Trump Resmi Hajar Kanada dengan Tarif 50%, Perang Dagang Memanas

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) resmi mengenakan tarif impor sebesar 50% terhadap sekitar US$20 miliar produk asal Kanada setelah negosiator perdagangan kedua negara gagal mencapai kesepakatan dagang meski telah melakukan pembicaraan selama tiga hari di Washington DC.

Dengan tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump berakhir pada Sabtu (23/8/2026) pukul 00.01 waktu setempat, pejabat AS dan Kanada mengonfirmasi bahwa perjanjian perdagangan belum berhasil disepakati.

Perdana Menteri Kanada Mark Carney menegaskan pemerintahnya akan membalas tarif baru tersebut dengan nilai yang setara.

"Dalam beberapa pekan terakhir, kami membuat kemajuan penting untuk memperkuat posisi Kanada agar memiliki kesepakatan terbaik di dunia dengan Amerika Serikat. Namun, kemajuan tersebut belum cukup untuk memenuhi tujuan kami bagi rakyat Kanada," kata Carney dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Aljazeera, Minggu (23/8/2026).

Carney juga memaparkan langkah-langkah yang akan ditempuh pemerintah untuk melindungi pekerja dan pelaku usaha Kanada dari dampak perang dagang. Selain itu, Ottawa akan menerapkan tarif balasan terhadap sejumlah produk ekspor AS.

Produk yang menjadi sasaran tarif balasan Kanada antara lain baja, produk susu, peralatan rumah tangga, mesin pertanian, kertas, dan barang elektronik asal AS.

Dalam pidatonya pada hari yang sama, Carney mengindikasikan adanya perubahan syarat pada menit-menit terakhir dari pihak AS yang membuat pemerintah Kanada memanggil kembali tim negosiatornya ke Ottawa.

"Dalam beberapa hari terakhir, Amerika Serikat mengajukan syarat baru yang tidak masuk akal secara ekonomi, tidak adil, dan mengurangi manfaat bersih bagi Kanada serta menimbulkan keraguan terhadap keandalan kesepakatan apa pun," ujar Carney.

"Singkatnya, mereka meminta terlalu banyak dan menawarkan terlalu sedikit."

Carney juga menuding AS berupaya membatasi kemampuan Kanada untuk menjalin perjanjian perdagangan dengan negara lain, yang menurutnya bertentangan dengan kedaulatan Kanada.

Namun, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer justru menyalahkan Kanada atas gagalnya kesepakatan tersebut.

"Ini adalah peluang yang terlewatkan bagi Kanada untuk bermitra dengan Amerika Serikat," kata Greer.

Menurutnya, Kanada menolak merampungkan perjanjian perdagangan berdasarkan syarat yang telah disepakati sebelumnya.

"Meski AS telah menawarkan perlakuan terbaik kepada Kanada dibanding eksportir besar lainnya yang masuk ke pasar kami, tuntutan baru dan penarikan kembali sejumlah komitmen oleh Kanada telah merusak keseimbangan yang dicapai dalam beberapa hari terakhir," ujarnya.

Tarif baru AS akan berdampak pada sekitar 5% ekspor Kanada ke pasar Amerika Serikat, termasuk produk elektronik, mesin industri, dan produk susu. Kebijakan ini menambah daftar tarif yang sebelumnya telah dikenakan AS terhadap baja, kayu, dan kendaraan asal Kanada.

Trump pertama kali memberlakukan tarif terhadap sejumlah produk impor utama Kanada pada awal masa jabatan keduanya tahun lalu. Langkah tersebut dibalas Ottawa dengan berbagai kebijakan tarif balasan.

Sejak saat itu, kedua negara terus terlibat saling balas kebijakan perdagangan, sementara Trump beberapa kali melontarkan ancaman tarif baru.

Pemerintahan Trump mengumumkan tarif 50% tersebut pada Juli lalu setelah menuduh Kanada melakukan "perlakuan diskriminatif terhadap produk-produk Amerika".

Sebelumnya, pada Jumat (22/8/2026) Trump sempat mengatakan kepada wartawan bahwa kesepakatan dengan Kanada kemungkinan masih dapat tercapai, hingga tenggat waktu berakhir kesepakatan tersebut belum terwujud.

(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |