Jakarta, CNBC Indonesia - Dokumen internal FBI yang dipublikasikan Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) kembali membuka sisi gelap kehidupan Jeffrey Epstein, tidak hanya terkait jaringan kejahatan seksualnya, tetapi juga dugaan keterkaitannya dengan lembaga-lembaga pro-Israel serta spekulasi aktivitas intelijen lintas negara.
Dalam dokumen tersebut terungkap bahwa Epstein, terpidana pelaku kejahatan seksual, pernah menyalurkan dana kepada Friends of Israel Defense Forces (FIDF) dan organisasi pembangunan permukiman Jewish National Fund (JNF).
Catatan FBI menunjukkan Epstein mengirimkan sumbangan sebesar US$25.000 kepada FIDF, yang menyebut dirinya sebagai "organisasi resmi" yang berwenang menggalang dana amal bagi para tentara Israel di seluruh Amerika Serikat.
Selain itu, Epstein juga tercatat menyumbang US$15.000 kepada JNF. Dalam situs resminya, JNF menyatakan bahwa organisasi tersebut "memberikan semua generasi Yahudi suara yang unik dalam membangun masa depan yang makmur bagi tanah Israel dan rakyatnya".
Publikasi dokumen ini menjadi bagian dari jutaan halaman arsip yang dirilis Departemen Kehakiman AS pekan lalu, yang memuat berbagai informasi baru seputar kehidupan Epstein, jaringan relasinya, serta dugaan aktivitas intelijen.
Salah satu bagian paling kontroversial dari dokumen tersebut adalah pengakuan seorang informan rahasia FBI, yang disebut sebagai confidential human source (CHS). Dalam laporan internal pemerintah, sebagaimana dikutip Anadolu Agency, Senin (9/2/2026), informan itu mengaku "teryakinkan" bahwa Epstein adalah seorang mata-mata Israel.
Dokumen itu menguraikan bahwa CHS mengingat percakapan di mana pengacara Epstein, Alan Dershowitz, menyampaikan kepada Jaksa Federal Distrik Selatan Florida saat itu, Alexander Acosta, "bahwa Epstein tergabung dalam dinas intelijen AS dan sekutunya."
"CHS membagikan rekaman panggilan telepon antara Dershowitz dan Epstein, di mana Dershowitz mencatat berbagai hal. Setelah panggilan tersebut, Mossad kemudian akan menghubungi Dershowitz untuk memberikan pengarahan. Epstein dekat dengan mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak, dan dilatih sebagai mata-mata di bawah bimbingannya," kata laporan tersebut.
Dalam catatan itu juga disebutkan bahwa Barak "percaya Netanyahu adalah seorang penjahat," dan bahwa informan "menjadi yakin bahwa Epstein adalah agen Mossad yang telah direkrut" di tengah rivalitas regional yang melibatkan Israel.
Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dalam pernyataan publik pertamanya terkait dokumen Epstein, Netanyahu menulis di platform media sosial X bahwa Epstein "tidak bekerja untuk Israel".
Netanyahu menambahkan bahwa hubungan dekat Epstein dengan Ehud Barak justru tidak membuktikan keterlibatan intelijen. Menurutnya, hubungan tersebut "Hal itu tidak menunjukkan bahwa Epstein bekerja untuk Israel. Justru membuktikan sebaliknya."
Rilis terbaru dokumen Epstein juga kembali menyinggung sejumlah tokoh terkenal, termasuk Alan Dershowitz, serta figur-figur dari kalangan elite politik dan finansial Amerika Serikat.
Epstein sendiri ditemukan tewas di sel penjara New York pada 2019, saat menunggu persidangan atas tuduhan perdagangan seks. Kematian tersebut menimbulkan berbagai spekulasi karena terjadi di tengah sorotan publik global.
Sebelumnya, pada 2008, Epstein sempat mengaku bersalah di pengadilan negara bagian Florida dan divonis atas kasus "menyediakan anak di bawah umur untuk prostitusi". Namun, vonis itu menuai kritik luas karena dianggap terlalu ringan.
Kesepakatan hukum tersebut disetujui oleh Alexander Acosta, yang kemudian hari disebut-sebut memberikan "sweetheart deal" kepada Epstein.
Para korban Epstein menuduh bahwa ia menjalankan jaringan perdagangan seks berskala besar yang melibatkan perempuan di bawah umur dan digunakan oleh anggota elite kaya serta tokoh politik. Tuduhan itu menjadi dasar utama penyelidikan federal yang berujung pada penahanannya sebelum kematiannya pada 2019.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

1 hour ago
3
















































