Jakarta, CNBC Indonesia - Momentum penguatan rupiah masih berlanjut pada pembukaan perdagangan hari ini. Mata uang Garuda kembali bergerak di zona hijau terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Merujuk data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan Kamis (6/8/2026), rupiah terapresiasi sebesar 0,14% ke posisi Rp17.900/US$.
Penguatan tersebut melanjutkan kenaikan tajam pada perdagangan sebelumnya. Pada Rabu (5/8/2026), rupiah ditutup menguat 0,50% ke level Rp17.925/US$ setelah pertumbuhan ekonomi Indonesia melampaui perkiraan pasar.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah tipis 0,01% ke posisi 99,669.
Pergerakan rupiah hari ini masih mendapatkan dukungan dari sentimen positif pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026 serta pelemahan dolar AS di pasar global.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal II-2026. Realisasi tersebut lebih tinggi daripada konsensus 15 lembaga dan institusi yang memperkirakan pertumbuhan sebesar 5,12%.
Meski melambat dari pertumbuhan 5,61% pada kuartal I-2026, ekonomi Indonesia mampu tumbuh 3,58% secara kuartalan (quarter to quarter/qtq), berbalik dari kontraksi 0,77% pada kuartal sebelumnya.
Pertumbuhan yang melampaui perkiraan menunjukkan aktivitas ekonomi domestik masih bertahan di tengah tekanan global. Kondisi tersebut memberikan sentimen positif terhadap aset keuangan Indonesia, termasuk rupiah.
Dari eksternal, pelemahan dolar AS turut membawa angin segar bagi mata uang Garuda. Greenback tertekan seiring melandainya ekspektasi inflasi AS, yang didukung oleh penurunan harga minyak dunia.
Harga minyak melemah setelah muncul perkembangan positif mengenai jalur pelayaran di Selat Hormuz. Iran dan Oman telah menyepakati koordinat jalur pelayaran dan tengah menyiapkan pengumuman bersama, selama tidak ada gangguan dari pihak lain.
Peluang tercapainya kesepakatan tersebut turut meredakan kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Penurunan harga minyak kemudian mengurangi tekanan inflasi dan mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS turun sekitar 1-2 basis poin.
DXY pun kembali melemah setelah sempat mendekati level 100 pada perdagangan Selasa. Meski demikian, pergerakan dolar masih cenderung terbatas karena pelaku pasar menantikan laporan ketenagakerjaan AS periode Juli yang akan dirilis pada Jumat besok.
Data tersebut akan menjadi petunjuk berikutnya bagi pasar untuk membaca arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve /The Fed).
(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
3

















































