
SYAIFUL ANWAR adalah salah satu tokoh masyarakat yang disegani di Aceh Timur. Pria yang akrab disapa Nek Pon ini menjadikan Harian Waspada sebagai ‘santapan pagi’ setiap selesai salat dhuha. Bahkan, selesai menbaca satu per satu halaman lalu koran bacaannya itu disimpan rapi di lemari runahnya di Gampong Baro Idi Cut, Kecamatan Darul Aman, Kabupaten Aceh Timur.
Kini, Nek Pon telah berpulang ke rahmatullah setelah menderita sakit komplikasi sejak dua bulan yang lalu. Syaiful Anwar tutup usia setelah beberapa hari dirawat di RSUD Dr Zubir Mahmud Aceh Timur di Idi, Kamis (3/4) sekira pukul 01:30 dini hari.
Semasa hidupnya, Nek Pon sempat menerima penghargaan dari PT Harian Waspada berupa Buku Aceh Sepanjang Abad yang dikarang oleh Pendiri Harian Waspada H. Muhammad Said. Buku tersebut diserahkan Pemimpin Umum PT Harian Waspada dr. Hj. Rayati Syafrin, MBA, MM, dalam kegiatan Road to Dawah (RTD) Harian Waspada di Aceh Timur, tepatnya di Masjid Agung Darussalihin Idi, Jumat (19/12/2014) silam.
Diberitakan, Nek Pon telah menjadi pembaca setia Waspada sejak tahun 1978. Tercatat, beliau satu-satu pembaca Waspada tertua di pantai timur Provinsi Aceh hingga awal tahun 2025.
Anak dari pasangan H. Muhammad Saidan – Hj. Ainsyah itu lahir di Idi Cut, 07 Januari 1951. Ketagihannya membaca Harian Waspada sejak melajang dan bekerja di di Sumatera Utara tahun 1978. Setelah tiga tahun merantau ke provinsi tetangga, lalu dia kembali ke kampung halamannya tahun 1981.
Di Aceh Timur awalnya Syaiful Anwar kesulitan mendapatkan koran Harian Waspada, namun setelah sebulan kemudian akhirnya dia menemukan H. Jamaluddin sebagai Penyalur Resmi Harian Waspada di Kota Idi, Aceh Timur. Setelah sekian lama berlangganan di Toko Dona Salima Kota Idi, lalu pasca damai Nek Pon pindah berlangganan ke Ihsan Ishak sebagai Agen Penyalur Idi Cut sejak 2007 hingga 2025.
Jika dihitung, Nek Pon menjadi pembaca setia Harian Waspada selama 47 tahun (1978-2025). “Dulu Nek Pon sepengetahuan kami memesan koran Harian Waspada ke Toko Dona Salima Idi. Tapi seiring bertambahnya penyalur resmi Harian Waspada hampir disetiap kecamatan di Aceh Timur, Nek Pon mendapatkannya di Toko IDA, Agen Resmi Penyalur Koran Waspada di Idi Cut,” kata A. Radat, tetangga Nek Pon di Idi Cut.

Dia juga mengaku menyukai pemberitaan koran Harian Waspada, karena sajiannya singkat, padat dan sempurna serta tidak bertele-tele. “Bahkan isinya dilengkapi dengan data dan fakta yang diperoleh dari hasil wawancara dan observasi atau pengamatan si wartawan,” kata A. Radat, seraya mengaku, sepulang kerja dia selalu pergi ke rumah Nek Pon untuk membaca koran Harian Waspada.
Nek Pon meninggalkan seorang istri dan tiga anaknya. Ketiga putra-putrinya yakni Mukhlisuddin, Syafriana dan Muhammad Reza. Ketiga anaknya telah tumbuh dewasa dan berkeluarga. Informasi meninggalnya Nek Pon menyebar cepat melalui berbagai pesan singkat WhatsApp. Sejak pagi, pemuda dan masyarakat berdatangan menyiapkan tarup dan membentang tikar menunggu dipulangkannya jenazah almarhum dari rumah sakit.
Selesai dimandikan dan dikafani, ratusan jamaah menyalati jenazah almarhum di halaman rumahnya. Bahkan sebagian jemaah yang terlambat ikut menyusul menyalatkan kembali. Tepat pukul 15.30 Wib, jenazah dibawa ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Komplek Masjid Baitul Muttaqin Idi Cut, Aceh Timur.
H. Muhammad Ishak
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.