Jakarta, CNBC Indonesia - MacBook Neo langsung menyita perhatian publik sejak pertama kali diperkenalkan secara global pada Maret 2026. Laptop 'terjangkau' pertama dari Apple ini hadir di momentum yang tepat, ketika kondisi ekonomi global sedang terguncang akibat isu geopolitik.
Belum lagi krisis kelangkaan chip memori global imbas 'ledakan' AI yang mendongkrak harga perangkat konsumen elektronik, termasuk laptop dan smartphone, sejak akhir 2025. Bisa dibilang, MacBook Neo hadir sebagai angin segar bagi masyarakat yang ingin mencicipi cita rasa laptop 'mewah' MacBook, tetapi belum punya bujet cukup untuk membeli MacBook Air atau Pro.
Di Indonesia, MacBook Neo resmi tersedia sejak 22 Mei 2026 dengan RAM 8GB. Lini baru ini dibanderol mulai Rp10.749.000 untuk varian penyimpanan 256GB. Jika menginginkan penyimpanan lebih lega, konsumen harus merogoh kocek lebih sebesar Rp12.999.000 untuk varian 512GB.
Patokan harga itu lebih murah ketimbang MacBook Air 13-inci dengan chip M2 keluaran 2022 yang saat ini tersedia di laman distributor resmi iBox, yakni mulai dari Rp13.599.000 untuk kapasitas RAM 16GB dan penyimpanan 256GB.
Dengan harga jauh lebih terjangkau, memang ada beberapa fitur 'nice-to-have' di MacBook Air dan Pro yang tidak tersedia di MacBook Neo. Dalam artikel ini, CNBC Indonesia akan membahas bagaimana pengalaman kami menjajal MacBook Neo selama kurang lebih satu bulan. Simak selengkapnya untuk jadi bahan pertimbangan Anda jika berminat membeli MacBook Neo!
Bodi Kokoh, Desain Lebih 'Fresh'
Macbook Neo. (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Macbook Neo. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Pertama kali melihat MacBook Neo, mata kami langsung dimanjakan dengan warna-warna segar yang memberikan kesan 'wow'. Laptop ini hadir dengan empat varian warna: Silver, Blush, Citrus, dan Indigo.
Kami memilih warna Indigo yang 'timeless', namun tetap punya sentuhan desain yang 'fresh' dengan siku membulat dan detail tone warna konsisten sampai ke keyboard dan rubber pad. Setelan default Wallpaper juga disesuaikan dengan warna bodi laptop, meski tentu saja bisa langsung dipersonalisasi berdasarkan selera pengguna.
Macbook Neo. (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Macbook Neo. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Mula-mula kami curiga material bodi MacBook Neo akan berbeda dengan MacBook Air dan Pro. Namun, ternyata kualitasnya benar-benar identik, menggunakan material aluminium yang kokoh dan tidak terasa murahan. Mekanisme buka-tutupnya juga 'seamless', sama seperti MacBook Air dan Pro.
Apple mengklaim MacBook Neo menggunakan material aluminium dengan kadar 60% kandungan daur ulang, menjadikannya produk Apple paling ramah lingkungan yang ada di pasaran saat ini.
Bicara soal berat, bobot MacBook Neo beda tipis dengan MacBook Air 13-inci, yakni 1,23kg berbanding 1,24kg. Ketebalannya juga kurang lebih serupa, yakni 0,5-inci berbanding 0,44-inci.
Macbook Neo. (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Macbook Neo. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Alasan MacBook Neo sedikit lebih ringan tampaknya gara-gara panel layar yang memang lebih mungil. Meski sama-sama 13-inci, MacBook Neo memiliki diagonal layar pas 13,0-inci (2408x1506 piksel), sementara MacBook Air 13-inci memiliki diagonal layar 13,6-inci (2560x1664 piksel).
MacBook Air 13-inci memang memberikan tampilan layar sedikit lebih lega, tetapi MacBook Neo lebih ringkas dan fleksibel untuk dibawa ke mana-mana, serta tidak makan tempat di dalam tas.
Fitur 'Nice-to-Have' yang Hilang
Macbook Neo. (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Macbook Neo. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Sebagai pengguna lama laptop MacBook, salah satu aspek minor yang membuat kami sulit beralih ke merek lain adalah Magic Keyboard. Rasanya belum ada keyboard bawaan dari merek laptop lain yang bisa menyamai akurasi presisi dan intensitas tekanan yang pas seperti Magic Keyboard.
Memang ini merupakan preferensi masing-masing, tetapi patut diapresiasi kehadiran MacBook Neo yang membawa kenyamanan Magic Keyboard ke segmen lebih luas. Sayangnya, ada yang berbeda dari Magic Keyboard di MacBook Neo dengan MacBook Pro dan Air, yakni ketiadaan backlit atau lampu yang tertanam di bawah keyboard.
Bagi sebagian orang, termasuk kami, ketiadaan lampu backlit sebenarnya bukan masalah besar. Khususnya bagi jurnalis atau mereka yang sudah terbiasa mengetik setiap hari, posisi setiap huruf biasanya sudah terpatri di luar kepala.
Jadi, ketika harus mengetik di tempat gelap, tak perlu mengandalkan lampu backlit untuk melihat huruf satu per satu. Lagipula, pantulan cahaya dari layar laptop sebenarnya sudah cukup untuk menerangi keyboard di tempat gelap.
Namun di sisi lain, fitur backlit tetap menjadi penyelamat bagi mereka yang sering bekerja di tempat minim cahaya dan tidak hafal huruf-huruf keyboard secara auto-pilot. Ambil contoh musisi elektronik atau DJ. Saat tampil di panggung kelab yang remang-remang, lampu backlit sangat krusial untuk memastikan mereka tidak salah menekan tombol.
Macbook Neo. (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Macbook Neo. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Dibandingkan Magic Keyboard tanpa lampu backlit, kami sebenarnya lebih terganggu dengan trackpad di MacBook Neo. Memang desain trackpad-nya mirip dengan MacBook Pro dan Air yang memiliki permukaan luas untuk menggulir dan menggeser.
Trackpad ini juga mendukung gerakan Multi-Touch ala Mac, seperti menggulir dengan dua hari, cubit untuk memperbesar, hingga App Exposé empat jari untuk melihat dan memilih semua windows.
Sayangnya, trackpad di MacBook Neo belum mendukung Force Touch seperti di MacBook Pro dan Air. Kami yang selama ini sudah 'dimanjakan' Force Touch di MacBook Air, merasa canggung dan tak terbiasa ketika trackpad MacBook Neo belum mengenali intensitas tekanan untuk melakukan tindakan.
Fitur lainnya yang absen dari MacBook Neo adalah Touch ID pada model termurah dengan penyimpanan 256GB. Model 512GB masih dilengkapi Touch ID. Kembali lagi, ini tergantung preferensi masing-masing. Teknologi pemindai sidik jari untuk password biometrik ini pastinya lebih andal untuk menjaga keamanan privasi.
Hal ini makin menegaskan hipotesa kami bahwa MacBook Neo lebih cocok bagi pengguna yang baru pertama kali ingin menjajal laptop MacBook, sebab peningkatannya akan terasa lebih signifikan. Jika sudah terbiasa menggunakan MacBook Air atau Pro, ada beberapa fitur 'nice-to-have' yang hilang dan bisa jadi 'deal-breaker'.
Layar Terang, Speaker Ganda, Kamera HD 1080p
Macbook Neo. (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Macbook Neo. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Beralih ke sektor visual, MacBook Neo mengandalkan layar Liquid Retina 13-inci. Meski ukurannya lebih mungil daripada MacBook Air, panel ini sudah lebih dari cukup untuk menemani aktivitas harian, seperti maraton streaming serial Netflix atau sekadar menonton YouTube.
Di kelas harga Rp10 jutaan, layar MacBook Neo sebenarnya tampil cukup superior. Berbekal tingkat kecerahan mencapai 500 nits dan dukungan 1 miliar warna, layar MacBook Neo masih sangat andal menopang pengeditan foto atau video ringan untuk kebutuhan media sosial.
Namun, jika disandingkan dengan MacBook Pro dan Air, barulah batasan teknisnya terlihat. MacBook Neo masih memakai standar color gamut sRGB, kalah dari standar P3 yang warnanya lebih dalam dan luas pada MacBook Pro dan Air.
Secara default, jika diamati dengan saksama, layar MacBook Neo juga cenderung menampilkan rona agak kebiruan. Perbedaan ini mungkin tidak terasa oleh pengguna kasual, tetapi bakal langsung disadari oleh editor video profesional atau desainer grafis yang menuntut akurasi warna mutlak.
Selain itu, layar MacBook Neo juga tidak dilengkapi True Tone seperti di MacBook Pro dan Air. True Tone ini bisa dibilang penting-tidak penting. Gunanya adalah menyesuaikan warna layar berdasarkan kondisi pencahayaan di tempat yang berbeda-beda, sehingga konsistensinya terjaga.
Selanjutnya ke aspek kamera, MacBook Neo dibekali kamera FaceTime HD 1080p yang mumpuni untuk digunakan saat melakukan panggilan video (video call). Mengambil selfie lewat laptop atau merekam video monolog untuk pembukaan vlog juga sebenarnya cukup. Hanya saja, kamera ini belum dilengkapi Center Stage, yakni fitur pelacakan wajah yang secara otomatis menjaga angle pengguna agar tetap berada di tengah frame.
Kamera HD 1080p ini dilengkapi dengan dua mikrofon ganda yang menjamin kejernihan audio saat melakukan panggilan video. Mikrofon itu juga dibenamkan teknologi untuk mengisolasi noise di lingkungan sekitar, sehingga panggilan video lebih lancar tanpa gangguan.
Sementara itu, untuk sistem pengeras suara, MacBook Neo cuma dilengkapi dua speaker pada sisi kiri-kanannya, bukan empat speaker seperti di MacBook Air. Kendati demikian, speaker ganda MacBook Neo tetap mendukung Audio Spasial yang 'all-around' untuk memutar musik dan video, dengan standar Dolby Atmos.
Menurut pengalaman kami, speaker ganda ini sebenarnya sudah cukup jernih dan nyaring. Bass-nya cukup 'nendang' untuk ukuran laptop tipis. Namun, ketika disetel dengan volume maksimal, audio cenderung menjadi sedikit 'cempreng', walaupun tidak sampai mengganggu.
Addsource on Google

5 hours ago
5

















































