Peneliti BRIN Temukan "Emas Tersembunyi" di Bawah Laut Indonesia

6 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Tim peneliti di Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE) di bawah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), berhasil mengidentifikasikan 51 spesies baru sepanjang 2025. Salah satu temuan ini disebut sebagai "emas tersembunyi" di perairan Indonesia. 

Temuan tersebut terdiri dari 32 spesies fauna, 16 spesies flora, dan 3 spesies mikroba. Dari total itu, sebanyak 49 spesies berasal dari Indonesia, satu mikroalga dari Kaledonia Baru, dan satu krustasea dari Vietnam.

Spesies yang ditemukan mencakup berbagai kelompok organisme, mulai dari serangga, ikan, amfibi, reptil, moluska, hingga tumbuhan berbunga dan anggrek. Spesimen dikumpulkan dari berbagai wilayah seperti Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua, lalu dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional sepanjang 2025.

Kepala PRBE BRIN Arif Nurkanto mengatakan temuan ini menjadi bukti bahwa kekayaan biodiversitas Indonesia masih sangat besar dan belum sepenuhnya terungkap.

"Puluhan temuan spesies baru flora, fauna, dan mikroba tahun 2025 membuka cakrawala tentang pentingnya riset, ekspedisi, dan konservasi sumber daya hayati. Di tengah laju kepunahan yang terus berpacu dengan waktu, penemuan ilmiah menjadi harapan agar kekayaan alam tidak hilang sebelum sempat dikenal," ujarnya dikutip dari laman resmi BRIN, Selasa (24/2/2026).

Sebagian besar spesies yang ditemukan merupakan endemik, yakni hanya hidup di lokasi tertentu. Status ini membuatnya memiliki nilai strategis dalam mendukung kebijakan konservasi sekaligus memperkuat basis data biodiversitas nasional.

Apresiasi juga datang dari kalangan akademisi. Guru Besar Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada sekaligus Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI), Prof. Budi Setiadi Daryono, menilai pengumpulan data primer dari spesies baru merupakan fondasi penting dalam menjaga ekosistem.

Menurutnya, risiko terbesar adalah ketika ekosistem rusak lebih dulu sebelum spesies berhasil didata. Tanpa basis data yang kuat, status kepunahan suatu spesies sulit dipastikan.

"Penentuan spesies kini semakin presisi dan datanya semakin valid. Ini yang perlu terus didorong pemerintah melalui kegiatan eksplorasi," katanya dikutip dari website resmi Universitas Gajah Mada.

Budi juga menyoroti kekayaan biodiversitas Indonesia tidak hanya berada di kawasan hutan, tetapi sebagian besar justru ada di wilayah laut. Dengan dominasi wilayah perairan, pendataan biodiversitas laut, kata ia, dinilai perlu menjadi prioritas.

"Biodiversitas di laut adalah emas tersembunyi. Jika datanya sudah lengkap, harus didorong untuk konservasi berkelanjutan dan melihat potensinya bagi pengembangan industri," ujarnya.

Dalam penyusunan Indeks Biodiversitas Indonesia (IBI), diperlukan sedikitnya delapan indikator utama, antara lain sensus populasi spesies, estimasi populasi, kelengkapan populasi, indeks populasi, biomassa, hingga catch per unit effort. Indeks ini berfungsi memantau tren populasi sekaligus menjadi dasar kebijakan konservasi dan pembangunan berkelanjutan.

Selama 2020-2024, tercatat telah terhimpun 16.312 data keanekaragaman hayati yang mencakup 1.912 famili, 4.606 genus, dan 7.904 spesies. Namun data tersebut masih tersebar di berbagai lembaga dan belum terintegrasi secara optimal.

Melalui kolaborasi KOBI bersama UGM, data tersebut kini dihimpun untuk disusun menjadi indeks biodiversitas nasional. Para peneliti berharap dukungan pemerintah terhadap riset dan eksplorasi, terutama di wilayah yang minim data seperti kawasan laut, terus diperkuat agar kekayaan hayati Indonesia tidak hilang sebelum teridentifikasi secara ilmiah.

"Kita berharap data-data biodiversitas yang sudah ada terus dilengkapi, baik melalui data sekunder maupun data primer dari hasil eksplorasi. Negara perlu mensupport para ilmuwan dan pemerhati lingkungan agar kekayaan hayati Indonesia dapat terungkap dan tetap terjaga," ujar ia.

(hsy/hsy)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |