Jakarta, CNBC Indonesia - Kematian seorang ilmuwan NASA bernama Michael Hicks memicu tanda tanya besar setelah ia dilaporkan meninggal tanpa sebab yang jelas dan tanpa autopsi.
Kasus ini memicu pertanyaan apakah ia merupakan bagian dari pola kematian yang terkait dengan program antariksa dan nuklir Amerika Serikat.
Hicks meninggal pada Juli 2023 di usia 59 tahun. Ia diketahui bekerja selama lebih dari dua dekade di Jet Propulsion Laboratory (JPL) dan terlibat dalam berbagai misi penting seperti DART, Near Earth Asteroid Tracking, Dawn, hingga Deep Space 1. Fokus risetnya adalah sifat fisik asteroid dan komet. Salah satu obituarinya menyebut ia memiliki ketertarikan terhadap sains yang dipadukan dengan apresiasi mendalam terhadap seni.
Namun, kematiannya disebut tidak memiliki penjelasan resmi. Obituari Hicks bahkan hanya meminta donasi atas namanya diberikan ke organisasi Alcoholics Anonymous. Tidak ada informasi penyebab kematian maupun autopsi yang dilakukan.
Kasus Hicks bukan satu-satunya. Mantan direktur kelompok pemrosesan material JPL, Monica Reza, dilaporkan menghilang saat mendaki pada Juni 2025 dan hingga kini belum ditemukan.
Selain itu, pensiunan jenderal Angkatan Udara AS, William Neil McCasland, juga menghilang dari rumahnya tanpa membawa ponsel dan kacamata.
Insiden lain juga menimpa astrofisikawan JPL, Carl Grillmair, yang tewas ditembak di beranda rumahnya. Ilmuwan JPL lain, Frank Maiwald, meninggal pada 2024 tanpa penjelasan jelas.
Tak hanya itu, dua pekerja di Los Alamos National Laboratory, yakni Anthony Chavez dan Melissa Casias, juga menghilang dalam kondisi misterius setelah meninggalkan rumah tanpa barang penting.
Mantan Asisten Direktur Federal Bureau of Investigation, Chris Swecker, menilai deretan kasus tersebut patut dianggap mencurigakan. Menurutnya, ilmuwan yang terlibat dalam teknologi strategis kerap menjadi target intelijen asing.
"Anda bisa mengatakan semua ini mencurigakan, dan ini adalah ilmuwan yang bekerja pada teknologi penting," kata Swecker kepada Daily Mail, dikutip dari NYPost, Rabu (15/4/2026).
Ia menyebut sejumlah negara seperti China, Rusia, Iran hingga Korea Utara telah lama berupaya mengakses teknologi sensitif Amerika Serikat.
(dem/dem)
Addsource on Google

6 hours ago
6
















































