Petasol memiliki angka cetane 51 sehingga kualitas pembakarannya tergolong sangat baik," jelas Edi.
Meski demikian, BRIN masih terus melakukan penyempurnaan agar seluruh parameter bahan bakar dapat memenuhi standar yang berlaku, termasuk terkait berat jenis dan aspek regulasi.
"Pada prinsipnya ini aman digunakan untuk kendaraan," lanjutnya.
Ke depan, BRIN membuka peluang kerja sama yang lebih luas dengan pemerintah daerah, masyarakat, hingga sektor industri untuk memperbanyak pemanfaatan teknologi tersebut.
"BRIN membuka banyak opsi terkait inovasi atau teknologi yang bisa dikerjasamakan dengan daerah melalui kolaborasi dengan masyarakat, pemerintah daerah, maupun industri. Salah satunya mesin pirolisis untuk menanggulangi permasalahan sampah ini," ujar dia.
Sementara itu, Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menilai inovasi tersebut dapat menjadi jawaban atas dua persoalan sekaligus, yakni penanganan sampah dan penyediaan energi alternatif.
"Bahan bakar yang dihasilkan setara solar dengan kualitas yang bagus. Ini akan menjawab persoalan sampah yang selama ini kita hadapi," kata Halim.
Ia mengungkapkan, Kabupaten Bantul menghasilkan sekitar 600 ton sampah setiap hari dan sekitar 30% di antaranya berupa sampah plastik. Dengan jumlah tersebut, potensi pemanfaatan sampah menjadi bahan bakar dinilai sangat besar.
Melalui kolaborasi antara BRIN, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat, Petasol diharapkan dapat menjadi model pengelolaan sampah terpadu yang bisa direplikasi di berbagai daerah. Inovasi ini juga menjadi contoh hilirisasi hasil riset yang mampu menghadirkan solusi nyata bagi persoalan lingkungan sekaligus mendukung ekonomi sirkular di Indonesia.
(wur/wur)
Addsource on Google

4 hours ago
4

















































