Achmad Aris, CNBC Indonesia
03 March 2026 16:25
Jakarta, CNBC Indonesia - Eskalasi konflik antara Israel yang dibekingi Amerika Serikat melawan Iran kembali memicu kekhawatiran pasar global, tak terkecuali sektor asuransi.
Sebelumnya, pada Sabtu (28/3/2026) AS dan Israel melancarkan serangan terkoordinasi dengan memborbardir jantung kota Iran hingga menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatulloh Khamenei dan sejumlah pemimpin militer Iran.
Serangan ini kemudian dibalas oleh Iran dengan meluncurkan rudal ke jantung Ibu Kota Israel dan sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah. Ketegangan di Timur Tengah tak hanya berdampak pada geopolitik dan energi, tetapi juga mengubah lanskap risiko bagi industri asuransi dunia.
Dampak paling cepat terasa dialami oleh sektor marine insurance akibat penutupan jalur Selat Hormuz. Jalur ini dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia dan 20% kapal tanker gas. Penutupan jalur ini otomatis akan mempengaruhi rantai pasok dunia yang berpotensi mengerek tingkat inflasi.
Lonjakan risiko keamanan juga akan membuat premi risiko perang dan terorisme melonjak. Dalam kondisi konflik aktif apalagi berkepanjangan, tarif asuransi pelayaran bisa naik signifikan per perjalanan (per voyage), mendorong kenaikan biaya logistik global.
Bahkan beberapa perusahaan asuransi marine besar seperti Gard dan Skuld dari Norwegia, NorthStandard dan London P&I Club dari Inggris, serta American Club yang berbasis di New York, telah membatalkan perlindungan risiko perang untuk kapal-kapal yang beroperasi di wilayah perairan Iran, Teluk, dan perairan sekitarnya.
Kenaikan harga minyak menjadi transmisi risiko berikutnya dari penutupan Selat Hormuz. Jika harga energi bertahan tinggi maka biaya perbaikan kendaraan meningkat, ongkos distribusi dan logistik naik, dan biaya pembangunan dan properti bakal ikutan naik.
Dampaknya, rasio klaim (loss ratio) perusahaan asuransi umum berpotensi naik. Jika premi belum disesuaikan maka combined ratio bisa tertekan. Tekanan ini memang bersifat tidak langsung, tetapi akan signifikan bila konflik berlangsung lebih dari beberapa bulan.
Di sisi lain, pasar reasuransi global cenderung bereaksi cepat terhadap risiko geopolitik. Ketika potensi klaim besar meningkat, reasuradur dapat menaikkan tarif renewal treaty, mengurangi kapasitas untuk zona risiko tinggi, dan meningkatkan deductible.
Kondisi ini bisa menciptakan hard market, di mana perusahaan asuransi primer harus membayar lebih mahal untuk proteksi risiko besar seperti energi, properti industri, dan marine. Padahal, saat ini reasuransi global sedang pada fase softening market setelah beberapa tahun terakhir mengalami hardening.
Dampak bagi Indonesia
Meski Indonesia tidak terlibat langsung dalam konflik, transmisi dampaknya tetap terasa. Setidaknya ada tiga dampak yang akan dirasakan oleh pemain asuransi di Indonesia.
Pertama, tekanan inflasi impor. Sebagai negara pengimpor energi, kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan biaya produksi dan distribusi dalam negeri. Hal ini bisa berdampak pada nilai klaim di sektor kendaraan dan properti, bahkan kesehatan. Khusus klaim asuransi kesehatan, selama ini impor menjadi salah satu faktor pembentuk inflasi medis yang tinggi.
Kedua, klaim dalam dolar AS membengkak. Banyak klaim di sektor asuransi dibayar menggunakan dolar AS seperti marine cargo/hull, aviation, energi & proyek infrastruktur. Depresiasi rupiah akibat sentimen perang Timur Tengah ini dapat meningkatkan nilai klaim perusahaan asuransi di Indonesia.
Ketiga, kenaikan biaya reasuransi. Reasuradur global cenderung memperketat kapasitas dan menaikkan harga saat risiko geopolitik meningkat. Hal ini membuat perusahaan asuransi Indonesia harus membayar lebih tinggi untuk reasuransi yang melindungi eksposur besar.
Perusahaan asuransi di Indonesia banyak mengandalkan reasuransi global untuk risiko besar, termasuk perusahaan reasuransi yang juga mengandalkan retrosesi dengan reasuransi global. Jika tarif internasional naik 10%-20%, margin underwriting domestik bisa tergerus. Kondisi pasar reasuransi yang kembali hardening tentu tidak baik bagi perusahaan asuransi maupun reasuransi lokal.
Keempat, volatilitas investasi & RBC. Konflik geopolitik biasanya memicu sentimen risk-off di pasar keuangan. Jika pasar saham dan obligasi melemah, nilai investasi perusahaan asuransi dapat turun, yang berdampak pada perhitungan Risk Based Capital (RBC).
Hal ini terjadi karena aset investasi merupakan komponen utama pembentukan modal bersih (aset bersih) yang digunakan untuk menutup risiko. Penurunan nilai aset investasi yang terjadi akibat kerugian pasar otomatis akan mengurangi modal sehingga memperkecil rasio RBC dan indikasi kesehatan finansial perusahaan asuransi.
(ach/ach)
Addsource on Google

2 hours ago
2














































