Petaka Gelombang Panas "Omega" Panggang Eropa, Korban Tewas Berjatuhan

1 hour ago 2
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Wilayah Eropa Barat tengah berada dalam cengkeraman gelombang panas ekstrem bernama pola cuaca Omega. Cuaca buruk ini telah merenggut puluhan korban jiwa, merusak pasokan listrik nasional, serta memaksa penutupan ratusan sekolah dan berbagai bangunan bersejarah di beberapa negara.

Mengutip laporan Reuters, Kamis (25/6/2026), para ahli meteorologi mengeluarkan peringatan bahwa temperatur ekstrem ini masih akan bertahan hingga akhir pekan. Inggris mencatatkan rekor suhu tertinggi khusus untuk bulan Juni yang mencapai 36,1 derajat Celsius di wilayah selatan, sementara suhu di Paris menyentuh angka 40,9 derajat Celsius.

Kondisi darurat ini membuat Kementerian Kesehatan Italia langsung menetapkan status siaga tertinggi untuk 16 kota besar, termasuk Florence, Milan, Roma, Turin, dan Verona. Pihak berwenang di Prancis juga mengonfirmasi sedikitnya 48 orang tewas tenggelam karena mencoba mendinginkan diri di tempat pemandian umum, ditambah kasus tragis dua balita yang tewas akibat kepanasan di dalam mobil.

Dampak fatal dari sektor agraris juga dilaporkan oleh kelompok tani setempat, di mana ratusan ribu unggas mati massal di peternakan wilayah Brittany dan Pays de la Loire. Akibat krisis air ini, pembangkit listrik tenaga nuklir Prancis terpaksa mematikan pasokan listrik sebesar 7% dari total permintaan nasional karena keterbatasan akses air sungai untuk proses pendinginan reaktor.

Blok Omega Menjebak Panas Ekstrem

Fenomena gelombang panas kali ini didorong oleh sistem tekanan udara tinggi yang membentuk visual menyerupai huruf Yunani, Omega. Sistem ini berfungsi seperti kubah raksasa yang menjebak udara panas di dalam suatu wilayah dalam jangka waktu lama, sementara area pinggirannya cenderung berangin dingin.

Badan cuaca Météo-France menyatakan bahwa intensitas bencana kali ini sangat mirip dengan tragedi gelombang panas pada Agustus 2003 silam. Pada waktu itu, cuaca panas ekstrem bertahan selama 16 hari berturut-turut dan memicu sekitar 80.000 kasus kematian massal di seluruh teritorial Eropa.

Dampak buruk dari cuaca panas ini mengacaukan sistem transportasi dan ruang publik secara masif di Inggris. Ratusan sekolah ditutup serentak karena suhu udara dinilai membahayakan kesehatan orang dewasa, sementara jalur kereta bawah tanah di London mengalami penundaan jadwal yang parah akibat rel memuai.

Kondisi serupa terjadi di Belanda, di mana pemerintah setempat memberlakukan siaga panas ekstrem yang berujung pada pembatalan seluruh kegiatan olahraga luar ruangan serta pemotongan jam operasional transportasi publik. Sementara itu di Swiss, otoritas wilayah mengambil langkah simpatik dengan menggratiskan tiket bioskop ber-AC pada siang hari sebagai tempat berlindung bagi warga sipil.

Pekan Mode Paris Ikut Gerah

Suhu udara yang menyengat turut mengganggu jalannya agenda busana internasional, Pekan Mode Paris (Paris Fashion Week), yang sedang berlangsung. Para penonton dilaporkan mandi keringat saat menyaksikan peragaan busana Louis Vuitton yang menampilkan karya penyanyi Pharrell Williams, hingga membuat jenama besar lain seperti Dior mengubah jadwal ke pagi hari.

Destinasi wisata ikonik seperti Menara Eiffel dan Museum Louvre terpaksa memangkas jam operasional mereka demi keselamatan staf dan turis. Di Italia, Galeri Uffizi di Florence menghentikan seluruh penjualan tiket demi memperbaiki sistem pendingin ruangan (AC) yang rusak akibat bekerja terlalu keras.

"Banyak sekali orang yang sudah melakukan perjalanan dari berbagai belahan dunia tidak mendapatkan kesempatan untuk melihat pemandangan yang ditawarkan Paris karena gelombang panas ini," keluh Tanya Thompson, seorang turis asal Amerika Serikat.

Jam Kerja Terdampak

Para pelaku industri konstruksi di seantero Eropa mulai memutar otak dengan mengubah jam kerja lapangan demi membatasi paparan langsung sengatan matahari pada buruh. Di sektor ritel, para pemilik toko logistik mulai kehabisan stok pendingin ruangan portabel dan kipas angin karena lonjakan permintaan yang luar biasa dari masyarakat.

"Para petani telah beralih ke sif malam untuk melindungi pekerja dan mengurangi risiko kebakaran lahan," ungkap perwakilan dari koperasi pertanian Prancis.

Meskipun situasi kota sangat menyengat, ribuan peziarah dan turis di Vatikan terpantau tetap mengantre dengan sabar di bawah terik matahari demi memasuki area museum. Banyak dari mereka memanfaatkan fasilitas pancuran air umum untuk sekadar membasahi kepala atau berburu minuman dingin di kedai sekitar.

"Kami ingin bir, segelas bir untuk meredakan panas ini," cetus Pastor Israel, seorang pemuka agama asal Republik Dominika, sembari mengangkat segelas besar bir di tangannya.

(tps/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |