Harga Minyak Anjlok 11 Persen, Trump Tunda Serangan Ke Infrastruktur Energi Iran

6 hours ago 3
Ekonomi

24 Maret 202624 Maret 2026

Harga Minyak Anjlok 11 Persen, Trump Tunda Serangan Ke Infrastruktur Energi Iran

Ukuran Font

Kecil Besar

14px

JAKARTA (Waspada.id): Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam pada perdagangan awal pekan, Senin (23/3/2026), setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penundaan serangan militer terhadap infrastruktur energi Iran.

Mengutip laporan CNBC, Selasa (24/3/2026), harga minyak Brent anjlok hampir 11 persen menjadi USD 99,94 per barel, dari sebelumnya sempat menyentuh USD 112 pada akhir pekan lalu. Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) turun lebih dari 10 persen ke level USD 88,13 per barel.

Penurunan harga ini dipicu oleh pernyataan Trump yang menyebut adanya perkembangan positif dalam pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran untuk meredakan konflik di Timur Tengah.

“Saya senang melaporkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah melakukan percakapan yang sangat baik dan produktif mengenai penyelesaian permusuhan di Timur Tengah,” ujar Trump dalam unggahannya di Truth Social.

Trump juga menyatakan telah memerintahkan penundaan serangan militer selama lima hari terhadap fasilitas energi Iran, termasuk pembangkit listrik dan infrastruktur vital lainnya.

Langkah ini diambil setelah sebelumnya Trump memberikan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz, yang merupakan salah satu rute utama distribusi minyak global.

Di sisi lain, bank investasi Goldman Sachs justru menaikkan proyeksi harga minyak secara signifikan. Brent diperkirakan rata-rata mencapai USD110 per barel pada Maret–April, naik dari proyeksi sebelumnya USD 98. Sementara WTI diprediksi berada di kisaran USD 98 hingga USD 105 per barel.

Analis Goldman menilai harga minyak masih berpotensi naik jika gangguan pasokan di Selat Hormuz berlanjut. Jalur tersebut diketahui menyalurkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

“Jika aliran di Hormuz tetap terbatas, harga minyak berpotensi terus meningkat dalam jangka pendek,” tulis analis dalam laporannya.

Bahkan, dalam skenario ekstrem, harga minyak Brent berpotensi melampaui rekor tertinggi tahun 2008 yang sempat mencapai USD 147 per barel, apabila gangguan pasokan berlangsung lebih lama.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, memperingatkan bahwa situasi di Timur Tengah saat ini tergolong sangat serius.
Ia menyebut dampaknya bahkan bisa melampaui krisis minyak pada 1970-an jika konflik terus bereskalasi dan mengganggu pasokan global secara signifikan.

Sebagai langkah antisipasi, negara-negara anggota IEA telah sepakat untuk melepas 400 juta barel minyak dari cadangan strategis guna meredam gejolak pasar. Namun demikian, Birol menegaskan bahwa solusi utama tetap pada pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh.

Dengan ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi, pasar energi global diperkirakan akan terus berfluktuasi dalam beberapa waktu ke depan. (lip6)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |