Saham Terkoreksi Sejak Awal Tahun, Bos BRI Bilang Gini

7 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menyebut koreksi pada harga saham sepanjang tahun ini atau year to date (ytd) lebih disebabkan oleh faktor eksternal. Sebab, meski kinerja fundamental perusahaan tetap solid.

Direktur Finance & Strategy BRI, Achmad Royadi menyebut pergerakan harga saham tidak hanya dipengaruhi oleh fundamental perusahaan. Ada faktor eksternal yakni sentimen global dan persepsi para investor luar terhadap pasar keuangan Indonesia.

"Kita sama-sama tahu bahwa harga saham banyak faktor. Tidak hanya dari fundamental, tapi juga sentimen global dan persepsi investor terhadap Indonesia maupun pasar modal," ujar Royadi dalam konferensi pers Paparan Kinerja BRI Triwulan I-2026 secara virtual, Kamis (30/4/2026).

Menurut Royadi, fundamental kinerja BBRI sepanjang tiga bulan pertama tahun ini terbilang kuat. Ini ditunjukkan dari kualitas aset yang terjaga, perbaikan biaya dana (cost of fund), permodalan yang solid, dan profitabilitas yang positif.

Koreksi saham BBRI yang mencapai sekitar 18% secara ytd dinilai lebih banyak dipengaruhi dari faktor eksternal ketimbang kinerja perusahaan.

Royadi kemudian mengingatkan keputusan pembagian dividen yang merupakan komitmen BRI memberikan imbal hasil kepada para pemegang saham. Adapun

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) menyetujui pembagian dividen sebesar 92% dari laba tahun buku 2025, atau setara Rp346 per saham.

"Ini bagian dari upaya kami mengembalikan nilai kepada pemegang saham atas kinerja yang telah dicapai," tuturnya.

Ke depannya, BRI optimistis terhadap proyeksi kinerja perseroan yang didukung oleh strategi transformasi yang terus berjalan.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama BRI, Hery Gunardi memberi "petuah" bahwa para investor jangka menengah dan panjang tidak perlu terlalu sering melihat pergerakan harga saham saham. Ia berpendapat bahwa saham-saham blue chips termasuk BBRI tetap menarik untuk investasi jangka panjang, walau secara jangka pendek mengalami fluktuasi.

"Kalau investasi jangka panjang, tidak perlu terlalu melihat naik-turun harga saham. Yang penting fundamentalnya kuat," kata Hery.

Ia melanjutkan, BBRI menawarkan imbal hasil dividen yang kompetitif, dengan potensi return sekitar 10%-11% per tahun. Angka tersebut, ia bilang lebih tinggi dibandingkan instrumen lain seperti deposito maupun reksa dana pasar uang.

Hery meyakini dengan membaiknya kondisi makroekonomi global dan domestik nanti, saham-saham blue chips akan kembali mencerminkan nilai wajarnya.

"Kalau market membaik, makro ekonomi global dan lokal membaik, saham-saham itu pasti akan ikut naik," pungkas Hery.

Untuk diketahui, saham BBRI per sesi I perdagangan hari ini sudah terkoreksi 18,03% ke posisi harga 3.000 per saham.

(fsd/fsd)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |