Trump Buat Dolar Makin Ambruk, Sebut Tak Khawatir Kalau Makin Turun

2 hours ago 8

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang dolar AS semakin melemah setelah Donald Trump mengatakan ia tidak khawatir dengan penurunan tajam mata uang Amerika itu dalam beberapa hari terakhir. Hal ini meningkatkan kekhawatiran di pasar mata uang karena kebijakan sang presiden dinilai makin tidak menentu.

Perlu diketahui, pelemahan dolar terjadi saat emas melonjak ke rekor terbaru, Rabu (28/1/2025). Harga emas menembus US$5.200 per troy ounce, bahkan sempat naik 0,7% menjadi US$5.218, setelah lonjakan 3% terjadi Selasa.

Dolar AS sendiri turun 1,3% terhadap banyak mata uang lain, menjadikannya diperdagangkan pada level terendah dalam empat tahun dan turun 2,6% sejak awal tahun 2026. Rabu ini, dolar AS turun lagi 0,1%.

Poundsterling Inggris dan euro misalnya mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2021 terhadap dolar AS. Mata uang bersama Eropa menguat 1,4% menjadi US$1,204, sementara poundsterling melonjak 1,2% menjadi US$1,384.

Yen juga melanjutkan reli tiga hari pada Rabu karena para pedagang di Tokyo bereaksi terhadap komentar Trump Selasa malam itu. Yen mencapai level tertinggi ¥152,3 terhadap dolar, mendekati levelnya ketika Perdana Menteri (PM) Sanae Takaichi diangkat bulan Oktober, yang memicu aksi jual selama tiga bulan.

Guncangan baru dolar AS ini dimulai setelah Trump ditanya dalam sebuah acara di Iowa apakah ia khawatir tentang penurunan nilai mata uang baru-baru ini. Kala itu ia menjawab "Tidak, saya pikir itu bagus".

"Lihat nilai dolar. Lihat bisnis yang kita lakukan. Dolar, dolar sedang bagus," klaim Trump dimuat Financial Times.

Sementara itu, pergeseran ke aset safe haven lainnya juga meningkat pada hari Selasa. Harga perak misalnya melonjak lebih dari 8% menjadi US$112 per ons.

"Penguatan harga emas dan pelemahan dolar mencerminkan keraguan serius atas pembuatan kebijakan yang kacau dan serampangan oleh Trump," kata kepala investasi multi-aset di Royal London Asset Management, mengutip serangan terbaru pemerintahan Trump terhadap Kanada dan Korea Selatan (Korsel).

"Petunjuk yang kredibel bahwa AS mungkin akan campur tangan untuk membeli yen menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan tidak peduli dengan risiko penurunan nilai dolar," tambah Greetham, merujuk pada spekulasi dalam beberapa hari terakhir bahwa AS dan Jepang akan bersama-sama campur tangan di pasar mata uang untuk menghentikan depresiasi yen yang cepat terhadap dolar.

Analis di MUFG menambahkan bahwa euro "mendapatkan keuntungan dari perannya sebagai anti-dolar". Karena kekhawatiran berputar-putar atas pembuatan kebijakan AS.

"Kebijakan AS yang tidak menentu berarti bahwa sementara aset berisiko berkinerja baik, dolar dapat terpukul. Perdagangan 'jual Amerika' adalah tema yang terus-menerus muncul... Investor internasional tidak yakin penurunan dolar telah berakhir," kata kepala ekonom AS di Jefferies, Thomas Simons.

Penyebab Lain: AS Shutdown-Bos The Fed

Di sisi lain, aksi jual dolar AS juga terjadi di tengah kekhawatiran risiko bahwa sebagian pemerintah federal dapat ditutup secepatnya pada hari Sabtu depan. Senator Demokrat telah mengancam untuk menahan dukungan untuk paket pendanaan yang mencakup uang untuk Departemen Keamanan Dalam Negeri kecuali reformasi signifikan dilakukan terhadap penegakan hukum imigrasi.

Investor juga fokus pada ketidakpastian tentang siapa yang akan dinominasikan Trump untuk menggantikan Jerome Powell sebagai ketua bank sentral, Federal Reserve (The Fed/Fed). Masa jabatannya akan berakhir pada bulan Mei.

Ketegangan antara AS dan sekutu NATO juga tengah mencapai puncaknya. Ini akibat tuntutan Trump untuk mengambil alih Greenland, wilayah Denmark.

"Greenland kembali memicu premi risiko dolar," kata ahli strategi FX senior di Barclays,Lefteris Farmakis.

"Terguncangnya tatanan pasca Perang Dunia II merupakan hal negatif jangka panjang bagi dolar," katanya, karena hal itu mendorong investor untuk keluar dari aset berdenominasi dolar atau untuk melakukan lindung nilai terhadap eksposur dolar mereka.

(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |