Pengusaha Pede Tarif Dagang Trump Untungkan RI, Ini Alasannya

3 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Kesepakatan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) yang diteken Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump dinilai memberi dampak strategis bagi industri nasional, khususnya tekstil dan produk tekstil (TPT). Pembebasan tarif 0% untuk produk ekspor unggulan RI, termasuk TPT dan garmen ke pasar AS melalui mekanisme Tariff Rate Quota (TRQ) disebut mampu memperkuat ketahanan rantai pasok industri dalam negeri.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sanny Iskandar, mengatakan skema tarif 0% berbasis TRQ untuk produk garmen yang menggunakan kapas asal AS menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas pasokan bahan baku industri tekstil nasional.

Sanny mengatakan, industri tekstil dan garmen Indonesia saat ini masih mengimpor kapas lebih dari US$1,5 miliar per tahun, dengan sekitar US$150 juta atau 10% berasal dari Amerika Serikat. Menurutnya, kepastian pasokan bahan baku tersebut krusial untuk menjaga struktur biaya industri sekaligus meningkatkan daya saing ekspor secara berkelanjutan.

Selain memperkuat rantai pasok, ia menilai pembebasan tarif juga tidak selalu menjadi ancaman bagi industri dalam negeri. Untuk komoditas yang belum dapat dipenuhi dari dalam negeri, impor justru berfungsi sebagai penopang aktivitas industri nasional.

"Untuk komoditas yang memang belum dapat dipenuhi dari dalam negeri, seperti kapas, kedelai, dan gandum, impor justru berfungsi sebagai input intermediate yang menopang industri nasional. Dalam konteks ini, pembebasan tarif justru dapat meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya produksi domestik," kata Sanny kepada CNBC Indonesia, Jumat (20/2/2026).

Sanny menilai, dengan kepastian bahan baku dan struktur biaya yang lebih efisien, industri tekstil dan garmen Indonesia memiliki ruang untuk menjaga daya saing sekaligus memperkuat kinerja ekspor ke pasar AS.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta menilai, kesepakatan dagang tersebut cukup adil bagi pelaku usaha tekstil dan berpotensi mendorong penguatan integrasi industri dari hulu ke hilir.

"Ini kesepakatan sudah cukup bagus dan fair (adil), dan bisa mendorong penguatan integrasi industri," ujar Redma dihubungi terpisah.

Ia kemudian menyinggung fasilitas tarif 0% disertai syarat penggunaan bahan baku asal AS. Selama ini, katanya, industri garmen Indonesia masih banyak bergantung pada bahan baku dari China.

"Jadi kalau garmen mau ekspor, mereka harus menggunakan bahan baku dari AS, di mana selama ini mereka sebagian besar menggunakan bahan baku dari China," katanya.

Menurut Redma, ketentuan tersebut justru membuka peluang bagi industri hulu tekstil nasional, karena kapas asal AS yang diolah di dalam negeri dapat meningkatkan utilisasi pabrik benang dan kain.

"Dengan kesepakatan ini, industri garmen akan cari bahan baku dari dalam negeri yang berbahan kapas dari AS, sehingga produsen kain dan benang bisa menaikkan utilisasi-nya, dan ada tambahan energi untuk pemulihan industri," pungkasnya.

(dce)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |