Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas kembali pecah rekor menembus level US$5.200 per troy ons pada hari ini. Level ini menjadi tonggak sejarah emas tertinggi sepanjang masa.
Pada hari ini, Rabu (28/1/2026) pukul 14.40 WIB, harga emas menyentuh US$ 5.280,87 per troy ons. Harganya terbang 1,7%. Lonjakan harga ini membawa emas ke level baru yakni US$ 5.200 per troy ons. Harga emas bahkan sempat menyentuh ke US$ 5.285 per troy ons yang menjadi puncak tertinggi dalam sejarah.
Lonjakan ini membuat harga emas semakin tak terkendali dengan menguat 22% sepanjang 2026.
Reli kencang harga emas pada Januari 2026 menunjukkan tingginya minat investor terhadap aset haven di tengah ketidakpastian geopolitik yang meluas.
Penyebab Harga Emas Reli di Januari 2026
Sebagaimana diketahui, pada awal Januari Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump kembali berulah dengan menginvasi Venezuela, bahkan menyatakan dirinya Presiden Sementara negara itu dan mengklaim pemerintah AS bisa mengelola cadangan minyak di sana.
Belum berhenti sampai di situ, Trump juga mengungkapkan ambisi-nya ingin menguasai Greenland.
HSBC dalam catatan pekan lalu menilai kenaikan emas dan perak dipicu masalah geo-ekonomi terkait dengan Greenland. Artinya, bukan sekadar urusan politik antar negara tetapi sudah menyangkut kepentingan ekonomi dan strategi yang bisa mempengaruhi arah pasar.
Geopolitik juga semakin meluas dengan ancaman Trump terhadap militer Iran. Baru-baru ini persoalan tarif berhembus lagi dengan ancaman tarif AS ke Kanada sebesar 100%.
Tak hanya itu, Trump juga berulah lagi dengan Jerome Powell, chairman the Fed. Hal ini kemudian memicu spekulasi pasar bahwa independensi the Fed terancam goyah.
Banyaknya huru-hara politik di tengah tren suku bunga yang sedang turun, membuat indeks dolar AS (DXY) turun terus, selama enam sesi perdagangan berlangsung the greenback sudah koreksi kisaran 2% ke level 97.
DXY memiliki hubungan dengan emas, ketika DXY turun pasar menilai harga jual emas akan lebih terjangkau di hargai dengan mata uang asing.
Selain itu, bond yied Jepang yang akhir-akhir ini naik juga memicu harga emas naik lagi.
Bond yield tenor 40 tahun bahkan sudah menembus 4% ke posisi tertinggi sepanjang masa, begitu juga dengan tenor 10 tahun sudah di atas 2,3% menandai posisi tertinggi selama hampir tiga dekade.
Perlu dipahami dulu, ketika yield naik, maka harga turun. Hal ini menunjukkan pasar obligasi Jepang sedang mengalami krisis akibat kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan fiskal dan spekulasi pengetatan suku bunga acuan Jepang.
Emas pun menjadi buruan mengingat fungsinya sebagai safe haven di tengah ketidakpastian dari Jepang tersebut.
Lonjakan emas juga dibantu tumbangnya dolar.
Dolar Amerika Serikat kembali berada di bawah tekanan di pasar global. Pelemahan ini tercermin dari pergerakan indeks dolar AS atau DXY, yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia. Tekanan terhadap dolar semakin terasa setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang dinilai pasar sebagai sinyal bahwa pelemahan dolar tidak dianggap sebagai masalah. Sikap ini membuat pelaku pasar melihat ruang koreksi dolar masih terbuka, sehingga tekanan jual pun bertambah. Dolar adalah musuh utama dan abadi bagi harga emas. Pembelian emas global dikonversi ke dolar AS sehingga melemahnya dolar AS bisa membuat pembelian makin murah dan permintaan diharapkan menguat. Dengan dolar AS yang melemah, harga emas makin berkilau.
Berdasarkan data Refinitiv, DXY melemah 0,85% dan ditutup di level 96,217 pada perdagangan Selasa (27/1/2026). Penurunan tersebut menjadi koreksi harian terdalam sejak April 2025, sekaligus membawa DXY ke posisi terlemah hampir empat tahun atau sejak Februari 2022.
Ganti Level Tiap Hari
Lonjakan harga emas membuat sang logam mulia berganti level dengan cepat bahkan dalam hitungan hari. Bila dulu level emas berganti dalam hitungan bulan kini harganya berubah dengan cepat.
Harga emas bahkan bisa berganti level dalam hitungan sehari seperti yang terjadi pekan ini saat berganti dari US$ 4.900 ke US$ 5.200
History Doesn't Repeat, But it Rhymes
Data historis menunjukkan harga emas yang mengalami kenaikan tajam akan diikuti penurunan tajam kisaran 20-40%.
Pada 1980 harga emas reli lebih dari 400% menuju US$ 850 per troy ons. Setelah itu, pasar mengalami koreksi besar sekitar 50% dari puncak.
Pada 2011 reli terjadi lagi pada harga emas sebanyak 150% menuju puncak baru di US$ 1.921 per troy ons, sayangnya setelah itu koreksi terjadi sampai 43%.
Namun, pada 2025 harga emas reli lebih dari 60% dan masih berlanjut sampai Januari 2026, bahkan kembali cetak rekor ke atas US$ 5000 per troy ons, belum menunjukkan tanda-tanda koreksi.
Bagi pasar, ini bukan sekadar angka bulat memecahkan rekor lagi, melainkan sinyal bahwa kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi global mulai runtuh.
Lonjakan ekstrem emas selama 2025 menegaskan satu hal yakni reli bukan semata soal inflasi atau spekulasi, melainkan cerminan hilangnya rasa aman global. Emas menjadi tempat pelarian terakhir ketika kepercayaan terhadap kebijakan, mata uang, dan stabilitas geopolitik runtuh bersamaan.
Permintaan datang dari berbagai arah-mulai dari bank sentral, hedge fund, hingga investor ritel. Rekor harga tertinggi sepanjang masa pun pecah berulang kali, mencerminkan tekanan global yang kian menumpuk.
Ketika situasi membaik, seharus-nya harga emas tidak akan sekencang saat ini, artinya suatu saat ini harga emas juga akan mengalami normalisasi.
Meskipun saat ini tekanan beli masih tinggi, bukan berarti tidak ada koreksi. Perlu diingat, sejarah memang tidak bisa diulang, tetapi itu berirama.
Menelusuri lebih jauh terhadap harga emas dalam setahun terakhir, sudah ada beberapa kali rekor kami catat terjadi pada 2025, dan kali ini rekor baru kembali ditorehkan pada Januari 2026.
Februari 2025
Harga emas pada bulan Februari mencapai level US$2.900 per troy ons untuk pertama kalinya, didorong oleh kebijakan tarif impor baru dari Presiden Trump, melemahnya sentimen konsumen AS, dan pelemahan pasar saham Wall Street yang membebani pasar global.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan rencana penerapan tarif timbal balik terhadap banyak negara, termasuk tarif 10% terhadap seluruh impor dari China. Kebijakan ini memicu kekhawatiran eskalasi perang dagang, sehingga menekan sentimen pasar global dan memperkuat permintaan safe haven seperti emas.
Indeks keyakinan konsumen AS (University of Michigan) turun menjadi 67,8 pada Februari 2025 dari 71,1 di Januari, level terendah dalam tujuh bulan. Penurunan ini dikaitkan dengan ekspektasi kenaikan tarif impor yang akan mendorong kenaikan harga barang, sehingga memperburuk outlook konsumsi domestik.
Pertumbuhan lapangan kerja AS di Januari 2025 melambat lebih dari perkiraan, meskipun tingkat pengangguran tetap di 4%. Data ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan menunda pemangkasan suku bunga, yang membuat pasar keuangan lebih volatile dan cenderung negatif.
Maret 2025
Pada Maret 2025 harga emas dunia berhasil menembus level US$3.000 hingga US$3.100 per troy ons. Pada bulan tersebut, ketegangan geopolitik di beberapa kawasan menjadi pendorong utama kenaikan harga emas. Konflik di Timur Tengah dan Ukraina masih berlangsung, meningkatkan risiko terhadap stabilitas energi dan rantai pasok global. etegangan perdagangan global, termasuk kebijakan tarif baru dari AS, menimbulkan kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi dan inflasi.
sangat agresif. Trump menggandakan tarif impor baja dan aluminium dari Kanada, lalu mengancam tarif 200% untuk anggur dan minuman keras Uni Eropa sebagai balasan atas pajak ekspor wiski AS.
Kebijakan ini memicu kekhawatiran bahwa perang dagang bisa memperburuk inflasi, memperlambat pertumbuhan ekonomi, dan bahkan membawa AS ke resesi, disebut "Trumpcession".
Investor khawatir bahwa proteksionisme justru akan mengganggu rantai pasok, menaikkan harga barang, dan mengurangi kepercayaan bisnis. Yang pada akhirnya, investor institusi dan ritel mencari safe haven, sehingga emas menjadi pilihan utama untuk lindung nilai (hedging) terhadap risiko.
April 2025
Harga emas menembus US$3.500 per troy ons pada April 2025. Kenaikan harga emas dunia (XAU) pada April 2025 didorong oleh kombinasi ketidakpastian geopolitik, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed, dan pembelian besar oleh bank sentral, yang membuat emas kembali menjadi aset safe haven utama di tengah ancaman resesi global.
Pada April 2025, ketegangan perdagangan dan geopolitik menjadi pendorong utama kenaikan emas, terutama setelah pengumuman tarif dagang oleh Trump.
Kebijakan tarif impor yang diperketat oleh AS terhadap banyak negara (termasuk China) memicu kekhawatiran perang dagang dan gangguan rantai pasok global. Investor global pun mencari aset yang dianggap aman (safe haven), dan emas menjadi pilihan utama karena nilainya tidak tergantung pada mata uang atau obligasi negara tertentu.
Kebijakan tarif impor yang diperluas oleh pemerintah AS terhadap Kanada, Meksiko, China, dan sektor tertentu (seperti semikonduktor dan farmasi) menciptakan ketidakpastian besar di pasar. Investor dan pelaku usaha khawatir tarif ini akan meningkatkan biaya produksi, mengganggu rantai pasok, dan memperlambat pertumbuhan ekonomi AS.
Ketua Federal Reserve Jerome Powell juga memperingatkan bahwa tarif yang tinggi bisa mendorong inflasi lebih tinggi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi, sehingga meningkatkan risiko resesi. Kekhawatiran ini tercermin dari kontraksi ekonomi AS di kuartal pertama 2025 dan pelemahan kinerja sektor konsumen dan kesehatan, meskipun sektor perbankan dan korporasi masih menunjukkan kinerja yang solid.
September 2025
Harga emas menyentuh level US$3.600 per troy ons pada September 2025 usai mengalami sideaway cukup panjang sejak rekor baru di April 2025. Kenaikan harga emas bulan tersebut didorong oleh ekspektasi penurunan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), yang akhirnya benar-benar terjadi.
Pada pertemuan FOMC 16-17 September 2025, The Fed memutuskan untuk memangkas suku bunga sebesar 25 bps, menurunkan target range federal funds rate dari 4,25%-4,50% menjadi 4,00%-4,25%. Pemangkasan ini merupakan yang pertama sejak akhir 2023, setelah The Fed mempertahankan suku bunga tinggi selama 9 bulan untuk menekan inflasi.
Keputusan ini didorong oleh perlambatan pasar tenaga kerja, dimana job gains yang lambat dan pengangguran yang mulai naik, meskipun inflasi masih sedikit di atas target 2%. The Fed menyebut keputusan ini sebagai langkah untuk menjaga kondisi pasar tenaga kerja tetap kuat, sambil tetap berkomitmen mengembalikan inflasi ke target.
Oktober 2025
Harga emas pun akhirnya mencapai US$4.300 per troy ons pada periode Oktober 2025. The Federal Reserve (The Fed) kembali memangkas suku bunga acuannya, selain itu juga penutupan pemerintah AS.
Pada pertemuan FOMC bulan Oktober 2025, The Fed kembali memangkas suku bunga sebesar 25 bps, dari 4,00-4,25% menjadi 3,75-4,00%. Pemangkasan ini merupakan respons terhadap data ketenagakerjaan yang semakin lemah, termasuk pertumbuhan lapangan kerja yang sangat lambat dan kenaikan pengangguran di kelompok tertentu.
Shutdown pemerintah Amerika Serikat tahun 2025 dimulai pada tanggal 1 Oktober 2025 pukul 00.01 waktu Washington (EDT), setelah Kongres gagal mengesahkan undang-undang anggaran untuk tahun fiskal 2026.
Shutdown ini terjadi karena Kongres AS tidak mencapai kesepakatan mengenai anggaran belanja federal untuk tahun fiskal 2026 yang dimulai pada 1 Oktober 2025. Partai Republik dan Demokrat berselisih soal tingkat pengeluaran, pemangkasan bantuan luar negeri, serta perpanjangan subsidi asuransi kesehatan (Affordable Care Act) yang akan berakhir pada November 2025.
Selain itu, pada Oktober 2025, dua bank regional AS mengungkap masalah kredit besar yang diduga terkait penipuan, memicu kekhawatiran baru terhadap kualitas pinjaman dan stabilitas sektor perbankan. Kondisi ini memperkuat arus dana ke aset safe haven seperti emas, karena investor mencari tempat yang lebih aman dari risiko kredit dan potensi krisis keuangan.
Adapun, tensi antara Amerika Serikat dan China meningkat tajam pada periode tersebut, termasuk dalam isu perdagangan, teknologi, dan keamanan. Ketegangan geopolitik yang memanas membuat investor global memperbesar alokasi ke emas sebagai lindung nilai terhadap risiko politik dan konflik, yang langsung mendorong kenaikan harga.
Desember 2025
Harga emas pertama kalinya menyentuh level US$4.500 per troy ons. Lonjakan ini membuat emas mencetak rekor tertinggi baru, didorong oleh aliran dana besar ke aset safe haven dan pembelian emas batangan oleh bank sentral, yang didorong oleh pemangkasan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
The Fed menurunkan target range suku bunga federal funds dari 3,75%-4,00% menjadi 3,50%-3,75% dalam rapat FOMC tanggal 9-10 Desember 2025.. Ini merupakan pemangkasan ketiga di tahun 2025, setelah sebelumnya memangkas suku bunga pada bulan September dan Oktober 2025.
Keputusan ini diambil karena The Fed melihat pertumbuhan lapangan kerja yang lambat dan tingkat pengangguran yang sedikit meningkat, meskipun inflasi masih relatif tinggi. Dalam pernyataannya, The Fed menyebut bahwa "job gains have slowed this year, and the unemployment rate has edged up", sehingga perlu dukungan dari kebijakan moneter yang lebih longgar.
Pemangkasan Desember 2025 didorong oleh beberapa faktor utama, mulai dari pasar tenaga kerja yang melambat, inflasi yang masih tinggi tapi mulai terkendali dimana Inflasi inti masih di atas target 2%, tetapi trennya mulai melambat, memberi ruang bagi pemangkasan.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)

1 hour ago
1















































