Saat Jenderal TNI Menangis Usai Ribut dengan Asisten Pribadi Presiden

4 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Perseteruan di lingkaran kekuasaan Presiden Indonesia pernah membuat seorang Jenderal TNI bintang empat menangis. Momen itu terjadi ketika konflik antara Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib), Jenderal Soemitro, dan Asisten Pribadi (Aspri) Presiden, Mayor Jenderal Ali Moertopo, mencapai puncaknya pada akhir 1973.

Kala itu, Presiden Soeharto memanggil keduanya ke pertemuan khusus untuk meredakan ketegangan yang sudah berlangsung lama di lingkaran kekuasaan Orde Baru. Dalam pertemuan tersebut, Ali Moertopo mendapat kesempatan mengajukan sejumlah pertanyaan langsung kepada Soemitro terkait berbagai tindakan yang dianggap merugikan dirinya.

"Sebelum ia menjawab pertanyaan itu, Soemitro menangis. Pertemuan pun dihentikan setengah jam," kenang Jusuf Wanandi dalam Menyibak Tabir Orde Baru (2015)

Tangis Soemitro bukan muncul begitu saja. Saat itu, hubungan dirinya dengan Ali Moertopo memang sudah lama memanas. Keduanya merupakan orang kuat di sekitar Soeharto yang sama-sama memiliki pengaruh besar.

Ali Moertopo dikenal sebagai salah satu orang kepercayaan utama Soeharto sejak awal Orde Baru. Sebagai Aspri Presiden sejak 1968, dia memiliki akses luas ke Istana dan mengendalikan berbagai operasi intelijen melalui Operasi Khusus (Opsus).

Sementara itu, Soemitro yang menjabat Pangkopkamtib sejak 1971 memegang kewenangan besar dalam urusan keamanan nasional. Posisi keduanya yang sama-sama kuat membuat benturan kepentingan sulit dihindari.

Soemitro menilai Opsus kerap memasuki wilayah kerja lembaga intelijen resmi. Sebaliknya, kubu Ali Moertopo menuduh Soemitro semakin memperluas pengaruh politiknya dan bertindak layaknya "presiden kedua". Persaingan itu kemudian berkembang menjadi saling curiga dan perebutan pengaruh di sekitar Soeharto.

Ketika konflik semakin membesar, Soeharto akhirnya mempertemukan kedua tokoh tersebut pada akhir 1973. Dalam forum itu, Ali Moertopo mempertanyakan berbagai langkah Soemitro yang membuatnya menangis.

"Pak Ali mengulang pertanyaan yang dia sampaikan kepada Soeharto sebelumnya: mengapa pengawalan di rumahnya dan di rumah Soedjono ditarik? Mengapa teleponnya dan telepon Soedjono disadap Intelijen? Apa maksud Soemitro bertindak seperti dia yang memerintah? Mengapa ia menganjurkan agar mahasiswa mengkritik pemerintah Soeharto? Dan apa niat Soemitro dengan mengambil alih sebagian kekuasaan presiden, sebagai seorang perdana menteri, dan apa maksudnya dia selaku Panglima Kopkamtib yang memimpin sendiri Skogar?," tutur Jusuf Wanandi dalam Menyibak Tabir Orde Baru (2015).

Usai menangis dan pertemuan dilanjutkan, Soemitro membantah seluruh tuduhan bahwa dirinya ingin mengambil alih kekuasaan presiden. Soeharto kemudian mengingatkan bahwa siapa pun yang ingin berkuasa harus menempuh jalan konstitusional, bukan melalui kudeta.

Atas permintaan Soeharto, Soemitro dan Ali Moertopo menggelar konferensi pers bersama pada 2 Januari 1974 untuk membantah adanya perpecahan di tubuh pemerintahan dan militer. Meskipun, pers waktu itu melihat gelagat Soemitro yang berbeda karena tampil loyo dan tidak semangat. 

Pada akhirnya, konflik tersebut baru berakhir dua pekan kemudian saat Soemitro mundur dari Pangkopkamtib karena dianggap gagal mengatasi kerusuhan Malari pada 15 Januari 1974. 

Setelah lengser, Soemitro mengaku sempat mengonfrontasi Ali Moertopo yang dituding berada di balik berbagai upaya merusak nama baiknya.

"Saya perintahkan kamu untuk merusak nama saya. Rusakkan! Ini perintah, bukan permintaan," tegas Soemitro kepada Ali dalam biografinya, Soemitro: Dari Panglima Mulawarman sampai Pangkopkamtib (1994).

Perseteruan yang sempat membuat Soemitro menangis di hadapan presiden itu akhirnya berujung pada tumbangnya karier sang jenderal. Meski dianggap 'menang', Ali Moertopo kehilangan taji-nya. Sebab, Soeharto membubarkan struktur Aspri sehingga Moertopo dipindahkan ke jabatan tidak strategis.

Belajar dari perseteruan ini, Soeharto lantas melakukan kontrol ketat dan tak lagi membiarkan para pembantu dekatnya memiliki kekuasaan sebesar sebelumnya.

(mfa/mfa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |