Tok! China Perketat Ekspor Perak Mulai Hari Ini, Miliuner Ketar-ketir

3 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah China resmi memperketat kontrol ekspor perak mulai Kamis (1/1/2026). Langkah ini memperluas pembatasan pada logam yang kini dianggap strategis dan sangat krusial bagi rantai pasok industri serta pertahanan Amerika Serikat (AS).

Kebijakan ini langsung memicu reaksi keras miliuner dunia, salah satunya bos Tesla, Elon Musk. Melalui platform media sosial X, Musk menyatakan keprihatinannya terhadap dampak pembatasan tersebut pada proses manufaktur global.

"Ini tidak baik. Perak sangat dibutuhkan dalam banyak proses industri," tulis Musk menanggapi laporan mengenai kebijakan baru Beijing tersebut.

Meskipun pengumuman kontrol ini sudah disampaikan Kementerian Perdagangan China sejak Oktober lalu, kebijakan yang berlaku per hari ini secara resmi menaikkan status perak dari komoditas biasa menjadi material strategis. Hal ini menempatkan perak dalam level pengawasan regulasi yang sama dengan logam tanah jarang (rare earths).

Selain perak, aturan baru di tahun 2026 ini juga membatasi ekspor tungsten dan antimoni, dua material yang pasokan globalnya didominasi oleh China dan digunakan secara luas dalam teknologi pertahanan canggih.

Langkah Beijing ini merupakan bagian dari dinamika hubungan dagang dengan AS. Saat pengumuman awal Oktober lalu, Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping sempat menyepakati gencatan senjata tarif selama satu tahun, namun pengawasan terhadap logam langka tetap diperketat oleh pihak China.

Pengetatan ekspor ini terjadi di tengah lonjakan harga perak yang luar biasa. Sepanjang tahun 2025, harga perak tercatat naik lebih dari dua kali lipat, menuju performa tahunan terbaiknya sejak 1979.

Awal pekan ini, harga perak sempat menyentuh rekor di atas US$ 80 (Rp 1,3 juta) per ounce sebelum diperdagangkan di kisaran US$ 73 (Rp 1,2 juta). Lonjakan ini berbanding terbalik dengan performa Dollar AS.

Indeks Dollar AS (DXY) anjlok hampir 9,5% sepanjang 2025, kinerja terburuknya sejak 2017. Analis menilai kenaikan harga emas dan perak mencerminkan pergeseran investor yang mulai meninggalkan Dollar AS.

"Lonjakan harga ini adalah peringatan keras bagi ekonomi AS," ujar Profesor Ekonomi di George Mason University, Tyler Cowen.

Dampak pembatasan China mulai terasa di pasar fisik. CEO Kuya Silver yang berbasis di Kanada, David Stein, mengonfirmasi kepada CNBC International bahwa beberapa perusahaan China dan pembeli dari India mulai berebut pasokan fisik perak, bahkan berani menawar dengan harga premi US$ 8 (Rp 130 ribu) hingga US$ 10 (Rp 160 ribu)di atas harga pasar.

Data menunjukkan betapa dominannya China dalam pasar ini. Dalam 11 bulan pertama tahun 2025, China mengekspor lebih dari 4.600 ton perak, jauh melampaui angka impornya yang hanya sekitar 220 ton.

(tps/sef)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |