Jakarta, CNBC Indonesia - Sejak Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri, atau setidaknya memulai proses mengakhiri, hampir empat bulan perang, perhatian publik banyak tertuju pada apakah kesepakatan tersebut memberikan konsesi yang lebih besar kepada Teheran dibandingkan tuntutan awal Presiden AS Donald Trump yang pernah menyerukan "penyerahan tanpa syarat" Republik Islam itu.
Namun di balik perdebatan tersebut, para analis menilai ada pihak lain yang muncul sebagai pemenang strategis dari konflik tersebut, meski tidak pernah melepaskan satu tembakan pun: China.
Sejak awal perang, Beijing mengambil posisi menentang konflik. Pemerintah China mengecam perang tersebut, mengutuk tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat senior lainnya dalam gelombang serangan awal AS-Israel, serta secara konsisten mendorong penyelesaian melalui jalur negosiasi.
Kini, ketika Washington dan Teheran berupaya membangun perdamaian yang masih rapuh, sejumlah pengamat menilai China berhasil meraih berbagai keuntungan strategis penting dari konflik tersebut.
Membangun Citra sebagai Kekuatan Stabil
Mengutip Newsweek, Selasa (23/6/2026), selama bertahun-tahun, China berupaya menampilkan diri sebagai kekuatan besar yang bertanggung jawab, menghormati kedaulatan negara lain, mengedepankan dialog, dan menghindari petualangan militer di luar negeri.
Perang Iran menjadi momentum yang memungkinkan Beijing memperkuat narasi tersebut di panggung internasional.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi berulang kali melakukan komunikasi dengan diplomat Iran selama konflik berlangsung. Pada saat yang sama, Beijing secara terbuka mendukung upaya Pakistan dalam memediasi perundingan perdamaian.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi juga diketahui mengadakan pembicaraan dengan diplomat senior China pada hari-hari terakhir sebelum kerangka gencatan senjata mulai terbentuk.
Setelah MoU ditandatangani, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi secara terbuka menyampaikan apresiasi kepada China atas perannya dalam mendorong proses negosiasi.
Pejabat-pejabat China kemudian membandingkan pendekatan diplomatik mereka dengan kampanye militer AS-Israel yang menurut mereka telah mengguncang pasar energi dunia dan mendorong kawasan Timur Tengah ke ambang perang yang lebih luas.
"Serangan AS terhadap Iran bersama Israel benar-benar memberikan contoh buruk yang belum pernah terjadi sebelumnya dan membongkar 80 tahun tatanan dunia," kata Presiden Center for China and Globalization yang berbasis di Beijing, Henry Wang, kepada Newsweek.
Narasi tersebut terutama ditujukan kepada negara-negara berkembang di Global South yang banyak memandang konflik itu dengan skeptis dan selama ini menjadi sasaran utama perluasan pengaruh diplomatik China.
Retaknya Hubungan AS dengan Sekutu
Perang juga dinilai memperlihatkan keretakan hubungan Washington dengan sejumlah sekutunya di Eropa maupun kawasan Teluk.
Dukungan terhadap kampanye militer AS selama konflik berlangsung tidak sepenuhnya solid. Pemerintah-pemerintah Eropa yang sebelumnya sudah berselisih dengan Washington terkait perdagangan dan tarif enggan terlibat lebih jauh dalam konflik tersebut.
Bahkan beberapa sekutu secara terbuka mempertanyakan legitimasi perang serta dampak ekonominya.
"Perbedaan terbuka antara Washington dan para mitranya mengenai legitimasi perang, pelaksanaannya, dan dampaknya telah memperlihatkan retakan yang berisiko menyebar ke isu-isu lain seiring waktu," tulis Direktur China Center di Brookings Institution, Ryan Hass, dalam analisis yang dipublikasikan Juni lalu.
"Untuk China, retakan-retakan ini memberikan kenyamanan."
Keuntungan Kampanye bagi Beijing
Konflik tersebut juga memberi amunisi baru bagi kampanye China yang selama ini ditujukan kepada negara-negara Asia, yakni bahwa AS merupakan mitra yang tidak dapat diandalkan dan semakin sulit diprediksi.
"Kita sedang melihat konsekuensi dari kerusakan yang ditimbulkan oleh pernyataan dan kebijakan Trump melalui berkurangnya dukungan dari negara-negara yang secara wajar marah karena pilihan AS membebankan biaya dan risiko kepada mereka," kata Senior Fellow American Enterprise Institute, Kori Schake.
"Kita terlihat sama kerasnya tetapi kurang dapat diprediksi atau kurang kompeten secara strategis dibandingkan China."
Ryan Hass juga menilai Beijing akan memanfaatkan fakta bahwa Amerika mengalami kesulitan mencapai tujuan strategisnya di Iran.
"China juga akan menikmati pengingat yang terlihat jelas mengenai kesulitan Amerika dalam mencapai tujuan strategisnya di Iran," tulis Hass.
Bagi para pejabat China, perang tersebut menjadi bahan argumen baru. Jika AS kesulitan memperoleh hasil yang menentukan terhadap kekuatan regional seperti Iran meskipun memiliki keunggulan militer yang sangat besar, maka muncul pertanyaan apakah Washington bersedia atau bahkan mampu mempertahankan konflik yang jauh lebih besar di dekat wilayah China sendiri.
Taiwan Jadi Sorotan
Pandangan tersebut dinilai menjadi sangat relevan dalam konteks Taiwan, pulau yang berpemerintahan sendiri namun diklaim Beijing sebagai bagian dari wilayahnya.
China selama beberapa tahun terakhir tidak hanya meningkatkan tekanan militer terhadap Taiwan, tetapi juga menjalankan kampanye propaganda yang bertujuan melemahkan moral masyarakat Taiwan dan meyakinkan mereka bahwa penyatuan dengan daratan utama merupakan satu-satunya pilihan.
Perang Iran memperkuat argumen Beijing bahwa intervensi militer AS kerap meninggalkan ketidakstabilan dan membebani sekutu-sekutunya yang tidak memiliki banyak peran dalam proses pengambilan keputusan.
Ketahanan Energi China Teruji
Selain keuntungan diplomatik dan politik, konflik tersebut juga menjadi ujian besar bagi sektor energi China. Negara itu memperoleh sekitar 40% impor minyak mentah dan sepertiga kebutuhan gas alam cairnya dari Timur Tengah.
Ketika Selat Hormuz praktis ditutup dan lalu lintas kapal nyaris berhenti total, banyak analis memperingatkan China berpotensi mengalami gangguan ekonomi serius.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Meski impor minyak mentah China turun tajam selama konflik dan mencapai level terendah dalam beberapa tahun terakhir, Beijing mampu meredam dampaknya melalui cadangan minyak strategis yang diperkirakan mencapai sekitar 1,2 miliar barel.
China juga terbantu oleh penurunan aktivitas kilang minyak, diversifikasi jalur pasokan energi yang telah dilakukan selama bertahun-tahun, serta strategi mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor.
Ketika negara-negara lain seperti Jepang dan Korea Selatan harus menggunakan cadangan darurat mereka, tekanan terhadap China jauh lebih kecil. Ketahanan tersebut memberi ruang bagi Beijing untuk menjalankan diplomasi energi saat banyak negara lain sibuk mencari sumber pasokan alternatif.
Perusahaan pengolahan minyak China meningkatkan ekspor berbagai produk energi seperti bahan bakar jet dan diesel ke pasar regional, membantu mengurangi kelangkaan di sejumlah negara yang mengalami tekanan energi, termasuk Filipina yang merupakan sekutu Amerika Serikat.
Para analis menilai langkah tersebut membantu China membangun goodwill sekaligus memperluas pengaruhnya ketika banyak negara membutuhkan pemasok yang dapat diandalkan.
Kendaraan Listrik Ikut Diuntungkan
Krisis energi yang dipicu perang juga dianggap menguntungkan strategi jangka panjang China dalam mengembangkan kendaraan listrik, baterai, panel surya, dan berbagai teknologi energi bersih lainnya.
Lonjakan harga minyak membuat transisi menuju elektrifikasi menjadi semakin menarik secara ekonomi di berbagai negara.
Situasi ini memberikan keuntungan bagi produsen China yang saat ini mendominasi pasar kendaraan listrik global.
Selama konflik berlangsung, ekspor kendaraan China melonjak karena konsumen dan pemerintah di berbagai negara mulai mencari alternatif terhadap pasar energi fosil yang bergejolak.
(luc/luc)
Addsource on Google

7 hours ago
5

















































