Terbongkar! Ini Strategi Rahasia Israel Perkuat Mata Uangnya

2 hours ago 3

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

07 February 2026 14:30

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Israel terus menguat seiring dengan aksi jual mata uang asing oleh institusi-institusi besar Israel.

Berdasarkan data Refinitiv, pergerakan mata uang Israel yakni shekel (ILS) terus mengalami penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam setahun terakhir. Tercatat dalam 12 bulan terakhir, shekel menguat hingga 11,91%.

Penguatan itu membawa kurs terakhir ke level ILS 3,119/US$ pada penutupan perdagangan Jumat (6/2/2026). Bahkan, shekel sempat mencatatkan level penutupan terkuatnya dalam 30 tahun atau sejak Maret 1996, ketika ditutup menguat 0,33% ke level ILS 3,0742/US$ pada Kamis (29/1/2026).

Penguatan shekel ini terjadi di tengah perubahan strategi pengelolaan portofolio oleh institusi keuangan Israel yang secara bertahap mengurangi eksposur terhadap mata uang asing.

Data Bank of Israel menunjukkan, pada periode September-November 2025, eksposur valuta asing institusi turun dari 23,1% dari total aset menjadi 22,1%, atau turun 1%.

Melansir dari Globes, kepala ekonom Meitav Alex Zabezhinsky melihat dari 10 institusi keuangan terbesar di Israel dan menemukan penurunan eksposur berlanjut pada Desember hingga di bawah 19%.

Level ini bahkan lebih rendah dibanding akhir 2022, sebelum memanasnya isu perombakan yudisial yang sempat diikuti dengan pelemahan shekel.

Perbedaan strategi juga terlihat antar institusi. Menurut perusahaan pembanding dana provident Gemel Net, Menora Mivtachim mencatat eksposur mata uang sebesar 21,4% dan Phoenix Financial 21,1% sehingga masih tergolong tinggi. Sementara itu, Altshuler Shaham berada di 17,2% dan Harel 17,6% yang menunjukkan pemangkasan eksposur lebih agresif.

Cara Institusi Tekan Eksposur Dolar: Hedging hingga Alih Portofolio ke Domestik

Zabezhinsky menjelaskan, cara umum untuk menekan eksposur mata uang adalah lewat lindung nilai (hedging). Jika portofolio setengah berada di Israel dan setengah di luar negeri, namun target eksposur mata uang hanya 20%, maka sisanya dapat ditutup lewat kontrak berjangka yang pada dasarnya "menjual dolar" untuk tanggal di masa depan, sehingga eksposur mata uang asing berkurang.

Namun dalam periode terakhir, Zabezhinsky menilai metode yang dipilih institusi tergolong jarang: menjual investasi luar negeri lalu membeli aset di Israel. Pergeseran ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa pasar Israel dianggap berkinerja lebih baik, sekaligus menciptakan dorongan tambahan bagi penguatan shekel karena aliran dana kembali ke aset domestik.

Akankah Bank Sentral Melakukan Intervensi?

Pertanyaan kunci kini mengarah ke bank sentral, apakah Bank of Israel akan melakukan intervensi di pasar valas. Kepala ekonom Bank Mizrahi Tefahot, Ronen Menachem menilai bank sentral cenderung bertindak hanya jika menyimpulkan terjadi kegagalan pasar.

Ia juga menekankan bahwa dolar yang lemah dinilai menguntungkan kepentingan AS, membantu Presiden Donald Trump dan ekspor AS, sehingga tidak ada alasan kuat untuk mengasumsikan dolar akan menguat tajam.

Sejalan dengan itu, ulasan mingguan Bank Hapoalim menyebut Trump berbeda dari presiden AS sebelumnya yang cenderung memuji dolar kuat. Trump justru menyatakan dukungan terhadap dolar yang melemah dan membiarkan mata uang menemukan levelnya.

Meitav menambahkan, pemerintah AS memandang intervensi valas sebagai upaya mencari keuntungan kompetitif, dan ada negara-negara yang masuk daftar hitam Departemen Keuangan AS. Kondisi ini membuat pasar tidak berharap perubahan arah yang besar untuk shekel dalam waktu dekat.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/luc)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |