Jakarta, CNBC Indonesia - Kelompok Houthi Yaman telah menewaskan sedikitnya 30 tentara pemerintah dan melukai 15 lainnya dalam sebuah serangan rudal. Serangan mematikan tersebut menargetkan kamp-kamp militer pemerintah Yaman di wilayah kegubernuran Hadramout dan Marib.
Mengutip Al Jazeera, Jumat (7/8/2026), rentetan serangan mematikan terhadap situs militer yang mencakup fasilitas Pasukan Darurat ini merupakan eskalasi paling sengit di Yaman sejak tahun 2022. Serangan udara ini meletus menyusul adanya peningkatan kekerasan secara luas di wilayah tersebut dalam beberapa minggu terakhir.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim bahwa serangan yang menggunakan rudal dan pesawat nirawak tersebut telah menyebabkan ratusan korban jiwa. Militer Yaman telah mengonfirmasi serangan mematikan tersebut dan menganggapnya murni sebagai respons balasan atas operasi mereka sendiri terhadap Houthi.
Sumber militer Yaman menyebutkan bahwa Houthi menembakkan delapan rudal dari kegubernuran al-Jawf yang berlokasi di sebelah utara Marib. Serangan tersebut secara spesifik menargetkan wilayah al-Thiniya dan al-Abr di Hadramout serta al-Rouk di Marib, dengan jumlah korban yang diperkirakan akan terus bertambah.
Serangan ini dilaporkan terjadi secara serentak pada pukul 14.00 waktu setempat pada Kamis. Rudal tersebut menghantam kamp-kamp milik beberapa formasi militer pemerintah, termasuk Pasukan Perisai Tanah Air, Pasukan Darurat, dan Wilayah Militer Pertama di Hadramout.
Pasukan Perisai Tanah Air yang dibentuk pada tahun 2022 dengan dukungan penuh Arab Saudi memiliki puluhan ribu personel untuk menjaga perbatasan Marib-Hadramout. Formasi militer ini sebelumnya juga diketahui telah bertempur hebat melawan pasukan Dewan Transisi Selatan pada awal tahun ini.
Sementara itu, Pasukan Darurat dibentuk melalui dekrit presiden pada akhir 2025 di bawah pengawasan koalisi pimpinan Saudi untuk mengamankan front anti-Houthi. Komando Divisi Darurat Pertama menyebut tingginya jumlah korban pada hari Kamis ini disebabkan karena pasukan sedang berkumpul massal untuk sesi latihan pagi.
Pertempuran sengit antara Houthi yang bersekutu dengan Iran dan pasukan pemerintah dukungan Saudi telah meningkat tajam dalam beberapa minggu terakhir. Eskalasi konflik bersenjata ini kembali pecah dan menghancurkan masa empat tahun yang relatif tenang di Yaman.
Kedutaan Besar AS di Yaman menggambarkan serangan brutal tersebut sebagai tindakan yang pengecut. Melalui platform X, misi AS menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga para tentara Yaman pemberani yang tewas hari ini.
"Serangan ini mewakili contoh lain dari terorisme terhadap rakyat Yaman," tegasnya.
Secara terpisah, koalisi pimpinan Saudi menyatakan bahwa serangan Houthi di kota perbatasan Najran telah melukai 11 warga sipil, termasuk seorang wanita dan anak-anak. Pihak Houthi sendiri tidak segera mengklaim tanggung jawab atas insiden penyerangan di wilayah tersebut.
Juru bicara koalisi, Turki al-Maliki, memberikan pernyataan keras untuk mengecam serangan mematikan di Najran tersebut.
"Milisi Houthi teroris melakukan serangan teroris menggunakan proyektil tanpa pandang bulu terhadap objek sipil, yang merupakan pelanggaran mencolok terhadap hukum humaniter internasional," paparnya.
Kelompok Houthi diketahui telah mengumumkan blokade maritim besar-besaran terhadap Arab Saudi pada bulan Juli lalu. Mereka sejak saat itu terus melancarkan serangkaian serangan mematikan terhadap kapal-kapal yang memiliki kaitan dengan tetangga utara Yaman tersebut.
Perang terbaru Yaman ini sebenarnya telah dimulai sejak tahun 2014 ketika kelompok Houthi mengambil alih ibu kota Sanaa. Koalisi pimpinan Saudi kemudian memulai intervensi militer pada tahun berikutnya, namun hingga kini masih belum mampu mengalahkan Houthi sepenuhnya.
Juru bicara Houthi, Yahya Saree, menyatakan bahwa serangan mematikan hari Kamis ini merupakan respons langsung atas penumpukan militer oleh pasukan dukungan Saudi. Ia menyebut langkah pemerintah tersebut ditujukan semata-mata untuk meningkatkan eskalasi konflik secara sengaja.
"Kami menasihati mereka yang disesatkan dan tertipu di antara rakyat kami untuk meninggalkan kamp-kamp musuh Saudi dan kembali ke rumah mereka sebelum terlambat," ungkapnya.
Wakil ketua Otoritas Konsultasi dan Rekonsiliasi Yaman, Abdul Malik al-Mekhlafi, menyatakan bahwa Houthi menargetkan posisi pemerintah akibat tekanan yang makin intensif.
"Ini adalah proyek sejati mereka, melanggengkan perang dan mencegah pemulihan negara," ucapnya.
Houthi maupun pihak pemerintah Yaman diketahui sama-sama telah memobilisasi pasukan mereka secara masif dalam beberapa minggu terakhir. Mobilisasi besar-besaran ini pada akhirnya berujung pada terjadinya bentrokan bersenjata di wilayah Yaman barat dan tengah.
Ketegangan mulai memuncak sebulan lalu ketika Houthi menyebut sebuah pesawat Iran sengaja dicegah mendarat di bandara Sanaa. Pemerintah Yaman kemudian menyatakan pada 13 Juli bahwa pasukan mereka sengaja menyerang bandara tersebut untuk mencegah masuknya pesawat Iran lainnya.
Merespons provokasi tersebut, Houthi meluncurkan rentetan serangan ke bandara Abha milik Arab Saudi yang berhasil dicegat oleh pihak Riyadh. Houthi kemudian langsung mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi pada 20 Juli dan mulai menyerang kapal-kapal di perairan Laut Merah.
Serangan di rute pelayaran tersibuk dunia ini terjadi saat perang AS-Israel terhadap Iran secara efektif telah menutup perairan Selat Hormuz. Situasi panas di sisi lain Semenanjung Arab ini makin memperparah gangguan ekspor minyak dan energi dari kawasan tersebut secara luas.
Koalisi pimpinan Saudi sejak saat itu terus melancarkan serangkaian serangan balasan ke berbagai target Houthi di Yaman barat untuk pertama kalinya sejak 2022. Pihak Houthi selalu membenarkan blokade mereka semata-mata sebagai respons wajar terhadap pengepungan Saudi di wilayah Yaman yang berada di bawah kendalinya.
(tps/luc)

1 hour ago
3
















































