Perang Memanas Saat Libur Panjang, IHSG Dan Rupiah Berpotensi Tertekan

6 hours ago 2
Ekonomi

24 Maret 202624 Maret 2026

Perang Memanas Saat Libur Panjang, IHSG Dan Rupiah Berpotensi Tertekan

Ukuran Font

Kecil Besar

14px

MEDAN (Waspada.id): Memburuknya eskalasi konflik di Timur Tengah selama libur panjang Nyepi dan Idulfitri 2026 berpotensi memberikan tekanan serius terhadap pasar keuangan global, termasuk Indonesia.

Bursa saham di kawasan Asia tercatat bergerak di zona merah, seiring meningkatnya ketidakpastian akibat konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai kondisi tersebut dapat berdampak langsung pada kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat kembali dibuka.

“Jika melihat tren bursa saham Asia yang melemah di awal pekan, maka IHSG berpeluang terkoreksi saat perdagangan dibuka, bahkan potensi pelemahan masih akan berlanjut hingga beberapa hari ke depan,” ujarnya.

Menurutnya, tekanan tidak hanya terjadi pada pasar saham, tetapi juga pada nilai tukar rupiah. Sejumlah sentimen eksternal dinilai memperburuk kondisi, seperti meningkatnya inflasi di Amerika Serikat, penguatan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang mencapai 4,4 persen, serta menguatnya indeks dolar AS yang sempat menembus level 100.

Selain itu, harga minyak mentah dunia juga masih bertahan di level tinggi akibat konflik yang belum mereda, sehingga semakin menambah tekanan terhadap pasar keuangan negara berkembang.

“Seluruh sentimen ini mengarah pada potensi memburuknya kinerja pasar keuangan di Asia, termasuk Indonesia. IHSG berpeluang mengikuti tren pelemahan regional,” jelas Gunawan.

Sementara itu, nilai tukar rupiah diproyeksikan berada di bawah tekanan dan berpotensi mendekati level Rp17.000 per dolar AS. Meski demikian, Bank Indonesia diperkirakan akan melakukan berbagai langkah stabilisasi untuk menahan pelemahan agar tidak menembus level psikologis tersebut.

“Bank Indonesia akan berupaya keras menjaga rupiah agar tidak melemah terlalu dalam di atas Rp17.000 per dolar AS,” tambahnya.

Gunawan juga menyoroti bahwa akumulasi sentimen negatif selama libur panjang justru memperbesar potensi tekanan di sektor keuangan. Kondisi ini diperparah dengan sikap bank sentral AS yang cenderung hawkish serta kemungkinan kenaikan harga minyak dunia.

Di sisi lain, harga emas dunia justru mengalami tekanan di tengah memanasnya tensi geopolitik. Saat ini, harga emas tercatat berada di kisaran 4.365 dolar AS per ons troy. Dengan asumsi nilai tukar sebelum libur, harga emas domestik diperdagangkan di sekitar Rp2,39 juta per gram.

“Tekanan pada emas terjadi karena kombinasi kebijakan moneter ketat dan penguatan dolar AS, meskipun secara historis emas kerap menjadi aset lindung nilai saat konflik,” pungkasnya. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |