"Perang" Vs China Kian Panas, Diler Mobil Jepang di RI Tutup Satu-Satu

3 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Dominasi merek mobil Jepang di pasar otomotif Indonesia mulai menghadapi tantangan serius seiring masuknya pemain baru, khususnya dari China. Jika tidak segera beradaptasi, bukan tidak mungkin terjadi pergeseran kekuatan dalam beberapa tahun ke depan.

Pakar otomotif dari Yannes Martinus Pasaribu menilai potensi tersebut bukan sekadar spekulasi, melainkan skenario yang bisa terjadi jika perubahan tidak segera dilakukan. Ia melihat bahwa pabrikan Jepang saat ini berada di persimpangan penting dalam menentukan arah masa depan mereka di pasar otomotif nasional.

"Terkait potensi apakah mobil China mampu menggeser hegemoni merek Jepang dalam jangka panjang, pergeseran tersebut sangat mungkin menjadi kenyataan pahit apabila pabrikan pertahanan terus bersikeras menahan diri dan menolak melakukan perombakan inovasi secara total ya," katanya kepada CNBC Indonesia, Kamis (9/4/2026).

Meski demikian, dominasi Jepang tidak akan runtuh dalam waktu singkat karena masih memiliki fondasi kuat. Faktor-faktor klasik seperti reputasi dan jaringan masih menjadi keunggulan yang sulit disaingi.

"Meskipun dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan takhta Jepang masih akan sulit diruntuhkan secara absolut berkat benteng pertahanan berupa reputasi daya tahan produk, stabilitas nilai jual kembali, serta jaringan purnajual yang telah mengakar kuat hingga ke pelosok daerah," katanya.

Namun, kekuatan tersebut bisa terkikis jika tidak diimbangi dengan inovasi. Terutama dalam menghadapi perubahan preferensi konsumen yang semakin modern.

"Sayangnya, lambatnya adaptasi akan membuat mereka perlahan namun pasti kehilangan pangsa pasar konsumen urban generasi baru," lanjutnya.

Lebih jauh, ia bahkan menggambarkan skenario terburuk yang bisa terjadi jika pabrikan Jepang tetap bertahan dengan strategi lama. Perubahan tersebut tidak akan terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang yang perlahan menggerus kekuatan pasar.

"Jika pabrikan Jepang tetap bersikukuh menahan transisi dan menolak melakukan inovasi radikal di sektor BEV, skenario terburuk yang menanti mereka bukanlah sebuah kebangkrutan instan, melainkan pendarahan struktural perlahan yang akan memicu 'Momen Nokia' di industri otomotif nasional," tegasnya.

Tanda-tanda awal dari pergeseran tersebut sebenarnya sudah mulai terlihat di lapangan. Perubahan perilaku pelaku usaha hingga konsumen menjadi indikator kuat.

"Runtuhnya takhta ini sudah diawali dengan eksodus massal para investor diler di berbagai kota yang berpindah ke merek China demi menyelamatkan margin bisnis. Yang kemudian secara berantai memicu jatuhnya harga mobil bekas Jepang akibat banjir suplai dari konsumen urban yang bermigrasi ke BEV China yang semakin canggih desain dan fitur teknologi barunya" kata Yannes.

Dampaknya tidak hanya terjadi di pasar mobil baru, tetapi juga merembet ke sektor lain. Termasuk pasar mobil bekas yang selama ini menjadi salah satu kekuatan utama merek Jepang.

"Ketika mitos stabilitas nilai jual kembali (resale value) brand jepang ini hancur, pabrikan Jepang akan kehilangan daya tariknya di mata generasi baru yang melek teknologi, memaksa Jepang mundur dan hanya bertahan hidup di ceruk pasar armada niaga konvensional tampaknya," pungkasnya.

Sementara, Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara mengungkapkan, penurunan penjualan terjadi secara menyeluruh di pasar otomotif nasional. Kondisi ini diperparah dengan kehadiran pemain baru yang ikut meramaikan pasar.

"Yang jelas kelihatan memang ada penjualan menurun secara keseluruhan. Sementara di sisi lain lagi memang ada banyak pemain baru yang juga masuk," ujarnya kepada CNBC Indonesia, Selasa (7/4/2026).

"Turunnya itu bukan karena masalah brand-nya, tapi lebih cenderung ke daya belinya yang sedang menurun," katanya.

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |