Jakarta, CNBC Indonesia - Kebijakan tarif impor yang diterapkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kini mulai memukul balik para raksasa ritel Negeri Paman Sam. Perusahaan besar seperti Estee Lauder hingga Ralph Lauren terpaksa melakukan langkah ekstrem, mulai dari menaikkan harga jual hingga memperbesar anggaran iklan untuk menyasar kelompok kaya, demi menutupi lonjakan biaya akibat beban bea masuk yang kian mencekik.
Sektor ritel yang bersentuhan langsung dengan konsumen menjadi kelompok yang paling menderita akibat kebijakan tarif Trump yang memicu kenaikan biaya input dan menekan permintaan. Untuk bertahan, perusahaan-perusahaan ini kini harus merogoh kocek lebih dalam guna mengubah strategi bisnis di tengah pasar yang kian terbelah antara kelompok mampu dan kelompok menengah bawah yang kesulitan akibat mahalnya biaya sewa dan pangan.
Tapestry, induk perusahaan merek mewah Coach, melaporkan kenaikan margin pada kuartal ini berkat penjualan tas tangan Tabby, meski mereka harus mendongkrak anggaran pemasaran hingga 40%. Di sisi lain, dampak tarif mulai merongrong kinerja merek Kate Spade yang juga berada di bawah naungan grup tersebut.
"Investasi ini membantu memperkuat upaya pembangunan merek kami," kata CEO Tapestry Joanne Crevoiserat kepada Reuters, Kamis (5/2/2026).
Langkah investasi besar-besaran ini diambil justru saat stok barang yang terkena tarif mulai membanjiri inventaris perusahaan, dengan prediksi dampak puncak beban bea masuk akan terjadi dalam beberapa bulan ke depan. Namun, para investor mulai meragukan efektivitas lonjakan belanja iklan yang dilakukan oleh Estee Lauder, Ralph Lauren, dan Canada Goose di tengah ketidakpastian ekonomi.
"Bagi perusahaan yang sempat tidak stabil, ada peluang lebih tinggi munculnya laporan pendapatan yang berisiko," ujar Illia Kyslytskyi, Manajer Portofolio Yaru Investments yang berbasis di Singapura.
"Dalam hal anggaran pemasaran, perusahaan harus mewaspadai kemungkinan penurunan permintaan di segmen kemewahan yang terjangkau," tambah Illia Kyslytskyi.
Margin Tergerus dan Proyeksi Laba Ambles
Estee Lauder kini berupaya beralih ke kategori kosmetik dan parfum premium dengan menaikkan tingkatan harga di bawah kepemimpinan CEO Stephane de La Faverie untuk memulihkan kinerja setelah dihantam pelemahan permintaan. Namun, beban tarif tetap menjadi ancaman nyata bagi keuntungan perusahaan dalam jangka panjang.
Estee Lauder memperkirakan kebijakan tarif ini akan menggerus laba tahunan mereka hingga US$ 100 juta (Rp 1,68 triliun) pada paruh kedua tahun ini. Perusahaan juga memproyeksikan margin kuartal saat ini akan menyusut sebesar 50 basis poin, yang memicu kejatuhan harga saham mereka hingga 20% pada perdagangan Kamis.
Kondisi serupa dialami oleh Ralph Lauren yang berbasis di New York, di mana biaya operasional kuartalannya melonjak 12% secara tahunan akibat belanja iklan besar di turnamen tenis Wimbledon dan US Open. Perusahaan memprediksi margin akan menyusut antara 80 hingga 120 basis poin pada kuartal berjalan karena tingginya pengeluaran dan sulitnya lingkungan operasional di Amerika Utara.
Sementara itu, Canada Goose gagal mencapai target laba kuartalan yang mengakibatkan harga sahamnya jatuh tajam, karena perusahaan belum berani memulihkan proyeksi keuangan yang sempat ditarik akibat ketidakpastian tarif. Perusahaan tetap meningkatkan investasi pemasaran meski kondisi fundamental mereka terus mendapat sorotan dari para analis pasar modal.
"Kami pikir mereka juga perlu mengembalikan proyeksi kuartalan atau setidaknya tahunan untuk memberikan keyakinan kepada komunitas investasi bahwa peningkatan pengeluaran yang berkelanjutan akan normal kembali sehingga penurunan pendapatan berhenti," ungkap Laurent Vasilescu, Analis Senior BNP Paribas Equity Research.
(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]

1 hour ago
2
















































