Jakarta, CNBC Indonesia - Industri baja nasional menghadapi tekanan dari meningkatnya volume impor di tengah melemahnya permintaan baja di sejumlah pasar utama dunia. Kondisi ini menjadi perhatian karena produk baja murah dari negara dengan kapasitas produksi besar berpotensi mencari pasar baru, termasuk Indonesia.
Direktur Eksekutif The Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara mengatakan, kondisi pasar baja Indonesia tidak bisa disederhanakan hanya dengan membandingkan porsi produk lokal dan impor secara agregat. Perbedaan jenis, spesifikasi, hingga kemampuan produksi domestik membuat peta persaingan setiap produk berbeda.
"Untuk market share antara produk domestik dan impor, kami belum menggunakan satu angka agregat karena komposisi produk baja sangat beragam dan kebutuhan impor berbeda menurut jenis, grade, spesifikasi, serta kemampuan produksi di dalam negeri. Karena itu, pembagiannya akan lebih tepat dilihat per kelompok produk," kata Harry kepada CNBC Indonesia, Rabu (26/8/26).
Data perdagangan menunjukkan tekanan impor memang semakin terlihat sepanjang paruh pertama 2026. Pada saat yang sama, ekspor produk besi dan baja Indonesia justru mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan data perdagangan BPS yang diolah IISIA, volume ekspor besi dan baja HS 72 pada Semester I 2026 mencapai 10,46 juta ton, turun 7,48% dibandingkan 11,30 juta ton pada Semester I 2025. Sebaliknya, volume impor mencapai 7,94 juta ton atau naik 13,65% dari 6,99 juta ton.
Perubahan arus perdagangan tersebut terjadi ketika pasar baja China masih menghadapi persoalan permintaan domestik. Harga ekspor HRC China pada 10-14 Agustus kembali melemah menjadi sekitar US$481 per ton FOB, sementara pembeli di pasar internasional terus menekan harga.
Tekanan tersebut tidak hanya perlu dilihat dari pergerakan HRC. Pergeseran jenis produk, spesifikasi, maupun negara tujuan ekspor dapat menjadi jalur lain bagi produk baja untuk masuk ke pasar Indonesia.
"Industri baja China masih menghadapi excess capacity dan lemahnya permintaan domestik, sehingga tekanan untuk mencari pasar ekspor tetap besar. Kondisi tersebut dapat meningkatkan potensi pengalihan ekspor ke berbagai pasar, termasuk Indonesia," ujar Harry.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]

11 hours ago
1

















































