Terima Kasih Warga Indonesia Sudah Belanja, Ekonomi Ngebut

2 hours ago 2

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

06 February 2026 12:22

Jakarta, CNBC Indonesia - Konsumsi masyarakat masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Di dalamnya, kelompok transportasi dan komunikasi serta restoran dan hotel tercatat sebagai dua komponen dengan pertumbuhan paling tinggi. Meskipun, kontribusi terbesar masih pada konsumsi makanan.

Badan Pusat Statistik (BPS) pada Kamis (5/2/2026), melaporkan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal IV-2025 tumbuh 5,39% secara tahunan (year-on-year/yoy) dan 0,86% secara kuartalan (quarter-on-quarter/qoq). Dengan capaian tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 mencapai 5,11%.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan PDB pada 2025 masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang berkontribusi sekitar 53,8% terhadap PDB 2025. Konsumsi rumah tangga juga tetap solid sepanjang 2025 dengan pertumbuhan 4,98% (yoy) atau naik dibandingkan tahun sebelumnya yang tumbuh 4,94%.

Bahkan pada kuartal IV-2025, konsumsi rumah tangga mampu tumbuh 5,11% (yoy) dan menjadi laju pertumbuhan tertinggi sejak kuartal II-2023, atau yang paling kuat dalam lebih dari dua tahun.

Transportasi dan Komunikasi Paling Kencang di Akhir 2025

Pada Kuartal IV 2025, komponen transportasi dan komunikasi mencatat pertumbuhan 6,31% yoy dan menjadi yang tertinggi di antara seluruh komponen konsumsi rumah tangga.

Meskipun dari sisi distribusi terhadap PDB, komponen ini menyumbang sekitar 12% pada Kuartal IV-2025 atau bukan menjadi yang terbesar.

Namun pertumbuhan ini biasanya ditopang oleh meningkatnya mobilitas di akhir tahun, mulai dari perjalanan liburan, aktivitas bisnis, hingga pergerakan logistik. Kebutuhan komunikasi dan layanan data juga tetap tinggi seiring aktivitas digital yang makin padat.

Implikasinya, dorongan dari mobilitas dan konektivitas memberi sinyal permintaan domestik masih bergerak dan dapat menjaga kinerja sektor jasa terkait transportasi, telekomunikasi, dan ekonomi digital.

Restoran dan Hotel Menyusul, Aktivitas Jasa Masih Ramai

Komponen restoran dan hotel tumbuh 6,28% yoy pada Kuartal IV 2025. Laju ini mengindikasikan belanja masyarakat pada layanan makan minum di luar rumah serta akomodasi masih kuat, terutama pada momen akhir tahun.

Sejalan dengan penjelasan BPS dalam rilisnya, penguatan restoran dan hotel kerap terjadi ketika mobilitas dan kegiatan wisata meningkat pada periode libur akhir tahun, termasuk Natal dan Tahun Baru.

BPS juga pernah menyampaikan bahwa dorongan pada kelompok ini dengan momentum libur sekolah serta hari besar keagamaan, yang biasanya mendorong kenaikan perjalanan dan aktivitas konsumsi di luar rumah.

Implikasinya, sektor jasa berbasis pariwisata dan hospitality tetap menjadi penggerak perputaran ekonomi, terutama di daerah tujuan wisata dan pusat bisnis, sekaligus memberi ruang pemulihan pendapatan pelaku usaha jasa.

Makanan dan Minuman Kembali Menguat, Terkuat Sejak Pandemi

Komponen makanan dan minuman selain restoran tumbuh 4,42% yoy pada Kuartal IV 2025. Serta masih menjadi distribusi terbesar dalam konsumsi rumah tangga dengan porsi 21,88% terhadap PDB.

Angka ini menjadi laju pertumbuhan tertinggi sejak Kuartal I 2020 yang saat itu tumbuh 5,01% yoy, sehingga dapat dibaca sebagai level terkuat sejak masa pandemi Covid 19.

Penguatan ini menunjukkan konsumsi kebutuhan dasar makin stabil, seiring daya beli yang relatif terjaga dan pola belanja rumah tangga yang tetap memprioritaskan kebutuhan primer. Hal ini membuat kinerja pos kebutuhan pokok yang menguat memberi bantalan bagi pertumbuhan, karena komponen ini cenderung tahan banting saat rumah tangga menahan belanja non esensial.

Kesehatan dan Pendidikan Menggeliat, Pertumbuhan Tertinggi dalam Dua Tahun

Komponen kesehatan dan pendidikan tumbuh 4,8% yoy pada Kuartal IV 2025 dan menjadi level tertinggi sejak Kuartal II 2023 ketika tumbuh 5,51% yoy. Artinya, pertumbuhan pada akhir 2025 ini merupakan yang paling kuat dalam dua tahun terakhir.

Penguatan ini mengarah pada normalisasi layanan yang semakin solid dan kecenderungan rumah tangga mulai memberi ruang lebih besar untuk belanja yang bersifat investasi jangka panjang, seperti pendidikan dan layanan kesehatan.

Kenaikan pada kesehatan dan pendidikan dapat dilihat sebagai perbaikan kualitas konsumsi, karena mencerminkan peningkatan perhatian pada produktivitas dan kualitas hidup yang berpotensi mendukung daya saing ekonomi ke depan.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |