Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
24 February 2026 19:50
Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar kopi global memasuki fase koreksi setelah reli panjang sejak tahun lalu.
Harga yang sempat bertahan tinggi mulai melemah dalam beberapa pekan terakhir. Kontrak arabika turun ke posisi terendah lebih dari satu tahun, sementara robusta jatuh ke titik terendah dalam beberapa bulan. Tekanan datang bersamaan dari sisi produksi, ekspor, dan persediaan.
Perubahan arah harga dipicu revisi perkiraan panen di negara produsen utama. Pelaku pasar mulai menghitung ulang keseimbangan pasokan setelah sejumlah laporan menunjukkan produksi berpotensi meningkat. Perubahan ekspektasi ini cepat tercermin pada harga berjangka.
Dalam kondisi seperti ini, pasar biasanya bergerak lebih sensitif terhadap data panen dibanding faktor lain.
Lembaga prakiraan pertanian Brasil, Companhia Nacional de Abastecimento (Conab) memperkirakan produksi kopi Brasil tahun 2026 mencapai 66,2 juta karung. Angka ini naik 17,2% dibanding tahun sebelumnya. Produksi arabika diperkirakan mencapai 44,1 juta karung, sementara robusta sekitar 22,1 juta karung. Jika terealisasi, volume tersebut menjadi yang terbesar dalam catatan lembaga tersebut.
Curah hujan memperkuat proyeksi tersebut. Laporan dari Somar Meteorologia mencatat wilayah Minas Gerais menerima hujan 62,8 mm selama pekan yang berakhir 13 Februari. Volume ini sekitar 138% dibanding rata-rata historis. Minas Gerais merupakan pusat produksi arabika Brasil sehingga kondisi cuaca langsung memengaruhi estimasi panen.
Tekanan harga juga datang dari Asia Tenggara. Statistik resmi Vietnam mencatat ekspor kopi Januari mencapai 198 ribu ton atau naik 38,3% dibanding tahun sebelumnya. Sepanjang 2025, ekspor mencapai 1,58 juta ton. Produksi musim 2025/2026 diperkirakan sekitar 1,76 juta ton atau setara 29,4 juta karung.
Pergerakan stok memperkuat arah pasar. Persediaan arabika yang dipantau bursa sempat turun ke sekitar 396 ribu karung pada November lalu. Awal Januari jumlahnya naik ke sekitar 461 ribu karung. Stok robusta juga meningkat dari sekitar 4.012 lot pada Desember menjadi sekitar 4.662 lot pada akhir Januari.
Beberapa faktor masih menahan penurunan lebih dalam. Data perdagangan Brasil menunjukkan ekspor Januari sekitar 141 ribu ton, turun 42,4% dibanding tahun lalu. Volume yang lebih kecil membatasi tambahan pasokan jangka pendek.
Produksi dari Federación Nacional de Cafeteros de Colombia ikut berperan. Laporan Januari mencatat produksi kopi Kolombia sekitar 893 ribu karung. Angka ini turun 34% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Gambaran jangka menengah masih mengarah pada pasokan besar. USDA Foreign Agricultural Service memperkirakan produksi kopi dunia musim 2025/2026 mencapai 178,8 juta karung. Estimasi tersebut menjadi rekor baru. Produksi robusta tumbuh lebih cepat dibanding arabika. Stok akhir musim diperkirakan sekitar 20,1 juta karung.
Penurunan harga kopi dalam beberapa pekan terakhir memperlihatkan bagaimana pasar bergerak cepat ketika estimasi produksi berubah.
Selama dua tahun terakhir harga didorong kekhawatiran pasokan. Sekarang faktor yang sama bekerja ke arah sebaliknya. Perkiraan panen besar membuat pelaku pasar mengurangi posisi beli.
Arah harga ke depan akan sangat tergantung pada realisasi panen Brasil. Jika produksi mendekati proyeksi saat ini, pasokan global berpotensi longgar hingga musim berikutnya. Kondisi ini membuka peluang harga bertahan lemah lebih lama. Sebaliknya, gangguan cuaca masih bisa mengubah situasi dalam waktu singkat. Untuk sementara, pasar kopi bergerak dengan asumsi pasokan mencukupi.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google

5 hours ago
1















































