Nusa Dua, CNBC Indonesia - Salah satu dampak dari ketegangan di Timur Tengah adalah konektivitas global yang terganggu. Mulai dari kabel laut yang melewati kawasan hingga pembangunan dan pemeliharaan kabel laut di sana.
"Kemudian situasi tadi di Timur Tengah, Selat Hormuz maupun Laut Merah, kemarin rawan semua kondisi seperti itu," kata Direktur Layanan Wholesale & Internasional Telkom Indonesia, Budi Satria Dharma Purba, dalam konferensi pers, di Nusa Dua Bali, Selasa (25/8/2026).
Di tengah situasi itu, sebenarnya Indonesia memiliki peluang. Kalau negara seperti India, Pakistan, dan Bangladesh bisa dibawa ke perairan Indonesia untuk terhubung ke Amerika Serikat, tidak perlu lagi melewati Timur Tengah.
Hal serupa sebenarnya pernah dilakukan saat Perang Dagang antara China dan Amerika Serikat (AS). Dia mengatakan Telin membangun kabel Bifrost antara Singapura hingga AS yang menghindari Laut China Selatan.
Ternyata rute baru itu peminatnya banyak. Termasuk sejumlah perusahaan AS yang memilih jalur itu.
"Peminatnya tinggi sekali. Semua berbondong-bondong. Perusahaan Amerika memilih itu sebagai prioritas," kata Budi.
Telin sendiri melalui Indonesia Cable Express (ICE) akan menhubungkan semua wilayah kontingen. Dengan begitu akan memunculkan rute-rute baru konektivitas.
"Kita ingin menjadikan Indonesia ini adalah rute alternatif baru, untuk memberikan resiliensi dari infradtruktur konektivitas global," kata dia.
Cara ini juga diharapkan bisa mendatangkan investasi ke Indonesia. Karena konektivitasnya telah hadir dari tanah air menuju ke seluruh negara dunia.
"Kalau itu yang terjadi banyak sekali investasi yang datang ke Indonesia. Karena konektivitas telah ada dari Indonesia ke seluruh negara," jelas Budi.
(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]

10 hours ago
3

















































