Perak Bergairah Saat Dolar Perkasa, Kok Bisa?

1 hour ago 2

Review Sepekan

Chandra Dwi Pranata,  CNBC Indonesia

20 September 2026 08:15

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga perak terpantau bergairah sepanjang pekan ini, ditopang melemahnya harga minyak yang membantu meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi yang berkepanjangan.

Merujuk Refinitiv, harga perak di perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (18/6/2026) ditutup di posisi US$66,23 per troy ons, melesat 1,6% dari perdagangan sehari sebelumnya. Sepanjang pekan ini, harga perak melonjak 2,76% secara point-to-point (ptp).

Chris Gaffney, Presiden World Markets di EverBank, menjelaskan penurunan harga minyak mengurangi tekanan inflasi karena minyak menjadi pendorong utama inflasi secara keseluruhan.

"Investor logam mulia sebelumnya telah memperkirakan kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) dan mengambil banyak posisi short untuk memanfaatkan potensi aksi jual emas. Posisi-posisi tersebut kini dengan cepat ditutup," ujar Chris Gaffney, dikutip dari Reuters, Minggu (20/9/2026).

Harga minyak mentah anjlok 2% pada Jumat sejalan dengan meredanya kekhawatiran mengenai gangguan pasokan dari Arab Saudi

Penurunan harga minyak memberikan sedikit kelegaan terhadap kekhawatiran inflasi. Namun, risiko guncangan pasokan minyak dari Timur Tengah masih menjadi perhatian utama pasar.

Selain itu, kenaikan perak sejalan dengan kenaikan emas, meski dolar AS bergerak cukup liar di pekan ini. Indeks dolar masih bertahan di level 100 untuk tiga hari beruntun sementara imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun tetap menembus 5% atau level tetringgi sejak 2007.

Layaknya emas, perak juga tidak menawarkan imbal hasil, sehingga kenaikan imbal hasil US Treasury biasanya akan membuat emas dan perak cenderung tidak menarik.

Dua anomali menunjukkan jika pergerakan harga minyak kini sangat dicermati pasar karena langsung terkait dengan laju inflasi dan bisa berimbas besar kepada suku bunga.

The Federal Reserve (The Fed) pada Rabu menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4% pada Rabu pekan ini dan mengisyaratkan masih adanya kemungkinan kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.

Menurut perangkat CME FedWatch, pelaku pasar kini melihat peluang sekitar 55% untuk kenaikan suku bunga AS berikutnya ketika para bank sentral bertemu pada Oktober 2026.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(chd)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |