Rusia Makin Terdesak, China Mulai Kuasai Pasar Senjata

3 hours ago 3

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

22 August 2026 19:15

Jakarta, CNBC Indonesia - China mulai menantang dominasi Rusia di pasar senjata Asia Tengah. Tanda terbarunya datang dari Uzbekistan, negara yang selama ini mengandalkan pesawat tempur buatan Uni Soviet.

Seperti dilansir dari Eurasianet, Uzbekistan dilaporkan telah menerima empat jet tempur J-10CE dan memiliki kesepakatan untuk mendatangkan hingga 24 unit dari China.

Meksipun, pemerintah Uzbekistan maupun China belum mengumumkan kesepakatan dan pengiriman tersebut secara resmi.

Namun, foto yang beredar diduga memperlihatkan J-10CE yang dibuat untuk Angkatan Udara Uzbekistan. Apabila benar, maka pengadaan tersebut dapat menjadi salah satu peralihan terbesar dari persenjataan Rusia menuju China di Asia Tengah.

Jet China Gantikan Armada Soviet

J-10CE merupakan versi ekspor J-10C yang diproduksi oleh perusahaan aviasi terkemuka milik China yakni Chengdu Aircraft Industry Group.

Pakistan telah menjadi negara pertama di luar China yang mengoperasikan pesawat tersebut.

Pesawat ini pun dilengkapi radar modern dan dapat membawa rudal udara-ke-udara jarak jauh. J-10CE menawarkan pembaruan besar dibandingkan MiG-29 dan Su-27 yang selama ini digunakan oleh Angkatan Udara Uzbekistan.

Armada warisan Soviet tersebut kini sudah semakin berumur sehingga membutuhkan pengganti dan pasokan suku cadang yang lebih terjamin.

Pengadaan pesawat tempur sendiri tidak selesai ketika pesawat datang. Uzbekistan juga membutuhkan pelatihan pilot, teknisi, pemeliharaan, pembaruan perangkat lunak, suku cadang, dan pasokan rudal.

Jika memilih J-10CE, Uzbekistan akan terhubung dengan sistem pertahanan China selama masa penggunaan pesawat yang dapat mencapai puluhan tahun.

Ekspor Senjata Rusia Anjlok 64%

China mendapat angin segar ketika kemampuan Rusia memasok senjata ke luar negeri terus mengalami penurunan.

Dilansir dari data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan volume ekspor senjata Rusia merosot 64% pada periode 2021-2025 dibandingkan 2016-2020.

Pangsa Rusia dalam ekspor senjata global pun ikut jatuh dari 21% menjadi hanya 6,8%.

Sebaliknya, volume ekspor senjata China berhasil tumbuh 11%. Pangsa China naik tipis dari 5,5% menjadi 5,6%.

Jarak keduanya kini hanya 1,2 poin persentase. Rusia masih menjadi eksportir senjata terbesar ketiga dunia, sedangkan China berada di posisi kelima.

Perang Ukraina membuat Rusia memprioritaskan produksi senjata dan amunisi untuk kebutuhan militernya sendiri. Sanksi internasional turut menghambat akses terhadap sejumlah komponen serta memperpanjang proses produksi dan pengiriman.

Tekanan tersebut meningkatkan risiko keterlambatan pasokan dan kekurangan suku cadang bagi negara yang menggunakan persenjataan Rusia.

Peralihan pembeli mulai terlihat di India. Pangsa Rusia dalam impor senjata kesana turun dari 51% pada 2016-2020 menjadi 40% pada 2021-2025.

China Masuk ke Pasar Senjata Asia Tengah

Kazakhstan, Uzbekistan, Kyrgyzstan, Tajikistan, dan Turkmenistan mewarisi standar militer Uni Soviet.

Selama bertahun-tahun, pesawat, kendaraan lapis baja, sistem pertahanan udara, dan amunisi mereka bergantung pada Rusia.

Kajian Wilson Center menunjukkan Rusia menguasai sekitar 52% pasar senjata Asia Tengah. Pangsa China berada di bawahnya, tetapi meningkat dari 1,5% menjadi 13%.

China menawarkan pesawat, drone, kendaraan militer, dan sistem pertahanan udara dengan harga yang relatif lebih terjangkau dibandingkan sejumlah produk Barat.

Persaingan juga datang dari negara lain. Turki memperluas penjualan drone Bayraktar TB2, sedangkan Italia memasok pesawat dan helikopter.

Pilihan yang semakin banyak memudahkan negara-negara Asia Tengah memperbarui persenjataan tanpa sepenuhnya bergantung pada Moskow.

Kazakhstan dan Uzbekistan Mulai Produksi Sendiri

Kazakhstan dan Uzbekistan tidak hanya mencari pemasok baru. Keduanya juga mulai membangun industri pertahanan dalam negeri.

Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev meminta militernya meningkatkan penggunaan kecerdasan buatan, sistem tanpa awak, teknologi robotik, dan kemampuan siber.

"Sifat perang modern telah berubah secara mendasar," kata Mirziyoyev dalam pertemuan Dewan Keamanan Uzbekistan pada Januari 2026.

Uzbekistan telah mengembangkan drone Lochin HA-341 untuk pengawasan dengan jangkauan sekitar 50 kilometer. Negara tersebut juga memiliki Lochin HA-251 yang dapat membawa muatan hingga 10 kilogram.

Kazakhstan membangun fasilitas produksi drone yang menghasilkan sekitar 100 unit dalam tiga bulan pertama operasionalnya pada awal 2026.

Negara itu juga membentuk Dana Pengembangan Industri Pertahanan senilai sekitar US$1 miliar untuk membiayai produksi amunisi, kendaraan lapis baja, dan sistem persenjataan.

Industri dalam negeri memang belum mampu menggantikan impor pesawat tempur dan sistem pertahanan udara. Namun, produksi drone, kendaraan, dan amunisi dapat membantu menjaga pasokan ketika pengiriman dari luar negeri terganggu.

Pengaruh China Meluas ke Energi dan Perdagangan

Kedekatan China dengan Asia Tengah tidak hanya dibangun melalui penjualan senjata.

Perdagangan China dengan lima negara di kawasan mencapai US$106,3 miliar pada 2025, tumbuh 12% dibandingkan tahun sebelumnya.

Ekspor China ke Asia Tengah mencapai US$71,2 miliar, sementara impornya tercatat US$35,1 miliar.

Di Uzbekistan, perusahaan energi China Sinopec tengah menjajaki kerja sama dengan Uzbekneftegaz untuk mengembangkan minyak dan gas di Dataran Tinggi Ustyurt.

Sinopec juga memperoleh persetujuan untuk menjalankan proyek energi senilai lebih dari US$6 miliar di wilayah barat Uzbekistan.

Di Kazakhstan, ekspor minyak melalui jaringan pipa Kazakhstan-China melonjak 43% menjadi 916.000 ton pada semester I-2026.

Besarnya hubungan perdagangan, investasi, energi, dan infrastruktur memberi China jalan lebih lebar untuk menawarkan teknologi serta peralatan pertahanan.

Rusia Masih Bertahan

Meski adanya peningkat pengaruh dari China, namun sejatinya belum bisa menghapus posisi Rusia di Asia Tengah.

Moskow masih memiliki fasilitas militer, jaringan pelatihan, dan sistem persenjataan yang digunakan negara-negara Asia Tengah.

Rusia juga tetap mengerjakan proyek besar di luar sektor pertahanan.

Pada Juni 2026, Rusia dan Uzbekistan memulai pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir di Jizzakh. Proyek yang dikerjakan Rosatom tersebut diperkirakan dapat memenuhi sekitar 15% kebutuhan listrik Uzbekistan.

Rusia turut mencapai kesepakatan pembangunan pembangkit nuklir senilai sekitar US$16,5 miliar di Kazakhstan.

Negara-negara Asia Tengah belum meninggalkan Rusia. Namun, mereka kini memiliki lebih banyak pilihan untuk membeli senjata, membangun industri sendiri, dan mengurangi ketergantungan terhadap satu negara.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |