Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah meningkatnya tekanan militer Amerika Serikat terhadap Venezuela, Presiden Nicolas Maduro memilih menghindari jawaban tegas soal dugaan serangan AS ke sebuah fasilitas dermaga di negaranya. Namun, ia menegaskan tetap membuka pintu dialog dan kerja sama dengan Washington, termasuk dalam isu narkotika, minyak, dan migrasi.
Dalam wawancara dengan televisi pemerintah, Maduro mengatakan Venezuela siap berdialog dengan Amerika Serikat "di manapun dan kapanpun," ketika ditanya mengenai kemungkinan pembicaraan dengan Washington. Pernyataan itu disampaikan setelah berminggu-minggu tekanan militer dan politik dari pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap Caracas.
"Di manapun mereka mau dan kapanpun mereka mau," ujar Maduro, merujuk pada gagasan dialog dengan Amerika Serikat mengenai perdagangan narkoba, minyak, dan migrasi, sebagaimana dilansir AFP, Jumat (2/1/2026).
Pemerintah Venezuela sejauh ini belum mengonfirmasi maupun membantah klaim Trump yang diumumkan pada Senin, bahwa Amerika Serikat telah menyerang sebuah fasilitas sandar kapal yang disebut digunakan oleh perahu-perahu penyelundup narkoba asal Venezuela. Ketika ditanya secara langsung apakah ia mengonfirmasi atau menyangkal adanya serangan tersebut.
"Ini bisa menjadi sesuatu yang kita bicarakan dalam beberapa hari," katanya.
Jika benar terjadi, serangan itu akan menjadi aksi serangan darat pertama yang diketahui secara publik dalam kampanye militer Amerika Serikat melawan perdagangan narkoba dari Amerika Latin. Trump sebelumnya mengatakan bahwa AS telah menghantam dan menghancurkan sebuah area dermaga yang diduga digunakan oleh kapal-kapal pengangkut narkoba Venezuela.
Trump tidak memerinci apakah operasi tersebut dilakukan oleh militer atau CIA, maupun lokasi pastinya. Ia hanya menyebut serangan itu terjadi "di sepanjang pantai."
"Terjadi ledakan besar di area dermaga tempat mereka memuat perahu-perahu dengan narkoba," kata Trump kepada wartawan di resor Mar-a-Lago miliknya di Florida.
"Jadi kami menghantam semua perahu itu dan sekarang kami menghantam areanya, area implementasinya, di situlah mereka beroperasi. Dan sekarang itu sudah tidak ada lagi."
Dalam wawancara yang sama, Maduro bersikeras bahwa Venezuela mampu mempertahankan diri dengan baik selama Amerika Serikat menjalankan kampanye militernya di laut. "Rakyat kami aman dan hidup dalam damai," katanya.
Maduro juga mengungkapkan bahwa ia belum berbicara lagi dengan Trump sejak percakapan terakhir mereka pada 12 November lalu, yang ia gambarkan berlangsung hangat. "Saya pikir percakapan itu bahkan menyenangkan, tetapi sejak itu perkembangannya tidak menyenangkan. Mari kita tunggu," kata Maduro. Ia menambahkan, "Jika mereka ingin berbicara secara serius tentang kesepakatan untuk memerangi perdagangan narkoba, kami siap."
Pemerintahan Trump menuduh Maduro memimpin sebuah kartel narkoba dan menyatakan tengah memperketat penindakan terhadap perdagangan gelap tersebut. Tuduhan itu dibantah oleh Maduro, yang menyebut dirinya tidak terlibat dalam bisnis narkotika dan menuding Amerika Serikat berupaya melakukan kudeta karena Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar yang diketahui di dunia.
Tekanan Washington terhadap Caracas terus meningkat, antara lain dengan penutupan wilayah udara Venezuela secara informal, penambahan sanksi, serta perintah penyitaan kapal-kapal tanker bermuatan minyak Venezuela.
Selama beberapa pekan terakhir, Trump juga berulang kali mengancam akan melancarkan serangan darat terhadap kartel narkoba di kawasan tersebut, seraya mengatakan operasi itu akan dimulai "segera." Klaim serangan ke dermaga Venezuela disebut-sebut sebagai contoh pertama dari ancaman tersebut.
Sejak September, pasukan Amerika Serikat juga telah melancarkan banyak serangan terhadap kapal-kapal di Laut Karibia dan Samudra Pasifik bagian timur, yang menurut Washington menargetkan penyelundup narkoba. Kampanye maritim yang mematikan itu telah menewaskan sedikitnya 107 orang dalam sedikitnya 30 serangan, berdasarkan informasi yang dirilis oleh militer AS.
Namun, pemerintahan AS tidak memberikan bukti bahwa kapal-kapal yang diserang memang terlibat dalam perdagangan narkoba. Hal ini memicu perdebatan mengenai legalitas operasi tersebut.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

3 hours ago
2

















































